DlSAlN SISTEM REKONSlLlASl DATA HASIL KONVERSI DARl SISTEM YANG TERDlSTRlBUSl KE SISTEM YANG TERSENTRALISASI (Studi Kasus Pada PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO)

Setyadi, Heru (2002) DlSAlN SISTEM REKONSlLlASl DATA HASIL KONVERSI DARl SISTEM YANG TERDlSTRlBUSl KE SISTEM YANG TERSENTRALISASI (Studi Kasus Pada PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO). Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
e6b-01-herusetyadi-cover.pdf - Published Version

Download (57kB)
[img]
Preview
PDF
e6b-02-herusetyadi-ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (166kB)
[img]
Preview
PDF
e6b-03-herusetyadi-daftarisi.pdf - Published Version

Download (84kB)
[img]
Preview
PDF
e6b-04-herusetyadi-bab1pendahuluan.pdf - Published Version

Download (224kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Perkembangan teknologi yang sangat pesat khususnya teknologi komputer, komunikasi, transportasi mendorong timbulnya globalisasi dunia yang mempunyai dampak stratejik yaitu berkurangnya batas-batas negara dalam konteks ekonomi dan bisnis. Dalam era globalisasi, bisnis dan teknologi akan meniadi satu kesatuan yang tidak akan terpisahkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi sangat mempengaruhi' perkembangan industri perbankan dan merupakan salah satu unsur yang mendukung bank untuk berperan sebagai pemain utama dalam pasar bisnis yang akan datang. Persaingan antar industri perbankan pada tahun terakhir ini banyak dipengaruhi oleh teknologi khususnya teknologi informasi, karena penguasaan teknologi mempunyai peranan yang sangat besar dalam menciptakan keunggulan kompetitif. Untuk menghadapi persaingan bisnis perbankan yang timbul pada masa-masa sekarang ini ataupun di masa mendatang, BRI telah melakukan suatu perubahan yang radikal dalam bidang teknologi. Perubahan yang sangat mendasar tersebut di atas adalah perubahan konsep arsitektur aplikasi dari distributed menjadi centralized, konsep pemrosesan data dari distributed menjadi centralized, dan konsep arsitekiur hardware. Untuk merealisasikan perubahan tersebut di atas BRI telah memutuskan untuk menggunakan paket software Silverlake Integrated Banking System sebagai software Core Banking BRI. Dan sekarang ini software Core Banking BRI diberi nama BRINETS. Salah satu tujuan penggunaan BRINETS adalah untuk menggantikan sistem-sistem BRI yang lama, seperti OLSIB, TAPSUN, TRANSEL, CEPEBRI, dan STU. Penggantian sistem-sistem tersebut di atas tidak dapat dilakukan seperti halnya membalik telapak tangan, tetapi harus melalui banyak tahapan. Dan perlu diketahui juga bahwa keseluruhan sistem yang dimiliki BRI saat ini adalah sistem yang distributed, sedangkan BRINETS merupakan sistem yang centralized. Dengan demikian sangat signifikan sekali bedanya antara sistem lama dengan sistem baru yang dimiliki BRI. Mengingat BRI merupakan bank yang telah beroperasi selama 107 tahun, maka BRI sudah mempunyai jutaan data nasabah. Oleh karena itu tahapan yang sangat penting adalah proses migrasi data dari sistem lama ke sistem baru yaitu BRINETS. Tahapan tersebut sering dikenal dengan konversi data. Proses tersebut benar-benar merupakan tahapan yang sangat krusial dan riskan, karena hams ada jaminan bahwa seluruh data nasabah maupun non-nasabah BRI yang terdapat di dalam sistem lama dapat dikonversi seluruhnya ke dalam sistem BRINETS, selama data tersebut valid. Apabila ternyata terdapat satu atau lebih data yang tidak terkonversi, maka akan menjadi permasalahan baru di masa yang akan datang. Pada tahapan ini pula yang menjadi sorotan bagi Auditor bahwa konversi data rnerupakan proses yang benar-benar penting. Untuk melihat bahwa tahapan konversi data tersebut hasilnya benar dan dapat diterima oleh seluruh pihak baik dari unit kerja yang dikonversi maupun dari para Auditor, maka terhadap hasil konversi data tersebut wajib dilakukan rekonsiliasi data antara data yang berasal dari sistem lama dengan data yang telah dikonversi ke dalam sistem baru (BRINETS). Sarnpai dengan pertengahan September 2002, unit kerja BRI yang telah diimplementasikan sistern BRINETS ada sejumlah 362 unit kerja. Tiga ratus enam puluh dua unit kerja tersebut meliputi Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, dan Unit Mikro yang tersebar di tujuh wilayah BRI, yaitu DKI Jakarta, Bandung, Jogjakartalsemarang, surabaya, denpasarp, palembang, dan Padang. Pelaksanaan rekonsiliasi data hasil konversi di tuiuh wilavah tersebut di atas dilakukan dengan manual. Dengan demikian dapat dibayangkan bahwa hasil rekonsiliasi akan banyak menjadi pertanyaan oleh banyak pihak, karena pengecekan data hasil konversi selama ini dilakukan hanya terbatas pada data sampel (tidak seluruh rekening), waku yang diperlukan untuk memeriksa data hanya terbatas. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, rnaka dapat dibuat suatu perurnusan masalah yaitu "Bagaimana mendisain suatu sistem rekonsiliasi data hasil konversi dari sistem yang terdistribusi ke sistem yang tersentralisasi, secara otomatis"? Dengan dernikian sudah tarnpakjelas bahwa tujuan geladikarya tersebut adalah membuat suatu disain sistem rekonsiliasi data dari sistem vana terdistribusi ke sistern yang tersentralisasi. Adapun ruang lingkup dari geladikarya ini adalah hanya mendisain sistem rekonsiliasi untuk salah satu sistem yang terdistribusi yaitu OLSIB, tidak termasuk TAPSUN, CEPEBRI, dan STU. Kegiatan geladikarya tersebut di atas dilaksanakan di Bank Rakyat Indonesia tepatnya di Tim Re-Engineering Divisi Teknologi Sistem Informasi. Kegiatan geladikarya dirnulai sejak bulan April 2002 sampai dengan Agustus 2002. Adapun metode geladikarya yang digunakan adalah studi kasus, yang tujuannya adalah agar dapat memperoleh garnbaran atas permasalahan rekonsiliasi hasil konversi data yang terjadi di BRI, secara detail dan jelas. Sedangkan teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan pendekatan wawancara dan diskusi dengan pihak manajemen khususnya Tim Re- Engineering BRI, rnelakukan pengamatan langsung di unit kerja yang diimplementasikan sistem BRINETS, serta melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan konversi dan rekonsiliasi data hasil konversi. Adapun metode disain yang digunakan adalah System Development Life Cycle (SDLC). Hasil analisa yang dilakukan pada saat geladikarya terhadap system rekonsiliasi yang existing adalah sistem rekonsiliasi data yang ada sekarang ini sangat menyita waktu para implementor karena banyaknya data yang hams diperiksa dan dicek tetapi waktunya sangat terbatas sekali. Pada akhirnya para implementor tidak melakukan pengecekan data secara menyeluruh tetapi hanya terhadap data sampel. Hal tersebut menjadi masalah di kemudian hari pada saat unit kerja yang bersangkutan sudah running dengan sistem baru. Permasalahan baru muncul setelah ada keluhan dari nasabah dan hal ini berlangsung beberapa lama setelah konversi berlalu. Untuk dapat merealisasikan disain tersebut jika dilihat dari sisi kebutuhan hardware, network, maupun infrastruktur tidak akan menambah investasi baru, sehingga dapat rnenggunakan sarana dan prasaran yang telah dimiliki BRI selama ini. Selain itu dari sisi operasionalpun tidak berrnasalah, karena dengan adanya disain tersebut justru akan rnempermudah pengguna dalam rnelakukan pengecekan hasil rekonsiliasi. Pada rnulanya terdapat sekitar 28 laporan yang harus diperiksa secara manual, narnun dengan disain yang baru nanti hanya terdapat dua laporan yang harus diperiksa dan laporan inipun sudah merupakan rekapitulasi. Dengan demikian alternatif solusi yang dapat diusulkan setelah dilakukan investigasi terhadap permasalahan yang rnuncul dan analisis sistern yang ada, rnaka disain rekonsiliasi data secara otomatis terhadap data hasil konversi dari sistem yang terdistribusi ke sistem yang tersentralisasi harus direalisasikan dengan segera. Sebagai kesimpulan dengan dibuatnya disain rekonsiliasi secara otomatis, rnaka akan mernpunyai implikasi terhadap perusahaan sebagai berikut: 1) waktu yang diperlukan untuk konversi menjadi lebih efisien 2) pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh rekening 3) hasil konversi akan lebih dapat dipercaya oleh unit kerja yang bersangkutan maupun pihak auditor 4) apabila ternyata terjadi perbedaan data, akan dapat diketahui secara langsung dan cepat, artinya tidak menunggu datangnya keluhan dari nasabah 5) dapat menurunkan biaya lembur 6) jurnlah laporan yang diperiksa hanya ada 2 Selain implikasi tersebut di atas, untuk mewujudkan disain ini juga tidak perlu ada investasi baru di sisi hardware, network, dan infrastruktur lainnya. Adapun saran penulis kepada perusahaan adalah apabila disain tersebut diterima, maka dapat diusulkan untuk dipresentasikan kepada auditor, yang tujuannya adalah untuk dapat menambah rasa keyakinan auditor terhadap hasil rekonsiliasi data konversi. Dan selanjutnya apabila pihak auditorpun menerima, segera Divisi TSI dapat menindaklanjuti dengan pembuatan programnya, sehingga rencana tersebut dapat betul-betul terwujud dan bermanfaat bagi unit kerja serta pihak-pihak yang memerlukan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Disain Sistern Rekonsiliasi Data Hasil Konversi, Studi Kasus
Subjects: Manajemen Sistem Informasi
Depositing User: Staff-3 Perpustakaan
Date Deposited: 28 Dec 2011 06:29
Last Modified: 28 Dec 2011 06:29
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/415

Actions (login required)

View Item View Item