Kinerja keuangan perusahaan manufaktur publik 2007-2008 membandingkan kinerja rasio keuangan dengan economic vallue added (eva)

Susanto, Ahmad (2010) Kinerja keuangan perusahaan manufaktur publik 2007-2008 membandingkan kinerja rasio keuangan dengan economic vallue added (eva). Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
E30-01-Ahmad-Cover.pdf - Published Version

Download (84kB)
[img]
Preview
PDF
E30-02-Ahmad-Abstrak.pdf - Published Version

Download (70kB)
[img]
Preview
PDF
E30-03-Ahmad-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (72kB)
[img]
Preview
PDF
E30-04-Ahmad-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (73kB)
[img]
Preview
PDF
E30-05-Ahmad-BabIPendahuluan.pdf - Published Version

Download (75kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Perusahaan-perusahaan manufaktur publik di Indonesia mengukur kinerja keuangannya kebanyakan dilakukan dengan melihat kinerja rasio keuangan yaitu dengan menganalisis laporan keuangan neraca dan rugi laba. Kelemahan pengukuran kinerja dengan metode ini adalah belum diperhitungkan besarnya biaya modal dan resiko. Para investor dan pemilik modal belum mendapatkan gambaran tentang biaya modal dan resiko atas modal yang ditempatkannya. Disamping itu hasilnya pengukuran kinerja rasio keuangan kurang bisa dipertanggungjawabkan karena rasio keuangan yang dihasilkan sangat bergantung pada metode atau pengukuran rasio keuangan yang digunakan. Oleh karenanya dalam analisis rasio diperlukan pembanding dengan industri sejenis atau analisis tren terhadap rasio beberapa tahun sebelumnya. Dengan adanya kelemahan dan keterbatasan tersebut maka analisis kinerja keuangan perlu dilengkapi dan diperbandingkan dengan metode analisis atau pendekatan yang lain. Saat ini telah dikembangkan suatu alat analisis pengukuran kinerja perusahaan yang memperhitungkan faktor biaya modal dan resiko yaitu dengan pendekatan economic value added (EVA). Dengan menggunakan pendekatan EVA, perusahaan akan berusaha lebih menekankan pada usaha menciptakan nilai yang lebih dari asset maupun investasi yang ditanamkan. Adanya faktor biaya modal yang dipakai sebagai alat ukur maka return yang dituntut oleh pemegang saham maupun investor pasti lebih tinggi dari biaya modal yang dikeluarkan. Agar mendapatkan EVA positif maka diperlukan pengelolaan modal kerja yang efisien dan efektif. Dengan demikian perumusan masalah pokok dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kinerja keuangan perusahaan manufaktur publik jika diukur dengan rasio keuangan (ROE, ROI, P/BV, PER dan NPM), (2) Bagaimana kinerja keuangan perusahaan manufaktur publik jika diukur dengan pendekatan economic value added (EVA), (3) Bagaimana korelasi antara ROE, ROI, P/BV, PER dan NPM dengan Economic Value Added (EVA). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Menganalisis kinerja keuangan perusahaan-perusahaan manufaktur publik selama periode tahun 2007 – 2008 berdasarkan jenis industri dengan mengukur rasio keuangan ( ROE, ROI, P/BV, PER dan NPM, (2) Menganalisis kinerja keuangan perusahaan-perusahaan manufaktur publik selama periode tahun 2007 – 2008 dengan pendekatan economic value added (EVA), (3) Menganalisis korelasi antara ROE, ROI, P/BV,PER dan NPM dengan EVA, (4) Mengetahui perbedaan yang mempengaruhi kinerja keuangan sektor industri satu dengan yang lainnya. Metode penelitian dilakukan dengan menganalisis data sekunder berupa laporan keuangan 138 perusahaan manufaktur yang telah go public yang terdiri dari neraca dan laba rugi selama periode 2007 – 2008. Teknik analisis dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif untuk memberikan gambaran pengukuran kinerja perusahaan dengan mengukur rasio keuangan dan pendekatan EVA. Analisis data meliputi: Analisis laporan keuangan dilakukan menghitung nilai ROE, ROI, P/BV, PER dan NPM terhadap 138 perusahaan manufaktur publik. Disamping itu juga dilakukan analisis terhadap nilai economic value added ( EVA ) dan faktor pembentuk (value driver) EVA dan dilakukan uji sensitifitas. Pearson correlation digunakan untuk mencari hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan manufaktur publik yang terdiri dari sektor industri dasar dan kimia, sektor industri barang konsumsi dan sektor aneka industri pada tahun 2007 dan 2008 berdasarkan kinerja rasio keuangan yang menunjukkan tingkat profitabiltas rata-rata tahun 2007 sebesar 6% dan tahun 2008 profitabilitas rata-rata turun menjadi 4%. Sektor industri barang konsumsi membukukan ROE, ROI, P/BV dan profitabilitas paling baik dibandingkan dengan sektor industri dasar dan kimia dan sektor aneka industri.Namun dari nilai PER yang dibukukan sektor industri barang konsumsi lebih rendah dibandingkan dengan sektor industri dasar dan kimia dan sektor aneka industri. Penilaian kinerja perusahaan manufaktur berdasarkan economic value added (EVA) rata-rata tahun 2007 dan 2008 menunjukkan hasil yang positif. Hal ini berarti industri manufaktur secara umum pada tahun 2007 dan 2008 mampu memberikan nilai tambah (create value) kepada pemegang saham. Bila dilihat per sektor industri, EVA tertinggi dicapai oleh sektor industri barang konsumsi sedangkan sektor industri dasar dan kimia membukukan EVA negatif yang berarti tidak mampu memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Besar kecilnya nilai EVA dipengaruhi besar kecilnya nilai NOPAT, WACC dan capital. Faktor pemicu terbesar dari terbentuknya nilai EVA adalah NOPAT (Net Operating Profit after Tax). Berdasarkan Uji korelasi yang dilakukan antara ROE, ROI, P/BV, PER dan NPM terhadap EVA dapat disimpulkan bahwa EVA hanya berhubungan signifikan dengan ROI dan NPM saja. Sedangkan berdasarkan analisis uji sensitifitas diketahui bahwa faktor pemicu terbesar dari terbentuknya nilai EVA adalah NOPAT (Net Operating Profit after Tax). Faktor pemicu terbentuknya NOPAT adalah earning after tax. Besarnya nilai capital sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya nilai EVA yang di capai . Beberapa hal yang dapat disampaikan sebagai saran adalah Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menghasilkan laba tidak selalu menghasilkan EVA positif. Perusahaan yang mempunyai eva negatif berarti perusahaan tersebut belum mampu menciptakan nilai (create value) meskipun perusahaan dalam kondisi laba. Oleh karena itu penulis menyarankan kepada perusahaan agar metode EVA digunakan sebagai alternatif penilaian kinerja perusahaan. Dengan metode EVA manajemen diharapkan lebih fokus terhadap peningkatan nilai perusahaan. Kepada para investor penulis menyarankan untuk memilih investasi pada sektor-sektor industi yang mempunyai tingkat profitabilitas tinggi dan mempunyai EVA positif seperti pada industri farmasi, kosmetik ,rokok dan semen. Penulis juga menyarankan agar penelitian ini dilanjutkan dengan ruang lingkup yang lebih luas misalnya penilaian kinerja sektor manufaktur dengan menambahkan variabel penelitian yang berkaitan dengan Market Value (MVA) atau menambahkan variabel yang berkaitan dengan Debt Equity Ratio (DER) dan penilaian kinerja keuangan perusahaan manufaktur dengan lingkup perspektif non-financial yang lebih dikenal dengan Balance Scorecard.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Financial Performance, Accountancy, EVA (Economic Value Added), Manufacture Public Company, Indonesian Stock Exchange. Kinerja Financial, Rasio Keuangan, EVA (Economic Value Added), Perusahaan Manufaktur Publik, Indonesia Stock Exchange.
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: Library
Date Deposited: 01 Aug 2011 06:08
Last Modified: 08 Sep 2014 07:54
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/43

Actions (login required)

View Item View Item