Kajian manajemen teknologi pembudidayaan ikan kerapu studl kasus dl instalasi penelltlan dan pengkajian teknologi pertanian bojonegara - serang

Kurniadi, . (2001) Kajian manajemen teknologi pembudidayaan ikan kerapu studl kasus dl instalasi penelltlan dan pengkajian teknologi pertanian bojonegara - serang. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
e7-01-kurniadi-cover.pdf - Published Version

Download (55kB)
[img] PDF
e7-02-kurniadi-ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (240kB)
[img]
Preview
PDF
e7-03-kurniadi-daftarisi.pdf - Published Version

Download (91kB)
[img]
Preview
PDF
e7-04-kurniadi-bab1pendahuluan.pdf - Published Version

Download (189kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia yaitu sepanjang 81.000 km dan memiliki luas lautan sekitar 5,8 juta km2 yang di dalamnya terkandung potensi perikanan 6,2 juta ton per tahun. Potensi tersebut sampai tahun 1998, baru termanfaatkan sekitar 58,50 %, sehingga masih terdapat 41,50% potensi yang belum termanfaatkan atau sekitar 2,6 juta ton per tahun. Salah satu potensi laut yang sangat menjanjikan adalah ikan kerapu Bebek, Macan dan Sunu yaitu merupakan jenis ikan yang mempunyai prospek pernasaran baik dan harganya mahal terutama untuk pasar ekspor. Kendala utama dalam pengembangan budidaya kerapu adalah ketersediaan benih yang belum dapat terpenuhi baik jumlah, mutu maupun kesinambungannya. Demikian juga yang terjadi di IPPTP Bojonegara, Serang. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor yang berasal dari luar dan dalam instalasi. Sehingga diperlukan kajian untuk mengetahui transformasi dan status kemampuan teknologi yang dimiliki instalasi sehingga dapat dirumuskan strategi yang tepat untuk usaha pengembangan pembudidayaan ikan kerapu agar kebutuhan benih saat ini dan dimasa yang akan datang dapat terpenuhi. Perumusan masalah penelitian adalah : (1) bagaimana kondisi internal dan eksternal yang berkaitan pembudidayaan ikan kerapu di IPPTP Bojonegara, Serang, (2) bagaimana transformasi dan kemampuan teknologi di IPPTP Bojonegara, Serang. (3) strategi yang bagaimana yang harus disusun dalam kaitannya dengan manajemen teknologi pembudidayaan ikan kerapu di IPPTP Bojonegara, Serang, Tujuan penelitian adalah : (1) mengkaji faktor internal dan eksternal dari manajemen teknologi pembudidayaan ikan kerapu di IPPTP, (2) mengkaji transformasi dan kemampuan teknologi dalam kaitannya dengan teknologi pembudidayaan ikan kerapu di IPPTP (3) Merumuskan strategi manajemen teknologi pembudidayaan ikan kerapu di IPPTP. Ruang lingkup yang dikaji adalah faktor internal dan ekstemal yang rnempengaruhi keberhasilan pembudidayaan ikan kerapu dan pengkajian perangkat teknologi yang difokuskan dari proses pengadaan induk ikan kerapu, proses pembenihan sampai benih siap jual ke konsumen. Penelitian dilakukan di IPPTP Bojonegara, Serang dari tanggal 1 Juli – 7 Juli 2001. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan, hasil pengisian kuisioner dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait seperti IPPTP Bojonegara, Dinas Pertanian & Dinas Perikanan. Datalinformasi dalam diperoleh dengan : (1) Obse~asiy, aitu melihat secara langsung keadaan lapangan, (2) Studi literatur, yaitu mengetahui informasi penting, alat yang digunakan adalah dengan mengomentari literatur dari berbagai teori dan data-data lain yang menunjang penelitian ini dan (c) Wawancara dan pengisian kuisioner, yaitu pengumpulan fakta dan data dengan cara melakukan tanya jawab dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan masalah penelitian ini. Analisis yang dilakukan mencakup analisis internal dengan metode Internal Factor Evaluation (IFE), Analisis eksternal dengan metode External Factor Evaluation (EFE), Analisis SWOT, dan analisis tingkat transformasi dan kemampuan teknologi dengan metode Manual lndikator Teknologi lndustri yang dikembangkan oleh proyek STMlS atau Science and Technological Management lnformasi System (Ramanathan. 1993) Perangkat Teknologi (Technoware). Hasil analisis data menunjukkan bahwa perangkat teknologi IPPTP mempunyai median 3.00, berarti bahwa perangkat teknologi yang dipergunakan diklasifikasikan ke dalam mesin manual sampai mesin serbaguna. Sedangkan nilai harapannya mempunyai median 5.00, artinya IPPTP mengharapkan dapat menggunakan jenis mesin khusus sampai mesin otomatis. Dengan nilai probabilitas 0.0532, pada taraf nyata 0.05 dapat disimpulkan bahwa kondisi perangkat teknologi yang dimiliki IPPTP tidak berbeda nyata dengan kondisi yang diharapkan lnstalasi. Sedangkan pada taraf nyata 0.10 kondisinya menunjukkan berbeda nyata sehingga belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa kondisi intalasi tidak berbeda nyata dengan harapan instalasi. Perangkat Manusia (humanware). Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai median dari IPPTP adalah 5.00, menunjukkan bahwa kemampuan SDM di IPPTP berada diantara kemampuan mereparasi alat sampai mengadaptasi alat baru. Nilai median harapan 7.00 menunjukkan bahwa kondisi yang diharapkan lnstalasi adalah perangkat manusia yang memiliki kemampuan mengadaptasi sampai melakukan inovasi. Pengujian terhadap komponen perangkat manusia menunjukkan nilai probabilitas sebesar 0.0639 pada taraf nyata 0.05 yang berarti bahwa kemampuan perangkat manusia yang dimiliki oleh IPPTP tidak bebeda nyata dengan kemampuan yang diharapkan oleh lnstalasi. Sedangkan pada taraf nyata 0.10 kondisinya menunjukkan berbeda nyata sehingga belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa kondisi intalasi tidak berbeda nyata dengan harapan instalasi. Perangkat lnformasi (infoware). Hasil analisis data diperoleh median 4.00 artinya bahwa pemanfaatan perangkat informasi di IPPTP berada diantara menerangkan fakta sampai menggunakan fakta. Dengan median sebesar 7.00 maka lnstalasi mengharapkan agar pemanfaatan perangkat informasi berada pada tahap memahami fakta sampai mengkaji fakta. Nilai probalibitas 0.0606 pada taraf nyata 0.05 menunjukkan bahwa kondisi perangkat informasi yang dimiliki lnstalasi tidak berbeda nyata dengan kondisi yang diharapkan lnstalasi Hal tersebut menunjukkan bahwa perangkat informasi yang dimiliki lnstalasi meskipun belum memadai untuk kebutuhan Instalasi, tetapi telah dapat digunakan untuk keperluan perencanaan informasi. Sedangkan pada taraf nyata 0.10 kondisinya menunjukkan berbeda nyata sehingga belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa kondisi intalasi tidak berbeda nyata dengan harapan instalasi. Perangkat Organisasi (Orgaware). Hasil pengolahan data perangkat organisasi IPPTP mempunyai median sebesar 3.50, artinya pola kerja yang dimiliki oleh lnstalasi berada pada tahap mencari bentuk pola kerja sampai dengan menciptakan pola kerja baru. Nilai median yang diharapkan oleh lnstalasi adalah sebesar 6.00 artinya bahwa lnstalasi mengharapkan perangkat organisasinya mampu melindungi pola kerja sampai memapankan pola kerja. Nilai probabilitas yang dihasilkan dari pengolahan data adalah sebesar 0.0131 pada taraf nyata 0.05 dan 0.10 menunjukkan bahwa perangkat organisasi yang dimiliki belum memenuhi tujuan dan harapan lnstalasi. Kemampuan Teknologi. Hasil penilaian kemampuan teknologi menunjukkan bahwa kemampuan teknologi IPPTP mempunyai median 2.50, artinya kemampuan teknologi yang dimiliki lnstalasi adalah sebanding dengan pesaing di Indonesia (Instalasi sejenis). Nilai probabilitas sebesar 0.0304 pada taraf nyata 0.05, menunjukkan bahwa kemampuan teknologi yang dimiliki oleh lnstalasi belum dapat memenuhi harapan lnstalasi yaitu pada median sebesar 4.50 (sebanding dengan pesaing internasional untuk instalasi sejenis). Pengujian antara keterkaitan transformasi teknologi dan kemampuan teknologi menunjukkan nilai khi kuadrat hitung sebesar 1.131. Dengan derajat bebas 9 diperoleh nilai khi kuadrat tabel sebesar 16,919 sehinggga Ho diterima, artinya antara indikator transformasi teknologi dengan indikator kemampuan teknologi bersifat bebas. Kemampuan Operatif (Operative Capability). IPPTP dalam telah mampu menggunakan perangkat teknoloai. namun kemam~uan melakukan pengontrolan-teknologi masih Hangat minim karena keterbatasan kemampuan manajemen dalam pengawasan dan penggunaan perangkat teknologi. Dalam ha1 perencanaan kerja belum ter~aksanse~c ara maksimal karena keterbatasan kemampuan manajerial dan keterbatasan modal kerja. Kemampuan dalam menyediakan dukungan dan jaringan informasi masih terbatas sehingga informasi yang diterima hanya sebatas input informasi tanpa diimbangi tukar menukar informasi. IPPTP telah mampu melakukan pemeliharaan terinci, rutin dan untuk pencegahan, namun dalam kenyataannya, kemampuan ini belum berjalan maksimal mengingat keterbatasan bahan ataupun ketersediaan modal kerja. Kemampuan Akuisitif (Acquisitive Capability). IPPTP telah melakukan rekayasa teknislriset meskipun masih perlu ditingkatkan. Kemampuan mengidentifikasi sumber-sumber teknologi secara mandiri juga telah dikuasai, karena keterlibatan tenaga ahli perikanan dan kelautan yang duduk dalam struktur organisasi namun kurang ada dukungan dari Pemerintah ataupun konsultan perikanan. Kemampuan mengkaji parameter proses, spesifikasi, keuntungan sosio-ekonomi, kebijaksanaan pemerintah atas suatu teknologi yang ditawarkan sebagian telah dimiliki oleh instalasi, tetapi kemampuan dalam mengkaji keuntungan sosio ekonomi masih dirasakan lemah mengingat bahwa orientasi instalasi adalah untuk keperluan riset dan pengembangan teknologi. Kemampuan melakukan negosiasi teknologi yang diakuisisi (harga, jaminan kinerja, waktu pengiriman, dan lain-lain) belum dimiliki oleh lnstalasi karena tidak adanya dukungan pendanaan yang dimiliki mengingat bahwa IPPTP merupakan instalasi yang didanai oleh pemerintah ataupun BPTP Lembang sebagai induk organisasi. Kemampuan Pendukung (Supportive Capability). Kemampuan IPPTP untuk melaksanakan proyek penelitian telah dikuasasi, namun kemampuan ini belum didukung oleh perangkat informasi yang memadai. Dalam upaya pengembangan SDM, IPPTP telah mengikutsertakan stafnya untuk mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan. IPPTP telah mempunyai kemampuan untuk mendapatkan dana penelitian untuk pengembangan lnstalasi. Hal ini terlihat dengan telah dilakukannya kerjasama pembudidayaan ikan kerapu jenis Bebek dan Macan dengan pendanaan dari swasta (PT. Minaut Lintas Nusa). Kemampuan untuk mengidentifikasi pasar baru telah diwujudkan dengan kemitraan dengan PT. Minaut Lintas Nusa dalam ha1 pembenihan kerapu yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Perluasan pasar belum dilakukan men-a in-a at bahwa keriasama vana dilaksanakan baru dalam taraf awal dan percobaan sehingga pioduksi yang'bihasilkan belum mampu untuk dipasarkan. Kemampuan lnovatif (Innovative capability). Kemampuan IPPTP dalam beradapiasi dengan teknologi impor sdah c;kup baik kemampuan lnstalasi untuk menduplikasi teknologi yang dikehendaki masih terbatas, mengingat peralatan teknologi mesin-mesin utama masih sulit untuk direkayasa atau reproduksi peralatan kecuali untuk peralatan-peralatan kecil. Kemampuan untuk modifikasi dan reproduksi peralatan-peralatan kecil telah dapat dilakukan oleh unit pelayanan teknis. lnstalasi telah mampu melakukan perubahan kecil dengan sarana yang dimiliki, SDM , dan dana anggaran. Kemampuan lnstalasi untuk melakukan perubahan inti dan radikal belurn ada dan dinilai berada pada taraf yang sebanding dengan lnstalasi sejenis di Indonesia, sedangkan yang diharapkan adalah yang terbaik di Indonesia. Analisis Internal. Analisis internal (kekuatan) menunjukkan bahwa adanya kemitraan dengan pihak lain (skor 1.034) merupakan faktor yang memiliki skor tertinggi, diikuti oleh tersedianya tenaga ahli & berpengalaman (0.642), penerapan teknologi dan manajemen (0.500), ketersediaan sarana dan prasarana budidaya (0.311), nilai ekonomi komoditas yang tinggi (0.165) dan ketersediaan sumber daya lahan (0.100). Analisis internal (kelemahan) menunjukkan bahwa kurangnya ketersediaan modal kerja rnemiliki skor tertinggi (0.963). diikuti oleh kurangnya pembinaan dan pengembangan usaha (0.645), kurangnya pasokan induk (0.397), keterbatasan kernampuan teknis dan manajerial staf (0.325), lemahnya kemitraan IPPPT dengan petani (0.243), dan lemahnya daya saing dengan komoditas lain (0.206). Analisis eskternal. Analisis eskternal (peluang) menunjukkan bahwa stabilitas harga komoditas merupakan peluang dengan nilai skor tertinggi (0.865), diikuti oleh ketersediaan jaringan pasar dalam & luar negeri (skor 0.511),Ketertersediaan SDM (skor 0.429). dukungan kebuakan & komitmen Pemda (skor 0.366), dan faktor terakhir yang menjadi peluang adalah perkembangan sistem teknologi & informasi (skor 0.292). Analisis eskternal yang memberikan ancaman menunjukkan bahwa pendanaan yang kurang memadai merupakan faktor yang paling memberikan ancaman (skor 0.817). Ancaman selanjutnya adalah kondisi politik, sosial dan ekonomi yang tidak menentu (skor 0.436), biaya transportasi semakin mahal (0.348), kelangkaan memperoleh induk (0.240), rendahnya tingkat pengetahuan petani ikan (0.162), stabilitas mata uang yang tidak menentu (0.160) dan ketergantungan produksi pada musim (0.153). Hasil perumusan strategi menunjukkan bahwa strategi terbaik yang bisa diterapkan adalah strategi berbenah diri, yaitu : (1) menjalin bentuk kerjasama pendanaan dengan pihak lain, (2) melakukan pembudidayaan untuk stok induk, (3) mengirimkan staf teknis dan operasional secara berkala untuk mengikuti pelatihan, 4) membangun kembali kemitraan dengan nelayan, (5) melakukan rekoordinasi dengan induk organisasi yang lebih tinggi dalam ha1 pengawasan, pembinaan dan pengembangan usaha dan (6) optimalisasi dukungan pemda untuk meningkatkan daya saing komoditas. Beberapa saran yang diajukan adalah : (1) Bagi IPPTP Bojonegara, Serang disarankan untuk melakukan pengkajian komoditas lain selain kerapu yang bisa dikerjasamakan dengan pihak lain (2) Untuk meningkatkan kinerja instalasi, BPTP Lembang selaku induk organisasi yang lebih tinggi disarankan untuk lebih banyak memberikan dukungan teknis serta melakukan pengawasan yang lebih intensif. (3) Perlu adanya restrukturisasi mesin-mesin utama milik IPPT mengingat mesin-mesin utama yang digunakan sudah usang untuk dapat meningkatkan produktivitas, (4) Dalam ha1 kemampuan teknologi, pemerintah perlu memberikan lebih banyak perhatian terhadap faktor internal lnstalasi yang terdiri dari aspek teknologi, SDM, perangkat informasi yang dimiliki serta perangkat organisasi lnstalasi terutama dalam bentuk dukungan kebijakan, sumber pendanaan dan pelatihan dan (5) Keterbatasan kemampuan di bidang teknis perlu disikapi dengan pengiriman staf untuk mengikuti pelatihan atau seminar ataupun dengan melakukan studi banding pada instalasi lainnya.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Kata Kunci : Manajemen Teknologi. STMIS, Uji Mann Whitney, Uji Chi Square, Analisis SWOT, Internal/eksternal Factor Evaluation.
Subjects: Manajemen Teknologi
Depositing User: Staff-3 Perpustakaan
Date Deposited: 28 Dec 2011 06:29
Last Modified: 05 Apr 2014 08:02
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/467

Actions (login required)

View Item View Item