Pengembangan Model Pembinaan Kelembagaan Petani Plasma PIR, Studi Kasus PIR Ophir Pasaman, Sumatera Barat

Supri , Basdabella (1996) Pengembangan Model Pembinaan Kelembagaan Petani Plasma PIR, Studi Kasus PIR Ophir Pasaman, Sumatera Barat. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
1-01-Supri-cover.pdf

Download (908kB)
[img]
Preview
PDF
1-02-Supri-RingkasanEksekutif.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
1-03-Supri-daftarIsi.pdf

Download (969kB)
[img]
Preview
PDF
1-04-Supri-pendahuluan.pdf

Download (1MB)

Abstract

Salah satu pola yang dikembangkan untuk pengembangan Perkebunan Rakyat adalah adalah Perusahaan Inti Rakyat (PIR) Perkebunan. Pola ini dianggap dapat membantu petani pekebun menjadi petani modern yang mengelola kebunnya secara agrobisnis. Pola ini pula diharapkan mampu mengurangi kesenjangan yang terjadi antara Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat. Pola PIR mulai dikembangkan sejak tahun 1977. Dari data sekunder yang diperoleh dari BPS, sampai dengan Desember 1995 tercatat 132 lokasi PIR dengan areal penanaman 923.218 Ha, dengan perincian Kebull Inti 296.180 Ha dan Kebun Plasma 627.038 Ha. Tetapi dari keseluruhan lokasi tersebut belum semuanya memberikan hasil yang baik. Salah satu lokasi PIR yang berhasil baik adaJah PIR OPHIR di Pasamah Barat, Kabupaten Pasaman, Propinsi Sumatera Barat. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan petani plasma, factor keberhasilan pembinaan kelembagaan memegang peranan penting. Sebab selama masih dalam pengelolan Perusahaan Inti, peran penting kelembagaan mungkin belum terasa sekali. Pada masa Pasca Konversi dimulai, petani plasma diharapan mampu memenejemeni kebun plasmanya sendiri. Pada tahap inilah peranan Kelembagaan terasa manfaatnya. Namun dalam kenyataannya, Kelembagaan Petani disebagian besar lokasi PIR yang dikembangkan belum berfungsi dengan baik, sehingga sering menimbulkan konfilk antara para pelakunya, seperti petani dengan kelompok tani, kelompok tani dengan kelompok tani, kelompok tani dengan KUD, dan KUD dengan Perusahaan Inti. Kondisi tersebut di atas masih ditambah dengan masalah kebun yang tidak terawat, produksi rendah, penanganan pasca panen yang kurang baik, rendemen rendah yang pada akhirnya mengakibatkan pendapatan petani menjadi rendal!. Namun kondisi-kondisi negatif di atas tidak terjadi di PIR OPHIR Pasaman, Sumatera Barat. Hal ini diduga disebabkan oleh Pembinaan Kelembagaan Petani Plasma di PIR OPHIR Pasaman, berjalan cukup baik dan proses pembentukan masing-masing lembaga didasarkan pada kebutuhan dan keadaan dari para pelakunya, sehingga pada saat pasca korversi, petani plasma sudah mampu mandiri, dan lembaga -lembaga yang terkait sudah berfungsi dengan baik. Kondisi positif di PIR OPHIR Sumatera Barat ini menarik untuk dikaji. Berdasarkan uraian tersebut di atas rumusan masalahnya dapat di forrnulasikan sebagai berikut : a) Apakah Pembinaan Kelembagaan di PIR Ophir berfungsi dengan baik, sehingga mempengaruhi kesejahteraan petani plasma; b) Bagaimana proses pembentukan kelembagaan tersebut; c) Kelembagaan apa saja yang terbentuk; d) Model kelembagaan apa yang dapat dikembangkan dari kajian kelembagaan Ophir. Studi kasus ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisa model kelembagaan petani plasma di PIR Ophir dan memberikan alternatif model modifikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah Studi Kasus. Jumlah respondennya 15 orang ketua kelompok tani, dan 45 orang petani plasma yang diambil secara acak. Data yang diperoleh dari studi kasus digunakan sebagai data primer, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi Kepustakaan. Waktu penelitian dilaksanakan antara bulan Juni 1996 sampai dengan Agustus 1996 Metode analisis yang digunakan adalah analisa deskriptif dan perbandingan. Dari hasil penelitian yang diperoleh, PIR OPHIR Pasaman yang dibiayai pembangunannya dan pembinaannya dari kredit bantuan pemerintah Jerman dan Pemerintah Indonesia sebesar Rp. 66,56 milyar dan pembinaan petani serta kelembagaannya menerapkan metode Andragogi dan partisipatori melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, anjangsana dan dampingan lapangan oleh GTZ secara terus menerus selama 12 tahun. Metode ini diterapkan sejak merencanakan, mengorganisir, mengevaluasi, memotivasi sampai dengan mendorong partisifasi aktif para petani dalam wadah kelembagaan yang dibentuk yang dimulai dengan pembentukan kelompok tani hamparan. Dari hasil wawancara dengan pemimpin kelompok, koperasi dan Pembina, ternyata proses pembinaan tersebut tidaklah mudah. Untuk memberikan pengertian tentang manfaat metode hamparan dengan pemilikan tanaman secara keIompok dan pemilikan tanah secara individu memerlukan waktu dan keuletan. Tetapi setelah satu kelompok tani memahami manfaat dari kesepakatan tersebut dan memberikan hasil yang positif, maka untuk kelompok tani berikutnya tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk mengadopsi inovasi baru tersebut. Semakin beragam keanggotaan dari satu kelompok tani, baik keragaman umur, golongan maupun etnis semakin banyak diperlukan waktu untuk kelompok tersebut beradaptasi. Namun bila waktu transisi telah dilewati, kelompok ini merupakan kelompok yang paling solid dan berhasil dibandingkan dengan kelompok tani lainnya. Setelah pembinaan terhadap kelompok tani sebagai lembaga paling depan dari kelembagaan petani plasma PIR selesai, maka pembinaan selanjutnya diterapkan pada Koperasi Unit Desa. Pembinaan pada KUD reIatif lebih mudah. Karena anggotanya yang tergabung dalam kelompok tani telah Iebih dahulu terkonsolidasi. KJUB adaJah koperasi sekunder yang beranggotakan KUD-KUD merupakan tingkatan Kelembagaan petani yang terakhir. Secara prinsip tidak terdapat kesulitan dalam pembinaan KJUB, hanya pada waktu pembentukannya melalui proses yang cukup sulit. Karena koperasi sekunder pada tingkat pedesaan belum pernah ada sebelumnya, yang ada adalah induk Koperasi Unit Desa (KUD) yang berkedudukan di Kabupaten/Propinsi. Tetapi hal tersebut dapat diatasi oleh kegigihan pendirinya. Dengan berfungsinya kelompok Tani, KUD dan KJUB memberikan dampak posit if pada pengelolaan, perawatan dan produksi kebun plasma. Hal ini terlihat dari rata -rata produksi kebun plasma 25,32 tonlha/tahun yang melampaui rata –rata nasional yang hanya 22 tonlha/tahun. Dengan tingkat rata -rata produksi tersebut, maka rata -rata pendapatan yang direncanakan semula sekitar Rp. 262.500,-1k.k/ bIn dapat meningkat menjadi Rp. 419.820, - sampai dengan Rp. 712.474, -/kk/bln. Indikasi lain mengenai keberhasilan petani PIR Ophir adalah kemampuan petani dalam mengembalikan kredit. Semula pengembalikan kredit direncanakan IS tahun, dalam pelaksanaannya dalam waktu 10 tahun petani PIR Ophir telah dapat melunasinya. Dari hasil studi kasus tersebut, dapat disebutkan bahwa model pembinaan kelembagaan petani plasma PIR Ophir berhasil bailc. Pembinaan dengan menggunakan dampingan tenaga ahli fasilitator, pembiayaan yang memadai sebesar Rp. 8,06 milyar atau 12,20 % dari total investasi. Pembinaan yang terus menerus selama 12 tahun dengan metode Androgogi dan partisipatori ternyata efektif. Model pembinaan kelembagaan petani pada Pola PIR Ophir merupakan alternatif yang kemungkinan dapat diterapkan pada PIR lainnya khususnya PIR perkebunan, khususnya dengan komoditi kelapa sawit . Pada model PIR yang diusulkan, polanya hampir sarna dengan Pola PIR Ophir bedanya model pembinaan kelembagaan PIR Ophir adalah Parsipatori, sedangkan model pembinaan pada model yang diusulkan adalah Parsipatori legalitas dengan menggunakan metode Androgogi dengan kegiatan pendidikan, pelatihan, studi banding sosialisasi dan lain-lain. Pada PIR Ophir pembinaan terus menerus selama 12 tahun sedangkan pada model yang diusulkan hanya 5 tahun. Waktu yang diperlukan Iebih singkat dengan anggapan pada model yang diusulkan tidak lagi mencari poIa dan cara -cara pembinaan keIembagaan karena sudah diperoleh dari pengalaman di PIR Ophir. Waktu pembinaan yang lebih singkat memungkinkan biaya yang diperlukan untuk pembinaan juga lebih sedikit. Kalau pada Pola PIR Ophir biaya yang diperlukan sekitar 12,20 % dari total investasi maka pada model yang diusulkan hanya 5 % dari total investasi. Dampingan yang digunakan pada model usulan menggunakan tenaga ahli dalam negeri. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa model Pembinaan Kelembagaan Petani Plasma PIR Ophir telah dapat meningkatkan pendapatan petani. Hal ini dapat dilakukan karena berfungsinya lembaga-Iembaga petani plasma dan sudah melembaganya aturan, pola dan norma petani di PIR Ophir tersebut. Pada model yang diusulkan karena pola dan dan cara-cara pembentukan kelembagaan petani plasma sarna dengan yang terjadi di PIR Ophir maka apa yang terjadi di Ophir diharapkan dapat diperoleh lebih baik pada model yang akan di kembangkan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Pengembangan Model Pembinaan Kelembagaan Petani Plasma PIR, Studi Kasus PIR Ophir Pasaman, Sumatera Barat
Subjects: Manajemen Sumber Daya Manusia
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 28 Dec 2011 06:22
Last Modified: 28 Dec 2011 06:22
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/480

Actions (login required)

View Item View Item