Analisis Kelayakan Pendirian Industri Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) untuk Mensubstitusl Penggunaan Pupuk Anorganik pada PT. Pecconina Baru di Sumatera Selatan

Ishartanto, Ishartanto (1996) Analisis Kelayakan Pendirian Industri Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) untuk Mensubstitusl Penggunaan Pupuk Anorganik pada PT. Pecconina Baru di Sumatera Selatan. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
1-01-Ishartanto-cover.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
1-02-Ishartanto-RingkasanEksekutif.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
1-03-Ishartanto-daftarIsi.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
1-04-Ishartanto-pendahuluan.pdf

Download (835kB)

Abstract

PT. Pecconina Baru merupakan perusahaan agribisnis yang melaksanakan kegiatan perkebunan dan pengolahan teh dan kelapa sawit. Kebun dan pengolahan teh terletak di Padang, sedangkan kebun dan pengolahan kelapa sawit terletak di kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Lokasi proyek kelapa sawit berada sekitar 180 kilometer dari Ibu Kota Propinsi Palembang. Luas lahan kelapa sawit yang dikelola perusahaan sebagai Pilot Proyek adalah 20.000 hektar yang terdiri dari 6.000 Ha Kebun inti dan 14.000 Ha Kebun plasma. Proyek perkebunan kelapa sawit yang dimulai tahun 1996, menurut rencananya akan panen tandan buah segar (TBS) pada tahun 2000. Dengan adanya panen TBS, tahap selanjutnya yang akan dilakukan oleh perusahaan adalah mengolah TBS menjadi minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan minyak inti sawit (Palm Kemel OiVPKO). Proses pengolahan tersebut akan menghasikan limbah. Diantaranya, yang paling banyak adalah Iimbah berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang jumlahnya mencapai 20 - 23 % dari bahan baku TBS. Limbah lain berupa serat buah sisa perasan (15 - 17.5 %), tempurung (8 - 10 %), lumpur (2 - 3 %) dan air kondensat (0.5 - 0.7 %). TKKS sebagai limbah industri pada dasamya dapat diolah menjadi berbagai macam produk. Paling banyak dilakukan adalah dibuat pupuk kalium dengan cara membakar pada insenerator. Mengingat hasil kajian pembuatan pupuk kalium dilihat dari berbagai sudut kurang menguntungkan, maka TKKS disarankan untuk dibuat pupuk kompos. Pengolahan TKKS menjadi kompos dalam skala industri terutama dikaji dari pertimbangan ekonomi, yaitu untuk mengurangi beban biaya pemupukan yang rencananya seluruhnya menggunakan pupuk anorganik. Pertimbangan lain diantaranya adalah pada manfaat Iingkungan, karena pengolahan kompos TKKS sangat mengurangi pencemaran dan penggunaannya pada perkebunan dapat meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka panjang. Jika TKKS akan dijadikan kompos, maka persoalannya adalah berapa investasi yang diperlukan untuk membangun dan mengoperasikan pabrik kompos dari TKKS tersebut. Dengan investasi dan biaya operasional tersebut ditambah beban biaya substitusi kompos, apakah terdapat penghematan bagi PT. Peceonina Baru jika hasil komposnya digunakan sebagai pengganti pupuk anorganik yang seharusnya digunakan. Tujuan penelitian ini adalah : 1. Membuat analisis kelayakan usaha pendirian pabrik kompos dari TKKS untuk memenuhi kebutuhan mensubstitusi pupuk anorganik pada perkebunan dan pengolahan kelapa sawit PT. Peceonina Baru. 2. Memberikan deskripsi tentang peluang pendirian pabrik tersebut, mengingat industri yang berwawasan Iingkungan dan nir limbah merupakan salah satu altematif dalam pengelolaan pembangunan yang berkelanjutan. Sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini, maka penulis membandingkan perencanaan biaya pemupukan Kebun Kelapa Sawit PT. Pecconina Baru antara penggunaan pupuk anorganik seperti tercantum dalam Studi Kelayakan Proyek dengan biaya penggunaan pupuk kompos yang diproses dari limbah TKKS. Biaya pemupukan dengan substitusi kompos TKKS dihitung sejak investasi pabrik dan biaya operasional menghasilkan kompos; serta biaya-biaya substitusi kompos yang meliputi biaya pembelian pupuk anorganik yang tidak tergantikan, biaya handling cost serta biaya tenaga Kerja pemupukan. Data yang digunakan untuk penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Survey lapangan dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai aspek teknis teknologis dan aspek manajemen operasi proyek. Data sekunder adalah informasi-informasi yang berhubungan dengan obyek penelitian yang diperoleh melalui instansi-instansi yang terkait serta dari referensi yang mendukung. Pengumpulan data sekunder meliputi produksi pupuk organik dan anorganik, aspek bahan baku, biaya tetap dan biaya tidak tetap untuk produksi pupuk organik, biaya mesin-mesin dan peralatan dan lain-lain. Bahwa skala produksi kompos harus dihitung berdasarkan kebutuhan penggunaan substitusi pupuk anorganik, maka terlebih dahulu harus diketahui volume kebutuhannya. Untuk menghitung kebutuhan kompos, sesuai rekomendasi dari Institute of Plant protection University of Hohenheim (1994) persentase substitusi kompos terhadap pupuk anorganik dihitung dengan pendekatan analogi komparasi sebagai berikut: • Kebutuhan pupuk N dapat dipenuhi kompos: 100 % • Kebutuhan pupuk P dapat dipenuhi kompos : 43,8 % • Kebutuhan pupuk K dapat dipenuhi kompos : 97,15 % Dalam perhitungan ini dosis penggunaan kompos dihitung tiap satu pohon kelapa sawit memerlukan 8 kg. kompos per tahun. Direncanakan dalam aplikasi pemupukan pada PT. Pecconina Baru dosis tersebut diterapkan untuk Tanaman Menghasilkan (TM) I s.d. TM VI. Pada TM VII s.d. TM XIV penggunaannya ditingkatkan menjadi 11.20 Kg. kompos tiap pohon per tahun menyesuaikan peningkatan kebutuhan pupuk berdasarkan rekomendasi Studi Kelayakan Proyek. Pada tabel diperlihatkan kebutuhan kompos TKKS per tahun pada PT. Pecconina Baru mengacu pada dosis tersebut di atas. Dengan demikian, tidak seluruh TKKS yang dihasilkan dari limbah minyak sawit pada PT. Pecconina Baru tiap-tiap tahunnya akan diolah menjadi kompos. Hal ini disebabkan bahan baku TKKS yang dihasilkan apabila diolah menjadi kompos akan melebihi kebutuhan untuk mensubstitusi penggunaan pupuk anorganik. Sesuai standar pengolahan kompos yang berkualitas. disini ditetapkan standar rendemen limbah TKKS sebesar 20 % dari produksi T8S, sedangkan standar rendemen pembuatan kompos adalah 50 %.dari TKKS. Pada dasamya teknologi pembuatan kompos pada skala industri menggunakan referensi dari luar negeri, termasuk desain, prasarana, mesin dan peralatan yang digunakan, yaitu dipilih pada referensi yang paling mendekati yaitu teknologi Jerman. Setelah diperhitungkan seluruh biaya yang termasuk dalam biaya produksi dan tambahan biaya substitusi, maka untuk melakukan analisis finansial telah dibuat asumsi-asumsi dalam perhitungan proyeksi rugi laba dan aliran kas. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa : 1. Analisis NPV menunjukkan positif sebesar Rp. 295,895,862.83 2. Analisis IRR tercatat sebesar 16,48%, lebih besar dari keuntungan yang dipersyaratkan yaitu sebesar 16 %, sesuai dengan tingkat suku bunga deposito. 3. Analisis BCR posilif sebesar 1,02. 4. Analisis BEP menunjukkan bahwa titik impas produksi kompos TKKS tahun 1 sebesar Rp. 4,985,506,982.59 titik impas produksi kompos TKKS tahun ke-5 adalah sebesar Rp. 4,790,588,810.85. 5. Analisis PBP menunjukkan masa pelunasan modal investor industri kompos TKKS selama 4 tahun, 11 bulan 5 hari, dan modal keseluruhan industri kompos TKKS adalah 5 lahun, 1 bulan 16 hari. 6. Analisis ROI menunjukkan kedudukan industri kompos TKKS adalah 10 tahun pada 14,4 %. 7. Analisis sensilifitas NPV diterapkan terhadap perubahan faktor biaya produksi. Dengan adanya perubahan biaya produksi naik 5%, NPV-nya negalif. Sebaliknya, dengan adanya penurunan biaya produksi 5 %, NPV-nya tetap positif. 8. Analisis Kelayakan Substitusi Kompos TKKS Pada akhimya harus dianalisis, setelah diadakan subslilusi kompos TKKS total biaya pemupukan akan menjadi lebih besar, sama besar atau lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan pupuk anorganik secara keseluruhan seperti rekomendasi pada studi kelayakan perkebunan kelapa sawit PT. Pecconina Baru. Perhitungan dalam analisis ini didasarkan pada kondisi 10 lahun beroperasinya industri kompos TKKS dengan rumus yaitu total biaya pupuk anorganik selama 10 tahun dikurangi biaya-biaya setelah substitusi kompos selama 10 tahun. Adapun biaya-biaya sebelum dan setelah substitusi kompos adalah sebagai berikut : 1 Biaya pembelian pupuk anorganik dan penyebarannya selama 10 tahun adalah sama dengan total pendapatan selama 10 tahun adalah 2 Biaya substitusi selama 10 tahun - Total biaya produksi - Total biaya substitusi - Total biaya bunga - Total biaya pajak penghasilan - Total biaya 3 Selisih biaya (10th) Selisih biaya per tahun Artinya keuntungan rata-rata per tahun sebesar Rp. 1,706,079,666.73 9. Manfaat Iingkungan Rp. 16,933,213,010,28 Rp.44,742,592,770.64 Rp. 3,540,966,692.10 Rp. 7,509,328,730.93 Rp.89,786,897,871.20 Rp.72,726,101,203.94 Rp. 17,060,796,667,26 Rp. 1,706,079,666.73 Setelah dilakukan analisis SWOT, jelas bahwa nilai lebih proyek ini terletak pada kepeduliannya pada Iingkungan hidup yang sangat didukung oleh Pemerintah. Nilai lebih diperinci sebagai berikut: a) Meningkatkan kesuburan tanah, b) Menghilangkan pencemaran Iimbah padat dari agroindustri, c) Menghilangkan pencemaran udara dibandingkan dengan pembuatan pupuk kalium, d) Menghilangkan bahaya iritasi bagi peke~a dibandingkan dengan pembuatan pupuk kalium.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Analisis Kelayakan Pendirian Industri Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) untuk Mensubstitusl Penggunaan Pupuk Anorganik pada PT. Pecconina Baru di Sumatera Selatan
Subjects: Manajemen Keuangan
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 28 Dec 2011 06:29
Last Modified: 02 Jan 2012 06:20
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/494

Actions (login required)

View Item View Item