Analisis penetapan harga pokok jeruk pontianak dan jeruk mandarin di tingkat pedagang besarstudi kasus di dki jakarta

Elly, Sarikit (1997) Analisis penetapan harga pokok jeruk pontianak dan jeruk mandarin di tingkat pedagang besarstudi kasus di dki jakarta. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
1-01-Elly-cover.pdf

Download (999kB)
[img]
Preview
PDF
1-02-Elly-ringksaneksekutif.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
1-03-Elly-daftarIsi.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
1-04-Elly-pendahuluan.pdf

Download (2MB)

Abstract

Jeruk adalah salah satu komoditi hortikultura yang cukup dikenal masyarakat, mempunyai nilai ekonomi tinggi dan dapat menjadi sumber utama kebutuhan vitamin dan mineral. Jika dilihat dari luas tanaman dan jumlah produksinya, di Indonesia jeruk merupakan komoditi buah-buahan terpenting ketiga setelah pisang dan pepaya. Menurut Biro Pusat Statistik (1992), untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jeruk di Indonesia diperlukan buah jeruk sebanyak 745 676 ton. Dengan meningkatnya permintaan jeruk dunia, maka pengembangan buah jeruk di Indonesia masih sangat diperlukan dan memiliki potensi yang baik. Pada saat diberlakukannya larangan impor buah, Jeruk Pontianak merupakan salah satu jenis jeruk yang banyak dicari oleh konsumen di pasar buah Jakarta. Sclain rasa yang manis dan harga relatif terjangkau, Jeruk Pontianak juga relatif banyak dan mudah dijumpai di pasar. Namun, dengan dibukanya kran impor buall-buahan melalui SK Menteri Perdagangan Nomor 135 Tahun 1991, menyebabkan jeruk Mandarin membanjiri pasar buah di jakarta. Sejak saat itu Jeruk Mandarin dengan mutu , jumlah , kontinuitas ketersediaanya yang lebih terjamin, dan persepsi bahwa Jeruk Mandarin lebih baik serta harga yang bersaing , menjadi alternatif lain bagi konsumen untuk mengkonsumsi buah jeruk. Jeruk Mandarin menjadi pesaing bagi Jeruk Pontianak. Dalam rangka mengantisipasi scgala kemungkinan negatif yang timbul pada pemasaran Jeruk Pontianak serta dalam rangka mempertahankan dan meningkatkancitraJeruk Pontianak, maka untuk jangka panjang dapat dilakukan perbaikan mutu, meningkatkan produktivitas dan mengubah persepsi masyarakat. Namun, untuk jangka pendek hal yang dapat dilakukan adalah penetapan harga Jeruk Pontianak dan harga Jeruk Mandarin, karena harga dapat digunakan sebagai instrumen penting dalam persaingan. Harga Jeruk Pontianak yang bersaing hanya dapat dilakukan jika pemasaran Jeruk Pontianak mulai dari sentra produksi hingga memasuki pasar buah di Jakarta, berlangsung dengan tingkat efesiensi yang tinggi. Peningkatan efesiensi pemasaran hanya dapat dilakukan apabila terdapat peluang untuk mengurangi/menghilangkan biaya-biaya tertentu dalam pemasaran, meningkatkan keterpaduan pasar atau dengan melakukan perubahan skala usaha. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah : (a) Menganalisa marjin yang diterima oleh setiap pihak yang terlibat dalam proses pemasaran Jeruk Pontianak dan Jeruk Mandarin; (b) Menganalisa tingkat efisiensi pemasaran Jeruk Pontianak dan Jeruk Mandarin dan (c) Melakukan simulasi untuk penentuan perbandingan harga relatif antara Jeruk Pontianak dan Jeruk Mandarin di tingkat pedagang besar. Pada awalnya pemasaran jeruk di Kalimantan Sarat terjadi secara bebas dimana petani sering kali dirugikan dalam hal penentuan harga dan kelas (mutu) jeruk terutama pada saat panen raya. Untuk melindungi para petani dari praktek-praktek perdagangan yang merugikan, Pemerintah Daerah melalui Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Sarat telah mengeluarkan beberapa Surat Keputusan yang mengatur sistem pemasaran Jeruk Pontianak. Namun tujuan mulia konsep pemasaran Jeruk Pontianak di lapangan harus berhadapan dengan realita ekonomi yang berada di tangan para pedagang. Harga yang diterima petani lebih kecil dari harga minimum yang seharusnya diterima, terutama pada tahun 1994 dan tahun 1995. Petani hanya menerima harga sebesar Rp 1.402,- dan Rp 1.015,- per kilogram sementara harga minimum yang seharusnya diterima adalah sebesar Rp 1.460,- dan Rp 1.208,- per kilogram. Hanya pada tahun 1996 petani menerima harga Rp 1.134,- per kilogram dari harga minimal yang seharusnya diterima petani, yaitu sebesar Rp 1.013,- per kilogram. Jumlah permintaan dan penjualan Jeruk Pontianak dan Jeruk Mandarin berfluktuasi, namun secara umum dapat dilihat bahwa kenaikan/penurunan harga mengakibatkan terjadinya penurunan/kenaikan jumlah jeruk yang terjual. Pada tahun 1994, harga Jeruk Pontianak mencapai nilai terendah Rp 3.800,- per kilogram pada jumlah penjualan tertinggi, yaitu 12,.92 ton. Harga Jeruk Mandarin mencapai nilai terendah Rp 1.008,- per kilogram pada jumlah penjualan tertinggi yaitu 2.06 ton. Hal serupa terjadi pada tahun 1995 dan tahun 1996. Pada saat-saat tertentu kondisi di atas tidak berlaku, harga terendah/tertinggi tidak diikuti dengan penjualan tertinggi/terendah. Harga tertinggi Jeruk Pontianak tahun 1994 terjadi pada bulan Juli, namun penjualan terendah terjadi pada bulan Agustus. Harga tertinggi Jeruk Mandarin tahun 1994 terjadi pada bulan September, sementara penjualan terendah terjadi pada bulan Desember. Kondisi ini terjadi karena adanya pengaruh musim buah lain, seperti mangga, rambutan, duku dan durian yang memasuki pasar buah pada waktu-waktu tertentu. Analisis marjin tataniaga Jeruk Pontianak dan Jeruk Mandarin menunjukkan bahwa marjin keuntungan tidak dinikmati merata oleh para pelaku pemasaran. Keuntungan terbesar dinikmati oleh pedagang pcngecer.. Berdasarkan analisa marjin pemasaran, Jeruk Mandarin berada pada tingkat efisiensi yang relatif lebih baik, karena para pelaku pemasaran umurnnya menerima keuntungan yang sepadan dengan biaya yang telah dikeluarkannya Hasil analisis mengenai hubungan penyebaran harga yang diterima produsen dengan harga yang dibayar konsumen untuk pemasaran Jeruk Pontianak ke Jakarta diperoleh dari nilai koefisien regresi Ih sebesar 0,48 dan untuk pemasaran Jeruk Mandarin sebesar 0,39. Koefisien regresi (PI) yang bemilai lebih kecil dari satu, menunjukkan bahwa laju kenaikan harga di tingkat produsen lebih kecil dari laju kenaikan harga di tingkat konsumen. Kondisi ini menunjukan adanya kekuatan monopsoni atau oligopsoni pada lembaga tataniaga yang mempengaruhi proses pemasaran secara keseluruhan. Faktor yang menyebabkan kurang efisiennya pemasaran Jeruk Pontianak, adalah panjangnya rantai tataniaga dan belum terkoordinirnya pemasaran Jeruk Pontianak secara keseluruhan., serta adanya pengaruh dari pihak-pihak tertentu yang tidak terlibat secara langsung dalam pemasaran Jeruk Pontianak. Dilain pihak, pemasaran Jeruk Mandarin pada prinsipnya melalui rantai pemasaran yang relative tidak banyak dipengaruhi oleh pihak-pihak lain yang tidak terlibat langsung dalam sistem pemasarannya, sehingga pemasaran Jeruk Mandarin berjalan lebih transparan. Dari analisis korelasi antara harga di tingkat Pedagang dan Produsen, diketahui bahwa harga di tingkat Pedagang Besar berpengaruh terhadap harga di tingkat Produsen. Untuk Jeruk Pontianak dan Jeruk Mandarin diperoleh nilai koefisien regresi (PI) sebesar 1,14, dan 0,72 berarti jika harga di tingkat Pedagang Besar naik satu rupiah maka harga di tingkat Produsen akan naik sebesar Rp 1,14,per kilogram.untuk Jeruk Pontianak dan sebesar Rp 0,72 per kilogram. untuk Jeruk Mandarin Berdasarkan analisis korelasi antara harga di tingkat Pedagang dan Konsumen,diketahui bahwa untuk pemasaran Jeruk Pontianak dan Jeruk Mandarin, harga di tingkat Pedagang berpengaruh terhadap harga di tingkat Konsumen Berdasarkan analisis pendugaan pengaruh harga terhadap jumlah penjualan Jeruk Pontianak maupun Jeruk Mandarin, diperoleh nilai ~I sebesar - 5.660 dan 2.034 yang berarti setiap kenaikan harga satu rupiah akan menyebabkan berkurangnya jumlah penjualan jeruk Pontianak sebesar 5.660 kilogram dan jeruk Mandarin sebesar 2.034 kilogram. Berdasarkan analisa elastisitas transmisi harga (nj) , untuk pemasaran Jeruk Pontianak diketahui nj sebesar 5,13 yang berarti jika harga di tingkat pedagang besar naik sebesar 5,13 persen maka harga di tingkat Petani akan naik sebesar satu persen. Sedang dalam pemasaran Jeruk Mandarin, diperoleh nilai nj sebesar 2,67 yang berarti bahwa setiap kenaikan harga di tingkat Pedagang Besar sebesar 2,67 persen, akan menyebabkan terjadinya kenaikan harga di tingkat Petani Produsen sebesar satu persen. Berdasarkan analisis keterpaduan pasar diperoleh nilai koefisien regresi CP3) sebesar 0,406 untuk Jeruk Pontianak dan 0,0137 untuk Jeruk Mandarin yang berarti adanya sumbangan relatif harga pasar setempat dan acuan terdahulu terhadap pembentukan tingkat harga saat ini. Nilai Indeks ofMarket Connection (IMe) untuk pasar Jeruk Ponlianak adalah sebesar 26,83 dan Jeruk Mandarin sebesar 20,41 menunjukan bahwai pasar Jeruk Pontianak dan jeruk Mandarin berada pada keterpaduan yang rendah. Secara umum terlihal bahwa efisiensi pemasaran Jeruk Mandarin relatif lebih baik dibanding dengan pemasaran Jeruk Pontianak. Altematif yang mungkin dilakukan dalam penetapan harga Jeruk Ponlianak dan Jeruk Mandarin adalah dengan mengusahakan kenaikan harga Jeruk Mandarin hingga 30 persen dari harga rata-rata saat ini. Kenaikan harga Jeruk Mandarin dapat terjadi apabila Pemerinlah dapat menahan dan mengendalikan laju masuknya Jeruk Mandarin ke Indonesia. Untuk meningkatkan efisiensi pemasaran Jeruk Pontianak dalam menghadapi pasar global, sebaiknya Pemerinlah mengeluarkan kebijakan yang dapal mengalur masuknya Jeruk Mandarin ke Indonesia. Dilain pihak, seyogyanya Pemerintah juga melakukan upaya-upaya untuk perbaikan produktivilas dan mutu produk dengan menyediakan stasiun-stasiun benih dan pembinaan teknis kepada para petani. Dalam bidang pemasaran seyogyanya Pemerintah dapat membantu dalam pemenuhan kebutuhan fasilitas pemasaran sepertii fasilitas penyimpanan, perbaikan sarana a1at transportasi. Sebagai evaluasi terhadap implikasi kebijakan Pemerintah dalam penanganan sistem pemasaran Jeruk Pontianak, sebaiknya dilakukan penelilian lebih lanjut tentang kajian terhadap dampak kebijakan pemasaran yang dikeluarkan dan fungsi/kelembagaan dari masing-masing pihak yang terlibat dalam pemasaran Jeruk Pontianak. Rantai pemasaran Jeruk Pontianak yang relatif panjang, menyebabkan tingginya harga jual di tingkal konsumen. Pelani tidak mcrasakan manfaat langsung dari adanya campur tangan Pemerintah dalam pemasaran jeruk. Beberapa pihak beranggapan bahwa pengaturan terhadap sistim pemasaran jeruk tetap diperlukan, namun dalam pelaksanaanya proses pengaturan pemasarall tersebut bersifat semu, sehingga nilai tambah dan keuntungan pemasaran tidak dinikmati secara wajar oleh Petani melainkan oleh para pelaku tataniaga lainnya. Pada hakekatnya, keterlibatan Pemerintah dalam mengatur tataniaga Jeruk Pontianak merupakan tindakan yang positif, selama kebijakan yang ditetapkan dapat diterapkan secara benar dan konsisten serta mendapat dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam pemasaran Jeruk Pontianak.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Analisis penetapan harga pokok jeruk pontianak dan jeruk mandarin di tingkat pedagang besarstudi kasus di dki jakarta
Subjects: Manajemen Pemasaran
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 28 Dec 2011 06:15
Last Modified: 28 Dec 2011 06:15
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/505

Actions (login required)

View Item View Item