Strategi Pengembangan Kemitraan sebagai Alternatif Dalam Pengembangan Kelembagaan Agribisnis Tembakau.

Praptosuhardjo, Prijadi (2000) Strategi Pengembangan Kemitraan sebagai Alternatif Dalam Pengembangan Kelembagaan Agribisnis Tembakau. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
e5a-01-prijadi_praptosuhardjo-cover.pdf

Download (297kB)
[img]
Preview
PDF
e5a-02-prijadi_praptosuhardjo-ringkasan_eksekutif.pdf

Download (380kB)
[img]
Preview
PDF
e5a-03-prijadi_praptosuhardjo-daftar_isi.pdf

Download (339kB)
[img]
Preview
PDF
e5a-04-prijadi_praptosuhardjo-pendahuluan.pdf

Download (398kB)
[img] PDF
e5a-05-prijadi_praptosuhardjo.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Prijadi Praptosuhardjo (2000) Strategi Pengembangan Kemitraan sebagai Alternatif Dalam Pengembangan Kelembagaan Agribisnis Tembakau. Di bawah bimbingan M Syamsul Ma'arif dan Wahyudi. Kondisi empiris di negara-negara maju, menunjukkan bahwa keberhasilan pengusaha besar salah satunya ditentukan oleh kemitraan dengan pengusaha kecil sehingga tercapai efisiensi dan akses pasar yang luas. Hal tersebut kemitraan hendaknya berlaku juga dalam pengembangan agribisnis. Kenyataan menunjukkan bahwa kemitraan agribisnis tembakau di daerah Lumajang dan Lombok dapat berkembang dengan baik. Kemitraan dapat berkembang apabila kejasama tersebut didasari prinsip saling menguntungkan, saling membutuhkan, manfaat kedua belah pihak serta adanya kegiatan saling mengisi dari masing-masing mitra. PT Tresno sebagai grup perusahaan rokok dituntut untuk menyediakan stok tembakau dalam jumlah, kualitas dan waktu yang sesuai, sedangkan keterbatasan lahan dan tenaga merupakan kendala yang dihadapi penfahaan. Di lain pihak, petani memiliki tenaga dan lahan yang sesuai untu dltanaman tembakau namun dihadapkan pada masalah pendanaan, teknis budidaya, sarana produksi dan pemasaran. Dengan prinsip-prinsip tersebut diatas, dua pihak (perusahaan rokok dan petani) dapat bergabung dalam suatu kejasama kemitraan. Demikian juga CV Trisno Adi (perusahaan perdagangan tembakau), harus memiliki persediaan tembakau (sebagai persediaan barang dagangan) agar penrsahaan tetap berjalan. Mengingat berbagai kendala pengadaan tembakau, maka agar tercapai efisiensi ke rja perusahaan harus mengadakan ke jasama kemitraan dengan petani tembakau. Diamping itu, keberhasilan kemitraan juga akan tergantung pada beberapa hal antara lain : sifat komoditas, daya serap pasar terhadap produk, kesesuaian lahan dan penggunaan teknologi, homoginitas dari petani atas dasar sosial budaya daerah, kemampuan finansial perusahaan, serta disiplin dari perusahaan sebagai pembina, petani sebagai mitra dan pemerintah daerah sebagai pembina dan pengawas terhadap aturan yang dipergunakan dalam pola kemitraan. Dan survei kepada petani di Lumajang dan Lombok, diperoleh hasil bahwa 100 % responden menyatakan bahwa hal utama yang mendorong untuk mengikuti program kemitraan adalah adanya jaminan pasar dan harga yang sesuai dari perusahaan. Sedangkan faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah kemudahan sarana produksi, adanya bimbingan serta diperolehnya hasil produksi yang lebih berkualitas. Dengan mengikuti kemitraan, pendapatan petani peserta juga mengalami kenaikan, secara makro pendapatan Pemerintah Daerah tingkat I Nusa Tenggara Barat dari sub sektor perkebunan tembakau juga terus mengalami peningkatan (dari tahun 1992 dampai tahun 1995 meningkat 92,9 %) Bagi perusahaan yang melakukan kemitraan dengan petani, maka untuk menjamin kelangsungan kejasama diperlukan kemampuan financial dan akses serta reputasi perusahaan terhadap sumber dana. Dalam kasus penelitian tesis ini, PT Tresno dan CV Trisno Adi dituntut untuk menyediakan dana yang cukup mengingat perusahaan hams bersedia membeli tembakau dengan harga pasar (di saat panen) yang cendemng meningkat. PT Tresno sebagai perusahaan modem melaksanakan kemitraan dengan perencanaan dan sistem yang baku. Sementara CV Trisno Adi melaksanakan kemitraan dengan mengandalkan pendekatan personal (silaturakhmi) kepada para petani. Kondisi intemal PT Tresno, yang mendorong perkembangan kemitraan tersebut adalah : adanya program kerja dan perencanaan yang jelas ; adanya standar kerja sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualifikasi mutu yang relatif baik ; adanya dukungan dari organisasi, teknologi serta kemudahan akses kepada sumber dana, expert maupun teknologi. ; adanya perjanjian pendukung untuk mempejelas hak dan kewajiban masing-masing mitra ; memiliki administrasi dengan peralatan dan sistem informasi yang baik (menggunakan Farmer's Account System) ; serta kontrol dari perusahaan yang sangat baik, dengan jumlah dan kualitas tenaga lapangan yang memadai. Namun demikian masih terdapat beberapa kendala intemal dalam pelaksanaan kemitraan diantaranya : biaya perusahaan meningkat dengan adanya unit kerja tersendiri dalam organisasi ; adanya batasan-batasan yang kaku (dari kaca mata petani) sehingga banyak petani yang tidak dapat mengikuti kemitraan karena tidak terpenuhinya syarat-syarat yang sudah ditetapkan ; ketergantu~gan pada penyediaan bibit, pupuk serta prasarana lainnya pada pihak luar ; keterbatasan modal dari petani binaan ; kemampuan manajer I supervisor lapangan ; perjanjian kerjasama belum memiliki kekuatan hukum ; serta kurangnya kedisiplinan petani binaan. Beberapa faktor intemal yang merupakan kunci sukses dan kekuatan bagi CV Trisno Adi, antara lain : kedekatan perusahaan dengan petani ; memiliki akses pasar yang luas ; memiliki fasilitas pergudangan yang memadai ; image yang baik di mata petani ; pengalaman dan fleksibilitas dalam kejasama ; serta kesetiaan dari petani binaan. Namun demikian dengan cara kerja yang sederhana, tentunya perusahaan memiliki beberapa kelemahan diantaranya : belum adanya sistem dan prosedur kerja ; gaya manajemen yang masih tradisional ; belum ada organisasi yang mampu mendukung ; keterbatasan akses terhadap sumber pendanaan ; kualitas SDM belum memadai ; serta belum adanya kontrol yang memadai dari perusahaan. Adapun kondisi eksternal, faktor - faktor yang mempengaruhi kerjasama antara perusahaan dengan petani tembakau, sehingga kejasama tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan adalah : permintaan tembakau yang cendereung meningkat dari tahun ke tahun dan adanya peluang untuk memasuki pasar luar negeri ; keterbatasan perusahaan dalam pengadaan tembakau sehingga tetap hams bermitra dengan petani ; kondisi demografis daerah setempat sesuai untuk pengembangan tanaman tembakau dan masih tersedianya lahan untuk pengembangan; pengalaman petani dalam budi daya tembakau serta nilai tambah bagi petani bila menanam tembakau (dibandingkan apabila menanam tanaman lainnya) ; dukungan p.emedntah-daerah setempat, mengingat penerimaan dari sub sektor perkebunan t e ~ mse ningkat ; Peraturan Pemerintah (PP No. 81 11999) yang mengatur batasan tar dan nikotin terhadap rokok, membuka peluang pengembangan tembakau virginia dan burley, mengingat jenis tembakau tersebut adalah berkadar nikotin rendah. Kondisi-kondisi ekstemal yang menghambat atau mengancam kemitraan tembakau adalah : persaingan yang sangat ketat diantara perusahaan yang mengembangkan kernitraan di daerah Lombok; adanya pembelian langsung oleh tengkulak atau pengepul yang memotong sistem kerjasama kemitraan; kecenderungan harga yang selalu meningkat, akan menyulitkan bagi perusahaan dalam mengembangkan kemitraan karena biaya yang tinggi ; kekuatan tawar dari petani cukup tinggi sehingga sangat mudah untuk berpindah dari perusahaan rnitra yang satu kepada perusahaan mitra yang lain ; belum adanya penelitian dan pengembangan teknologi budidaya tembakau (khususnya jenis Virginia FC dan burley) yang dilakukan oleh pemerintah (Balitas) ; serta kegagalan panen karena faktor alam. Dengan analisis diskripsi, analisis tingkat hubungan kemitraan, analisis internal dan ekstemal, serta analisis benchmarking. PT Tresno, yang termasuk dalam tingkat kemitraan Prima Utama. memiliki kelebihan dalam Perencanaan, pengorganisasian serta efektifitas, dalam pelaksanaan keijasama; jika dibandinakan CV Trisno Adi yang termasuk dalam tingkat kemitraan Prima Madya. Dari kondisi tersebut, CV Trisno Adi dapat melakukan benchmarking pada PT Tresno sehingga dapat memperbaiki kinerja yang ada saat ini. Strategi yang sesuai untuk PT Tresno (rnenurut matrik intemal dan ekstemal) adalah stabilitas. Stabilitas yang sesuai untuk kondisi PT Tresno adalah dengan mempertahankan sistem, metode, pelaksanaan serta dukungan tenaga, dana dan sarana administrasi. Disamping itu PT Tresno harus memperbaiki kekurangannya agar mampu memanfaatkan peluang serta menghadapi ancaman yang ada. Dengan kekuatan yang dimiliki, maka agar peluang dapat dimanfatkan serta ancaman dapat diantisipasi , PT Tresno harus melakukan pemilihan petani secara lebih selektii dan lebih mempertimbangkan areal yang potensial ; meningkatkan kapasitas produksi melalui perluasan hubungan dengan mitra usaha dan perluasan areal tanam; menjajaki kemungkinan rnenjual tembakau keluar grup usahanya jika terdapat surplus produksi ; meningkatkan kontrol (terutama saat panen) untuk mencegah masuknya tengkulak memberikan kemudahan dalam pengangkutan dan distribusi bantuan kepada petani; serta meningkatkan hubungan emosional dengan petani. Dilain pihak, PT Tresno harus memperbaiki kelemahannya agar dapat memanfaatkan peluang serta menghadapi ancarnan dengan strategi : melakukan inovasi teknologi untuk menurunkan biaya ; meningkatkan pendekatan personal kepada petani ; meningkatkan akses kepada lembaga pembiayaan dan bersedia menjadi avalis bagi petani ; memperbaiki perjanjian kerjasama sehingga mempunyai kekuatan hukum ; melakukan leveling pada para manager lapangan dan memberikan insentive yang lebih baik bagi manejer yang mempunyai kemampuan tinggi. Di lain pihak CV Trisno Adi lebih baik melakukan strategi pertumbuhan dalam mengembangkan kemitraannya. Dilihat dari beberapa kelemahan serta nilai dari hasil analisis tingkat hubungan kemitraan yang termasuk prima madya, maka agar kelemahan yang ada dapat diperbaiki guna memanfaatkan peluang dan menghadapi ancaman, CV Trisno Adi dapat melakukan benchmarking kepada PT Tresno terutama dalam ha1 : perbaikan sistem dan administrasi ; organisasi ; uraian tugas dan tanggung jawab yang mendukung kemitraan usaha ; sistem manajemen yang transparan ; kualitas SDM ; serta adanya sarana pendukung yang memadai. Disamping itu, CV Trisno Adi juga harus aktif dalam mencari sumber pendanaan baru mengingat adanya hambatan modal serta CV Trisno Adi hendaknya bersedia menjadi avalis bagi petani dalam rangka pencarian modal usaha. Kekuatan yang dimiliki perusahaan harus dapat dioptimalkan agar mampu memanfaatkan peluang dan menghadapi ancaman dengan jalan : memperluas jaringan keja dan areal pertanaman, memperluas pasar dan menjajaki kemungkinan ekspor ; mempertahankan pola silaturahmi dan image perusahaan ; serta memperbaiki dan menambah sarana produksi, memperbaiki service kepada petani dalam distribusi bantuan atau kredit. Dari kasus kemitraan agribisnis tembakau, maka dapat disimpulkan kemitraan agribisnis yang berhasil dan bermanfaat bagi kedua pihak tidak akan tercapai dalam waktu singkat , karena ha1 tersebut merupakan proses pembelajaran yang memerlukan waktu bagi perusahaan dan petani. Dengan proses yang lama, maka para pelaku kemitraan akhimya tidak hanya mengerti tentang know what tetapi juga know how and action. Apabila akan dilaksanakan pengembangan kemitraan, maka perlu adanya hasil survey yang komperhenshif terhadap beberapa hal yang erupakan kunci sukses keberhasilan kemitraan. Di dalam survei tersebut, hendaknya menyangkut sejauh mana resiko kegagalannya, sehingga dalam mengembangkan kemitraan akan lebih ditekankan pada perencanaan untuk meminimalkan resiko kegagalan tersebut.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Strategi Pengembangan Kemitraan sebagai Alternatif Dalam Pengembangan Kelembagaan Agribisnis Tembakau.
Subjects: Manajemen Produksi dan Operasi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-7 Perpustakaan
Date Deposited: 12 Jan 2012 09:26
Last Modified: 20 Feb 2012 13:53
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/524

Actions (login required)

View Item View Item