Analisis Preferensi Konsumen Bakso Ikan Di DKI Jakarta Dan Implikasinya Terhadap Bauran Pemasaran UD. Jaya Bersama

Setiadi, Yudi (2000) Analisis Preferensi Konsumen Bakso Ikan Di DKI Jakarta Dan Implikasinya Terhadap Bauran Pemasaran UD. Jaya Bersama. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
E5B_01-Yudi-Setiadi-cover.pdf

Download (304kB)
[img]
Preview
PDF
E5B_02-Yudi-Setiadi-ringkasaneksekutif.pdf

Download (406kB)
[img]
Preview
PDF
E5B_03-Yudi-Setiadi-daftarisi.pdf

Download (282kB)
[img]
Preview
PDF
E5B_04-Yudi-Setiadi-pendahuluan.pdf

Download (376kB)

Abstract

Besarnya potensi perikanan laut Indonesia sekitar 6,18 juta ton per tahun, tidak sebanding dengan tingkat konsumsi ikan oleh masyarakatnya yang masih relatif rendah yaitu baru mencapai 20 kgkapitdtahun. Tingkat konsumsi ikan yang ideal adalah sebesar 26,5 kglkapitdtahun. Ikan banyak mengandung asamasam amino esensial dan asam lemak omega-: yang diperlukan bagi perkembangan otak manusia, menurunkan kadar kolesterol dan mencegah berbagai penyakit generatif. Salah satu diversifikasi pengolahan ikan yang disukai oleh masyarakat adalah bakso ikan. UD. Jaya Bersama mempakan produsen bakso ikan yang beroperasi di wilayah Muara Baru Jakarta Utara. Merek yang digunakan untuk produk bakso ikannya adalah "ASIONG. Untuk memahami keinginan dan perilaku dari konsumen produk bakso ikan merek "Asiong", produsen perlu mengetahui preferensi konsumen terhadap bakso ikan yang dihasilkannya. Selanjutnya produsen bakso ikan dapat menyusun suatu bauran pemasaran yang meliputi produk, harga, promosi dan distribusi . Perumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana bauran pemasaran perusahaan, (2) bagaimana preferensi konsumen terhadap produk bakso ikan "Asiong", serta (3) bagaimana pengenalan konsumen terhadap merek bakso ikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis preferensi konsumen dan pengenalan konsumen terhadap merek produk bakso ikan Asiong serta merekomendasikan altematif bauran pemasaran bagi UD. Jaya Bersama. Elemen pengambilan contoh adalah individu yang mengkonsumsi bakso ikan merek "Asiong" dan bakso ikan merek selain "Asiong" sebagai kontrol, masing-masing sebanyak 30 orang serta individu agen bakso ikan "Asiong" sebanyak 10 orang. Populasi yang dipilih adalah di wilayah DKI Jakarta. UD. Jaya Bersama sampai saat ini belum membuat secara tertulis mengenai visi, misi dan tujuan pemsahaan. Dari wawancara yang dilakukan, terungkap bahwa visinya adalah menjadi produsen makanan olahan hasil perikanan yang berkualitas, beragam serta dapat diterima dengan baik oleh konsumen, baik di pasar lokal maupun pasar ekspor. Misi yang diemban yaitu menghasilkan makanan olahan hasil perikanan bermutu tinggi, higienis dan terjangkau oleh konsumen dari berbagai kalangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden "Asiong" (23,3%)maupun kontrol (6,7%) dapat menyebutkan merek bakso ikan. Pada responden "Asiong" dan kontrol masih dijumpai responden yang tidak mengenal merek bakso ikan yang ada namun mengenal nama produsennya yaitu masing-masing sebanyak 15% dan 26,7%. Rendahnya pengenalan konsumen terhadap merek bakso ikan diduga disebabkan oleh beberapa agen dan hampir semua pedagang pengecer yang tidak menjual bakso ikan "Asiong" dalam keadaan masih dikemas dalam plastik yang mencantumkan nama merek bakso ikan tersebut. Alasan para responden memilih merek bakso ikan yang biasa dikonsumsinya, temyata paling banyak beralasan bahwa bakso ikan tersebut memiliki rasa yang enak. Responden"AsiongW relatif lebih loyal terhadap merek dibandingkan responden kontrol karena hanya 36,7% yang menyatakan pemah mengkonsumsi merek bakso ikan lain, 60% menyatakan hanya satu kali berganti merek selama enam bulan terakhir, hanya 46,7% membeli produk bakso ikan yang tersedia apabila merek Asiong tidak tersedia dan sebanyak 70% menyatakan tidak akan beralih apabila bakso ikan "Asiong" naik harganya. Sebanyak 83,3% responden "Asiong" dan 93,3% responden kontrol mengkonsumsi bakso sapi dan bakso ikan. Responden "Asiong" dan kontrol memilih untuk lebih sering mengkonsumsi bakso sapi dibandingkan bakso ikan, masing-masing sebanyak 56% dan 78,6%. Responden yang memilih mengkonsumsi bakso sapi dan bakso ikan beralasan untuk menghindari rasa bosan. Responden "Asiong" dan kontrol selalu membeli bakso ikan dalam jumlah yang relatif sedikit atau kurang dari 50 butir yaitu masing-masing sebanyak 56,7% dan 73,3%. Frekwensi responden kontrol mengkonsumsi bakso ikan lebih sering dibandingkan dengan responden "Asiong", yaitu 36,7% responden "Asiong" menyatakan kadang-kadang saja mengkonsumsi bakso ikan, sedangkan 43,3% responden kontrol menyatakan sering. Sebagian besar responden (30% "Asiong" dan 40% kontrol) menyatakan pertama kali memperoleh informasi tentang produk bakso ikan dari teman yang telah lebih dahulu mengkonsumsi bakso ikan atau teman sekantor yang menjual produk bakso ikan secara eceran. Berdasarkan tempat biasa membeli bakso ikan, responden "Asiong" paling banyak membeli di pasar tradisional (46,7%), sedangkan responden kontrol di pabrik bakso ikan (33,3%). Pada survey konsumen ini diketahui pula bahwa responden (60% Asiong" dan 53,3% kontrol) mengkonsumsi bakso ikan tidak pada waktu tertentu saja. Mengkonsumsi bakso ikan di rumah bersama dengan keluarga merupakan pilihan dominan dari para responden. Berdasarkan kebiasaan memasak bakso ikan, 40% responden "Asiong" lebih banyak memasak bakso ikan dengan cara direbus, sedangkan 30% responden kontrol lebih menyukai dimasak dengan sayuran. Apabila produk bakso ikan tidak tersedia, 36,7% responden "Asiong" lebih memilih untuk membeli otak-otak ikan sebagai produk substitusi bakso ikan, sedangkan 46,7 % responden kontrol lebih menyukai membeli bakso sapi. Dengan metode recall 48 jam, diketahui bahwa dalam waktu 48 jam (dua hari) terakhir responden "Asiong" dan kontrol yang mengkonsumsi bakso ikan masing-masing hanya sebanyak 20% dan 43,3%. Jumlah yang dikonsumsi oleh responden "Asiong" maupun kontrol dalam 48 jam terakhir yaitu antara lima sampai delapan butir, masing-masing sebanyak 50% dan 69,2%. Sebanyak 40% responden "Asiong" dan 36,7% responden kontrol yang menyatakan tidak mengkonsumsi bakso ikan dalam waktu 48 jam (dua hari) terakhir melainkan tiga hari sampai seminggu yang lalu adalah yang terbanyak. Brand awareness bakso ikan pada agen bakso ikan relatif kuat dibandingkan brand awareness konsumen. Sebanyak 70% responden agen menyatakan hanya menjual bakso ikan merek "Asiong" produksi UD. Jaya Bersama, sedangkan sisanya menjual juga bakso ikan merek lainnya, yaitu "Asiong" produksi UD. Rizki Jaya Bersama, "Atien", "Aon" dan "Akong". Alasan memilih produk bakso ikan "Asiong" yang paling banyak dikemukakan oleh agen adalah sesuai dengan permintaan konsumen, harga relatif murah dan lebih tahan lama dibandingkan produk bakso ikan merek lainnya. Keluhan yang terbanyak dari konsumen mengenai produk bakso ikan "Asiong" adalah ditemukannya tulang dan atau sisik ikan dalam bakso ikan yang dibeli. Hanya 9,09% responden yang menyatakan tidak ada keluhan dari konsumen bakso ikan. Dari sepuluh atribut produk bakso ikan yang terdiri dari rasa ikan, aromalbau ikan, variasi ukuran, kemudahan mendapatkan, desain kemasan yang menarik, label, harga, nama merek, warna dan tekstur diketahui bahwa sebanyak tiga atribut yang dianggap paling penting oleh responden "Asiong" memilih rasa ikan (1,50), kemudahan mendapatkan (1,23) serta harga (0,87), sedangkan responden kontrol adalah rasa ikan (1,80), harga (1,43) serta tekstur (1,27). Pada atribut nama merek, responden "Asiong" memberikan nilai evaluasi tingkat kepentingan atribut yang negatif (-0,30). Ini berarti bahwa responden "Asiong" menganggap bahwa nama merek pada produk bakso ikan tidak menjadi pertimbangan bagi konsumen untuk membeli produk bakso ikan. Baik atribut label maupun nama merek mendapatkan nilai kepercayaan dari responden (bi) yang bernilai negatif yaitu masing-masing (-0,33 dari responden Asiong dan -0,13 dari responden kontrol) serta (-0,03 dari responden Asiong dan -0,13 dari responden kontrol). Hal ini menunjukkan bahwa atribut label dan nama merek yang dianggap cukup penting oleh responden kontrol (ei masing-masing atribut 0,97 dan 0,63), namun responden mempercayai bahwa atribut tersebut tidak dimiliki oleh produk bakso ikan merek "Asiong". Demikian pula halnya dengan atribut label yang dianggap cukup penting oleh responden "Asiong" (ei atribut label = 0,83). Berdasarkan nilai sikap Fishbein, responden "Asiong" memberikan nilai sikap terhadap obyek produk bakso ikan "Asiong" sebesar 5,80. Namun nilai sikap tersebut masih jauh dibandingkan dengan nilai sikap maksimal oleh responden kontrol yaitu sebesar 13,62. Hal serupa terlihat juga pada penilaian sikap terhadap produk bakso ikan "Asiong" oleh responden kontrol, yaitu dengan nilai sikap sebesar 5,09 dan nilai sikap maksimal sebesar 20,46. Responden agen memberikan nilai evaluasi tingkat kepentingan maupun nilai kepercayaan atribut pada produk bakso ikan "Asiong" yang positif terhadap seluruh atribut, meliputi nama merek, harga, pelayanan dari pabrik bakso ikan, tingkat keuntungan dan sistem pembayaran ke pabrik bakso ikan. Nilai evaluasi tingkat kepentingan tertinggi adalah tingkat keuntungan (1,50). Namun demikian, agen bakso ikan "Asiong" justru memberikan nilai kepercayaan terhadap ahibut dari produk bakso ikan yang paling kecil yaitu hanya sebesar 0,lO. Hal ini sesuai dengan keluhan dari para agen bakso ikan yang menganggap bahwa produk bakso ikan memberikan tingkat keuntungan yang paling kecil dibandingkan dengan produk-produk yang dijual lainnya. Nilai kepercayaan tertinggi diberikan pada atribut sistem pembayaran ke pabrik bakso ikan yaitu sebesar 1,OO. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan sistem pembayaran ke pabrik bakso ikan oleh agen dinilai menarik dan fleksibel, karena agen diberikan altematif sistem pembayaran yang dapat ditentukan sesuai dengan kesepakatan bersama, meliputi pembayaran tunai dan pembayaran dalam tenggang waktu tertentu (antara tujuh sampai sepuluh hari). Pada responden agen masih ditemukan kesenjangan antara nilai sikap yang hanya sebesar 2,08 dengan nilai sikap maksimal sebesar 10,20. Struktur pasar bakso ikan cenderung bersifat monopolistik, karena jumlah penjual dan pembeli banyak; informasi yang diketahui pembeli banyak, mudah dan murah untuk diperoleh; bebas keluar masuk industri; serta produknya bersifat tidak homogen, dimana pembeli mengetahui perbedaan yang dimiliki oleh produk sejenis dari produsen lain. Berdasarkan analisis persaingan industri, persaingan yang tejadi di dalam industri bakso ikan, ancaman produk substitusi dan daya tawar menawar pembeli tergolong sedang; sedangkan daya tawar menawar pemasok dan ancaman pendatang baru tergolong tinggi. Berdasarkan identifikasi pada analisis persaingan industri, survey konsumen dan analisis SWOT, dirumuskan bauran pemasaran sebagai berikut: mempromosikan manfaat bakso ikan sebagai sumber protein hewani, bebas bahan yang merugikan kesehatan dan harga bakso ikan "Asiong" yang terjangkau; melakukan penetrasi dan ekspansi pasar; mengikutsertakan karyawan dalam pelatihan di bengkel kerja; meningkatkan kualitas dan kuantitas produk bakso ikan melalui mekanisasi; menggalakan promosi; melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi, menjual bakso ikan di supermarket; mengemas seluruh produk bakso ikan dalam kemasan plastik yang bermerek dan berlabel yang informatif; meningkatkan pembinaan oleh instansi terkait terutama dalam hal higinitas produk serta sanitasi peralatan dan tata letak pabrik; meluncurkan produk bakso ikan dengan harga murah dan rasa lebih enak dibandingkan produk pesaing; melakukan efisiensi di segala bidang; menjaga ketersediaan produk dalam memenuhi kebutuhan pelanggan; pendistribusian produk secara terencana dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan; serta mencari altematif bahan baku selain ikan mata besar. Beberapa saran yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen UD. Jaya Bersama untuk meningkatkan daya saing produknya dibandingkan pesaing adalah: (1) melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi dan mengundang mahasiswa untuk melakukan penelitian mengenai pengembangan produk, (2) menyediakan kemasan plastik bermerek ukuran kecil untuk agedkonsumen, (3) mempertimbangkan penggunaan altematif nama merek untuk segmen menengah ke atas, misalnya digunakan merek " Pak Jaya". Di samping itu bagi Dinas Perikanan perlu meningkatkan pembinaan para pengusaha pengolahan hasil perikanan terutama meningkatkan kemampuan teknis maupun manajerial, termasuk kemampuan menghasilkan produk olahan perikanan yang memenuhi persyaratan higinitas produk dan sanitasi lingkungan yang ditentukan oleh Departemen Kesehatan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Bakso Ikan, UD. Jaya Bersama, Manajemen Pemasaran, Bauran Pemasaran, Preferensi, Multi Atribut Fishbein, SWOT, Analisis Persaingan Industri, DKI Jakarta, Survey Konsumen
Subjects: Manajemen Pemasaran
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-1 Perpustakaan
Date Deposited: 28 Dec 2011 06:29
Last Modified: 28 Dec 2011 06:29
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/547

Actions (login required)

View Item View Item