Analisis kinerja portofolio reksa dana terproteksi

Pramuji, Eko Babtista Yohanes (2007) Analisis kinerja portofolio reksa dana terproteksi. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
E25-01-Yohanes-Cover.pdf - Published Version

Download (326kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E25-02-Yohanes-Abstract.pdf - Published Version

Download (354kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E25-03-Yohanes-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (324kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E25-04-Yohanes-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (317kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E25-05-Yohanes-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (335kB) | Preview

Abstract

Kebiasaan menabung bagi sebagian masyarakat seakan telah mendarah daging dan sulit untuk mengalihkan dananya pada instrumen investasi yang lainnya. Kalupun ada masih bersifat konservatif yang terbatas pada instrumen investasi dalam bentuk emas (perhiasan), ataupun tanah dan bangunan. Sebagian masyarakat khususnya pemodal kecil masih belum menyadari bahwa untuk saat ini bunga yang diperoleh dari tabungan tidak lagi dapat menutup biaya administrasi yang dibebankan kepada penabung, sehingga dapat terjadi uang tabungan akan semakin habis. Alasan tersebut mendasari banyak pihak untuk melakukan edukasi kepada masyarakat terhadap pentingnya berinvestasi dengan memperkenalkan berbagai produk investasi baik pasar uang maupun pasar modal. Sejak diperkenalkan pada tahun 1996, Reksa Dana telah mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan, dana kelolaan Reksa Dana pernah mencapai sebesar Rp 110 triliun pada awal tahun 2005. Namun pada pertengahan tahun 2005 mengalami redemption yang amat besar sehingga dana kelolaan tersebut menyusut menjadi sekitar Rp 29,4 triliun. Terjadinya redemption dalam jumlah yang sangat besar tersebut diakibatkan oleh kondisi ekonomi makro yang kurang bersahabat, sehingga mempengaruhi kinerja Reksa Dana. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut, diantaranya adalah terus meningkatnya dan sulitnya untuk dikendalikan harga minyak dunia, dan fluktuasi tingkat suku bunga domestik serta internasional. Seiring dengan kenaikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tersebut, khususnya Reksa Dana Pendapatan Tetap (fixed income fund) terkena dampak negatif akibat menurunnya harga obligasi yang merupakan isi dari portofolionya. Sejak awal tahun 2003 Reksa Dana Pendapatan Tetap menjadi pilihan investor karena beranggapan jenis Reksa Dana ini paling aman dan memiliki tingkat pendapatan yang stabil. Dalam perjalanannya besarnya pengelolaan dana Reksa Dana mengalami pemulihan hingga saat ini per Mei 2007 telah mencapai di atas Rp 61 triliun. Diperkirakan pertumbuhan dana kelolaan ini akan terus mengalami peningkatan seiring dengan adanya kebijakan dari pemerintah yang hanya menjamin sampai dengan sebesar Rp 100.000.000, per nasabah per bank, yang berlaku mulai 22 Maret 2007, serta kecenderungan penurunan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate yang ditetapkan pada 7 Juni 2007 sebesar 8,50%. Kondisi tersebut akan menciptakan Reksa Dana sebagai salah satu instrumen investasi yang sangat menarik bagi masyarakat investor. Pertumbuhan setelah terjadinya crash tersebut tidak terlepas dari usaha dan kerja keras dari berbagai pihak, baik regulator maupun para pengelola dana dan praktisi pasar modal yang lain, diantaranya dengan memperkenalkan Reksa Dana Terproteksi. Dasar hukum yang mendasari keberadaan Reksa Dana Terproteksi tersebut adalah Peraturan Nomor: IV.C.4 tentang Pedoman Pengelolaan Reksa Dana Terproteksi, Reksa Dana Dengan Penjaminan, dan Reksa Dana Indeks, yang dikeluarkan melalui Surat Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor Kep- 08/PM/2005 pada tanggal 29 Juli 2005. Diterbitkannya peraturan tersebut juga dimaksudkan untuk membangun kembali kepercayaan investor yang hilang pada saat terjadinya redemption besar-besaran. Karena memang pada kenyataannya sebagian besar investor Reksa Dana mengalami trauma yang tidak mudah untuk dilupakan. Reksa Dana Terproteksi sebagai instrumen obat pelipur lara tentunya diharapkan dapat memberikan kinerja yang dapat menarik hati investor yang telah kecewa dimasa lalu, untuk kembali berinvestasi di Reksa Dana. Setelah lebih dari satu tahun keberadaan Reksa Dana Terproteksi, kiranya perlu untuk mengetahui kinerja Reksa Dana Terproteksi tersebut. Selain itu perlu juga untuk mengetahui pengelolaan portofolio Reksa Dana Terproteksi oleh Manajer Investasi. Apakah portofolio Reksa Dana Terproteksi telah dilakukan diversifikasi secara optimal, sehingga dapat memperkecil risiko yang ditanggung investor, atau dengan kata lain dapat menghasilkan return yang menarik bagi investor. Keterbatasan informasi tersebut menjadi alasan untuk dilakukannya penelitian terhadap Reksa Dana Terproteksi, dengan melakukan analisis terhadap kinerja portofolio Reksa Dana Terproteksi, dan menganalisis pengelolaan portofolio Reksa Dana Terproteksi. Selain itu perlu juga diketahui hubungan antara besarnya dana kelolaan dengan kinerja portofolio Reksa Dana Terproteksi. Semua informasi tersebut perlu segera diketahui oleh investor, agar dapat mengambil keputusan investasi dengan cepat. Seperti diketahui bahwa Reksa Dana Terproteksi ini merupakan Reksa Dana yang diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan investor terhadap instrumen Reksa Dana, sehingga dalam penelitian ini penulis hanya memfokuskan untuk mengevaluasi kinerja terhadap Reksa Dana Terproteksi saja. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat segera mengetahui kinerja Reksa Dana Terproteksi dan dapat mempertimbangkannya dalam melakukan investasi. Reksa Dana Terproteksi merupakan salah satu Reksa Dana Terstruktur yang menawarkan proteksi melalui mekanisme investasi yang berbeda dengan jenis Reksa Dana yang ada sebelumnya. Pengukuran kinerja Reksa Dana dapat dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dengan mengukur pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB/Net Asset Value) per Unit Penyertaan. Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat biasanya dengan mempertimbangkan faktor risiko dalam perhitungannya. Demikian juga dalam penelitian ini pengukuran kinerja berbasis risiko terhadap Reksa Dana Terproteksi dilakukan dengan menggunakan Metode Treynor, Sharpe, dan Jensen. Pengukuran kinerja portofolio Reksa Dana dengan mempertimbangkan faktor risiko akan memberikan informasi yang lebih lengkap kepada investor mengenai keterkaitan antara kinerja yang dihasilkan dengan risiko yang diambil untuk mencapai kinerja tersebut. Kunci dari keberhasilan Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan portofolio Reksa Dana diantaranya adalah dengan melakukan diversifikasi efek dalam suatu portofolio. Keberhasilan tersebut akan tercermin dari kinerja yang dihasilkan oleh portofolio Reksa Dana yang dikelolanya. Pengukuran kinerja Reksa Dana Terproteksi dilakukan menggunakan Metode Sharpe dan membandingkannya dengan benchmark (tolok ukur) yang telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam penelitian ini benchmark yang digunakan adalah rata-rata indeks Sharpe dari 125 Reksa Dana Pendapatan Tetap yang dihitung pada periode yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata indeks Sharpe Reksa Dana Terproteksi sebesar 0,4673 lebih dari rata-rata indeks Sharpe Reksa Dana Pendapatan Tetap yang digunakan sebagai benchmark (0,2314). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Reksa Dana Terproteksi ternyata dapat memberikan return yang lebih tinggi dari rata-rata return yang diperoleh Reksa Dana Pendapatan Tetap, sehingga Reksa Dana Terproteksi layak untuk diperhitungkan dalam melakukan investasi. Untuk mengetahui pengelolaan portofolio Reksa Dana Terproteksi yang dilakukan oleh Manajer Investasi, perlu dilakukan evaluasi dengan menggunakan penilaian kinerja Reksa Dana Terproteksi dengan Metode Treynor, Sharpe, dan Jensen. Penulis berasumsi bahwa pengelolaan dana yang baik akan tercermin dari konsistensi peringkat Reksa Dana Terproteksi terpilih yang diperoleh dengan menggunakan ketiga metode tersebut. Dasar pertimbangannya bahwa suatu Reksa Dana mempunyai indeks yang baik menurut salah satu metode, maka akan memperoleh indeks yang baik pula untuk metode yang lainnya. Reksa Dana Terproteksi yang mempunyai kinerja yang baik tentunya portofolionya telah terdiversifikasi secara optimal. Setelah dilakukan analisis diketahui bahwa peringkat kinerja yang diperoleh dari masing-masing Reksa Dana Terproteksi dengan menggunakan Metode Treynor, Sharpe, dan Jensen menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Sehingga dapat dikatakan bahwa Manajer Investasi dalam melakukan pengelolaan portofolio Reksa Dana Terproteksi pada periode tahun 2006, portofolionya belum terdiversifikasi secara optimal. Dari hasil penelitian disarankan bahwa dengan adanya kondisi ekonomi makro yang semakin membaik, diantaranya ditandai dengan penurunan tingkat suku bunga bank yang semakin menurun, maka perlu dipertimbangkan untuk melakukan investasi pada instrumen Reksa Dana Terproteksi karena terbukti dapat memberikan return yang menarik bagi investor. Selain itu, kepada pengelola dana dalam hal ini Manajer Investasi disarankan untuk melakukan diversifikasi portofolio Reksa Dana Terproteksi yang lebih optimal melalui alokasi aset yang tepat. Namun tetap perlu diingatkan kepada investor bahwa investasi pada instrumen Reksa Dana mengandung risiko, tidak terkecuali Reksa Dana Terproteksi. Kinerja masa lalu dari portofolio suatu Reksa Dana tidak mencerminkan kinerja untuk dimasa yang akan datang. Sebelum melakukan investasi pada Reksa Dana, perlu memahami terlebih dahulu informasi yang terkandung dalam prospektus Reksa Dana yang bersangkutan. Selamat berinvetasi.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Reksa Dana Terproteksi (Protected Fund), Kinerja Portofolio, Treynor, Sharpe, Jensen
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: Library
Date Deposited: 01 Aug 2011 08:24
Last Modified: 24 Jun 2016 03:48
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/57

Actions (login required)

View Item View Item