Strategi pengembangan agribisnis berbasis kelapa hibrida di lahan gambut

Johny, Juanda (1998) Strategi pengembangan agribisnis berbasis kelapa hibrida di lahan gambut. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
2-01-JohnyJuanda-cover.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
2-02-JohnyJuanda-RingkasanEksekutif.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
2-03-JohnyJuanda-DaftarIsi.pdf

Download (997kB)
[img]
Preview
PDF
2-04-JohnyJuanda-pendahuluan.pdf

Download (2MB)

Abstract

Perluasan areal pertanian di luar Jawa saat ini cenderung mengarah kepada lahan-Iahan marjinal, antara lain lahan rawa, karena lahan produktif sebagian besar telah digunakan untuk pengembangan wilayah. Menurut Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Departemen Pertanian (1992), luas lahan rawa di Indonesia adalah 33,4 juta hektar, terdiri atas lahan pasang surut dan lahan lebak . Lahan pasang surut sekitar 20 juta hektar, yang terpilah lebih lanjut menjadi lahan gambut dengan berbagai ketebalan dan lahan mineral. Luas lahan gambut di Indonesia menurut hasil pemetaan Soekardi dan Hidayat (1988) adalah sekitar 18,4 juta hektar. Gambut sebagai sumber daya alam mempunyai potensi yang besar untuk pembangunan, yaitu antara lain pembangunan lahan pertanian, sebagai bahan baku industri dan energi, serta sebagai penyangga ekologi. Lahan gambut yang sebelumnya merupakan lahan marjinal ternyata mempunyai potensi yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai daerah pertanian, bila lahan gambut tersebut dikelola dengan baik dan menggunakan teknologi tepat guna. Besarnya potensi lahan gambut untuk pengembangan agribisnis telah menarik minat berbagai pihak untuk mempelajari, memanfaatkan, dan mengelolanya. Langkah utama dalam pemanfaatan gambut adalah pembangunan tata jaringan reklamasi dan pengelolaan air, yang merupakan syarat penting dalam keberhasilan pengelolaan lahan gambut. Pengembangan agribisnis kelapa hibrida di lahan gambut pada proyek PIR-Trans PT. Guntung Hasrat Makmur (Sambu Group), keluarga petani sebagai pemilik kebun plasma seluas 34.600 ha dari total luas kebun proyek PIR-Trans seluas 43.250 ha. Oleh karena itu, manajemen yang diterapkan oleh PT. Guntung Hasrat Makmur dalam mengelola proyek tersebut diarahkan bukan saja untuk kepentingan perusahaan inti, tetapi juga bagi sebesar-besarnya kesejahteraan petani plasma sebagai mitra kerjanya. Berdasarkan uraian tersebut di atas, kajian penelitian difokuskan kepada faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan agribisnis berbasis kelapa hibrida di lahan gambut, strategi teknologi usahatani yang diterapkan oleh PT. Guntung Hasrat Makmur, dan strategi pengembangan agribisnis berbasis kelapa hibrida di lahan gambut yang dilaksanakan oleh PT. Guntung Hasrat Makmur. Tujuan penelitian adalah mengkaji Iingkungan internal dan lingkungan eksternal pengembangan agribisnis kelapa hibrida, mengkaji teknologi usahatani di lahan gambut yang sedang diterapkan oleh PT. Guntung Hasrat Makmur, dan merumuskan strategi pengembangan agribisnis kelapa hibrida di lahan gambut. Pengumpulan data primer dan informasi bahan kajian dikumpulkan melalui wawancara dengan karyawan PT. Guntung Hasrat Makmur dan para responden. Karyawan PT. Guntung Hasrat Makmur yang diwawancara di tingkat lokasi adalah general manager, wakil manager, asisten manager, staf penyuluh dan petugas penyuluh wilayah PIR. Sedangkan di tingkat kantor pusat adalah direksi PT. Guntung Hasrat Makmur. Data yang telah dikumpulkan diolah dan disajikan dalam bentuk tabulasi. Selanjutnya dilakukan pengkajian terhadap lingkungan eksternal dan internal. Penetapan misi dan tujuan jangka panjang didasarkan pada tugas dan fungsi PT. Guntung Hasrat Makmur sebagai perusahaan inti. Dalam terarah dan bertahap yang merupakan tujuan jangka pendek bagi PT. Guntung Hasrat Makmur. Selanjutnya, melalui penilaian para responden ditetapkan tujuan jangka pendek yang diprioritaskan, yaitu "Meningkatnya pendapatan perusahaan inti seiring dengan meningkatnya pendapatan petani plasma". Responden lain yang diambil adalah sebanyak sepuluh orang yang merupakan pakar yang terlibat langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek PIR-Trans PT. Guntung Hasrat Makmur. Untuk mengukur keberhasilan pencapaian tujuan jangka pendek tersebut digunakan indikator produktivitas kebun per hektar per tahun, pendapatan petani per tahun, dan kapasitas terpakai pabrik perusahaan inti per tahun. Mengacu pada tujuan jangka pendek prioritas dan indikator kinerja tersebut, ditetapkan sasaran kinerja yang ingin dicapai di masa yang akan datang atas dasar kinerja yang telah dicapai. Selanjutnya, untuk mengantisipasi berbagai hambatan yang akan merintangi pencapaian tujuan tersebut, diidentifikasikan kekuatan penghambat yang merintangi pencapaian tujuan jangka pendek prioritas. Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap kekuatan - kekuatan penghambat tersebut di atas, yang meliputi : (a) mengapa kekuatan penghambat itu terjadi; (b) apa pengaruh kekuatan penghambat terhadap pencapaian tujuan jangka pendek; (c) di mana terjadinya; (d) kapan hal itu terjadi; dan (e) siapa yang bertanggung jawab. Untuk menentukan prioritas pemecahan masalah, kekuatankekuatan penghambat yang sudah dianalisis di atas perlu diukur dengan pembobotan. Penentuan bobot tersebut didasarkan atas dua hal, yaitu: (1) besarnya dampak kekuatan penghambat terhadap pencapaian tujuan jangka pendek; dan (2) tingkat kemudahan memecahkan kekuatan penghambat. Di samping kekuatan-kekuatan penghambat, juga diidentifikasikan kekuatan-kekuatan pendorong yang membantu dalam pencapaian tujuan diidentifikasikan tersebut selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui mengapa kekuatan pendorong tersebut dapat membantu PT. Guntung Hasrat Makmur dalam mencapai tujuan. Di samping dampak relatif, kekuatan pendorong juga dinilai dari aspek tingkat kendali terhadap kekuatan pendorong. Kekuatan pendorong dan kekuatan penghambat dinilai kembali untuk menentukan tingkat kekuatan relatif dari masing-masing kekuatan pendorong dan penghambat dengan menggunakan matrik skala nilai kekuatan relatif. Selanjutnya, untuk menentukan keterkaitan antara kekuatan pendorong dengan kekuatan penghambat digunakan Matrik Dampak Silang. Dengan matrik tersebut dapat diketahui tingkatan keterkaitan antarkekuatan pendorong, antarkekuatan penghambat dan antara kekuatan pendorong dengan kekuatan penghambat. Setelah masing-masing kekuatan diukur kekuatan relatif dan keterkaitannya, selanjutnya dilakukan pemilihan kekuatan kunci yang ditujukan untuk penentuan strategi. Berdasarkan hasil pemilihan kekuatan kunci, maka prioritas kekuatan kunci yang terdiri dari tiga kekuatan pendorong kunci, dan empat kekuatan penghambat kunci ditetapkan. Kekuatan pendorong kunci adalah : (1) Tidak tergantung pada musim; (2) Terjaminnya ketersediaan bahan baku; (3) Tersedianya sumber pembiayaan yang jelas. Sementara itu empat kekuatan penghambat kunci adalah : (1) Rendahnya kemampuan petani plasma; (2) Kurang intensifnya pelaksanaan pemantauan; (3) Masih rendahnya profeionalisme staf dalam penyuluhan; dan (4) Kurangnya koordinasi antara perusahan inti, kelompok tani dengan instansi pemerintah terkait. Menunjuk pada kekuatan pendorong kunci dan kekuatan penghambat kunci, maka ditetapkan alternatif strategi yang diperkirakan tepat untuk memperbesar kekuatan pendorong kunci dan memperkecil kelapa hibrida dan nenas sepanjang tahun; (2) Meningkatkan efisiensi penyediaan kelapa hibrida dan nenas; (3) Meningkatkan efisiensi penggunaaan sumber pembiayaan; (4) Meningkatkan kualitas dan kemampuan petani plasma; (5) Intensifkan pelaksanaan pemantauan; (6) Tingkatkan protesionalisme stat penyuluhan; dan (7) Tingkatkan kordinasi dengan kelompok tani dan instansi pemerintah terkait. Berdasarkan strategi tersebut, disusun rencana kegiatan yang terkoordinasi. Langkah-Iangkah yang telah disusun tersebut perlu ditata kembali agar dapat ditetapkan kegiatan mana yang harus didahulukan dan memiliki prioritas tinggi.Kegiatan yang mempunyai prioritas tinggi antara lain ditentukan oleh pertimbangan waktu,upaya dan sumber daya yang tersedia, sehingga lebih terarah pada pencapaian tujuan jangka pendek yang diprioritaskan. Pencapaian tujuan jangka pendek tersebut merupakan langkah awal dalam pencapaian tujuan jangka panjang. Untuk mencapai tujuan jangka panjang diperlukan pencapaian tujuan jangka pendek secara berkelanjutan.Di mana untuk mencapai tujuan jangka pendek secara berkelanjutan tersebut sangat tergantung kepada kerjasama yang saling menguntungkan, saling mendukung, dan berkelanjutan dengan petani plasma. Untuk mewujudkan hal tersebut, disarankan : 1) Untuk meningkatkan kualitas petani plasma yang didukung dengan kelembagaannya, perusahaan inti perlu membentuk suatu kelompok kerja penyuluhan dan pembinaan petani plasma yang bertugas melakukan pendampingan kepada petani plasma dan kelembagaannya dalam melaksanakan kegiatan ekonominya; dan 2) PT. Guntung Hasrat Makmur sebagai perusahaan perlu mempertimbangkan untuk member kesempatan kepada petani plasma melalui koperasi petani plasma untukmemiliki saham perusahaan inti.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Strategi pengembangan agribisnis berbasis kelapa hibrida di lahan gambut
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 29 Dec 2011 04:43
Last Modified: 29 Dec 2011 04:43
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/579

Actions (login required)

View Item View Item