Kajian peranan dan kontribusi subsidi pemerintah dalam mendukung kelayakan investasi transmigran peserta agroestatestudi kasus proyek agroestate komoditas jambu mete di kecamatan tinanggea kabupaten kendari propinsi sulawesi tenggara

Hardy Benry, Simbolon (1997) Kajian peranan dan kontribusi subsidi pemerintah dalam mendukung kelayakan investasi transmigran peserta agroestatestudi kasus proyek agroestate komoditas jambu mete di kecamatan tinanggea kabupaten kendari propinsi sulawesi tenggara. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
1-01-Hardy-cover.pdf

Download (2MB)
[img]
Preview
PDF
1-02-Hardy-RingkasanEksekutif.pdf

Download (970kB)
[img]
Preview
PDF
1-03-Hardy-daftarIsi.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
1-04-Hardy-pendahuluan.pdf

Download (1MB)

Abstract

Konsep Agroestate mengambil analogi "Real Estate", yang diterapkan bagi program transmigrasi. Pada konsep ini dengan bertumpu pada berbagai komoditas yang memiliki keunggulan-keunggulan secara ekonomis, transmigran TSM dapat membeli suatu persil kebun lengkap dengan rumah dan pekarangannya yang dijual oleh investor/developer. Untuk mendukung terlaksananya Agroestate, masih tersedia peluang bagi transmigran TSM mendapatkan subsidi pemerintah dalam batas-batas yang waJar, yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi ekonomi proyek Agroestate ini. Masalahnya adalah apakah pemberian subsidi ini dapat meningkatkan daya tarik proyek Agroestate bagi calon peserta, pihak swasta dan pihak bank calon pemberi kredit ? Tujuan utama penelitian adalah untuk memberikan masukan bagi proses pengambilan keputusan dalam menetapkan komponen pembiayaan dan besaran dana subsidi Pemerintah, yang diperlukan untuk mendukung kelayakan pembangunan proyek investasi Agroestate. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengukur tingkat pengembalian proyek Agroestate dari sisi perusahaan inti (pT.AP) maupun dari sisi transmigran peserta, tanpa pemberian subsidi maupun dengan pemberian subsidi, serta mengenali upaya-upaya lain yang dapat ditempuh untuk mensukseskan proyek Agroestate tersebut. Kelayakan investasi perusahaan inti ditentukan berdasarkan kriteria tingkat pengembalian (IRR) investasi perusahaan inti, yang harus lebih besar dari bunga kredit komersial (20%). Sedangkan kelayakan investasi transmigran peserta ditentukan berdasarkan 3 (tiga) kriteria, yakni tingkat pengembalian investasi (IRR) usaha taninya yang harus lebih besar dari bunga KKPA (14%), tingkat pendapatan per KK per tahun minimal Rp. 3.500.000,- harus dapat dicapai pada tahun ke-5 setelah penempatan, serta tingkat bunga kredit pemilikan rumah (Rate of Return) yang mampu dibayar harus lebih besar dari bunga kredit (8,5%). Perhitungan dilakukan dengan menggunakan discounted cash-flows methods. Analisis yang dilakukan memberikan hasil-hasil sebagai berikut : I. Nilai IRR Investasi Perusahaan Inti sebesar 28,13 %, lebih tinggi dari biaya kredit (20%), berarti proyek layak diteruskan. 2. Tanpa subsidi pemerintah, IRR investasi usaha tani para transmigran peserta proyek Agroestate berkisar antara 18,38% sampai dengan 21,18%. Tingkat pendapatan lebih besar dari Rp. 3.500.000IKKJtahun dapat dicapai pada tahun ke-8 sampai tahun ke-IO setelah penempatan. Tingkat bunga kredit pemilikan rumah (rate of return) yang mampu dibayar berkisar pada angka 0,07% sampai dengan 4,45%. Hal ini berarti tanpa pemberian subsidi, proyek Agroestate ini belum layak ditinjau dari tingkat pendapatan transmigran peserta dan tingkat kemampuan membayar pengembalian kredit pemilikan rumah. 3. Dengan pemberian subsidi, IRR investasi usaha tani para transmigran peserta meningkat menjadi berkisar antara 19,55 % sampal dengan 22,91 %. Tingkat pendapatan lebih besar dari Rp. 3.500.000,-lKKItahun dapat dicapai pada tahun ke-8 sampai tahun ke-9 setelah penempatan. Tingkat bunga kredit pemilikan rumah yang mampu dibayar berbeda-beda tergantung paket subsidi yang diberikan. Berdasarkan hasil analisis dapat diambil beberapa kesimpulan penelitian sebagai berikut : 1. Tanpa pemberian subsidi, investasi proyek Agroestate ini layak pada sisi PT. AP, yang akan mendapatkan keuntungan ganda, yaitu pemecahan masalah kekurangan tenaga kerja, resiko investasi menjadi terbagi (risk sharing) dan menikmati tingkat keuntungan yang cukup besar. Sedangkan dari sisi transmigran peserta dinilai belum layak. 2. Pemberian subsidi pada komponen investasi usaha tani akan meningkatkan IRR usaha tani, meningkatkan pendapatan transmigran peserta serta berdampak pada peningkatan kemampuan membayar pengembalian kredit investasi pemilikan rumah. Dengan perkataan lain subsidi pada komponen usaha tani akan memberikan pengaruh ganda dan besar pada keberhasilan proyek Agroestate. 3. Walaupun sebagian biaya investasi telah disubsidi oleh pemerintah, dari sisi pihak bank yang akan mendanai investasi pemilikan rumah melalui kredit, proyek Agroestate ini tidak menarik dan tidak layak diteruskan, karena proyeksi kemampuan transmigran peserta untuk membayar kredit pemilikan rumah sangat rendah, dibawah tingkat bunga kredit (8,5%). 4. Dari sisi pendapatan transmigran peserta, proyek Agroestate ini juga kurang menarik, walaupun ada pemberian subsidi maksimal yang mirip dengan pemberian subsidi pada pelaksanaan TSB. Masalahnya adalah pada proyeksi pendapatan yang tidak memadai pada 8 tahun pertama sejak menetap. Apabila masalah ini dapat diatasi, maka proyek Agroestate ini akan menjadi menarik bagi para transmigran. 5. Secara umum dapat dikatakan bahwa kebijaksanaan yang ada dalam alokasi subsidi menyebabkan peluang subsidi pemerintah dalam pelaksanaan TSM-Agroestate komoditi jambu mete di Tinanggea kurang dapat memberikan peranan dan kontribusi agar proyek Agroestate ini menarik bagi berbagai pihak dan bisa berhasil. Dalam rangka meningkatkan daya tarik dan menjamin keberhasilan proyek Agroestate ini, disarankan beberapa hal sebagai berikut : I. Pemerintah meninjau kembali berbagai kebijaksanaannya yang berhubungan dengan alokasi pemberian subsidi, yakni lebih mengarahkan subsidi pada usaha produktif (usaha tani). Perlu dirancang upaya pemberian subsidi tidak hanya untuk komponen investasi tanaman pangan, melainkan juga subsidi untuk komponen investasi kebun; misalnya dengan bantuan penyiapan lahan, pengadaan bibit dan lain-lain. 2. Perusahaan inti (PT.AP) mengupayakan solusi untuk mengatasi masalah rendahnya tingkat pendapatan transmigran pada 8-10 tahun sejak penempatan. Untuk itu ada beberapa alternatifupaya yang dapat dilakukan yaitu : Mengurangi biaya bunga dan biaya manaJemen pada masa pembangunan, sehingga harga jual kebun menjadi lebih rendah, yang berarti mengurangi keuntungan inti. Biaya-biaya tersebut dapat dianggap sebagai biaya tidak relevan untuk diperhitungkan atau dianggap slink cost. - Meningkatkan harga pembelian (transfer) gelondong biji mete. Misalnya seperti pengaturan harga transfer TBS kelapa sawit pada pola PIR-Trans, sehingga dapat meningkatkan pendapatan para transmigran peserta. Memberikan bantuan untuk pemenuhan kebutuhan hidup para transrnigran peserta, yang berarti menaikkan tingkat pendapatan para transrnigran peserta di satu pihak, tetapi di lain pihak akan meningkatkan biaya operasional perusahaan inti.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Kajian peranan dan kontribusi subsidi pemerintah dalam mendukung kelayakan investasi transmigran peserta agroestatestudi kasus proyek agroestate komoditas jambu mete di kecamatan tinanggea kabupaten kendari propinsi sulawesi tenggara
Subjects: Manajemen Keuangan
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 29 Dec 2011 04:59
Last Modified: 29 Dec 2011 04:59
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/586

Actions (login required)

View Item View Item