Kajian Pengaruh Perubahan Penjualan Dan Biaya Terhadap Laba Dengan Menggunakan Analisis Biaya, Kapasitas Dan Laba Pada PT. Gunung Lingkung, Sukabumi

Djamil, Djemdjem (1997) Kajian Pengaruh Perubahan Penjualan Dan Biaya Terhadap Laba Dengan Menggunakan Analisis Biaya, Kapasitas Dan Laba Pada PT. Gunung Lingkung, Sukabumi. Masters thesis, IPB.

[img] Microsoft Word
Djemdjem_Djamil_RE.doc - Published Version

Download (45kB)
[img]
Preview
PDF
R9-01-DjemdjemDjamil-cover.pdf

Download (532kB)
[img]
Preview
PDF
R9-02-DjemdjemDjamil-RE.pdf

Download (552kB)
[img]
Preview
PDF
R9-03-DjemdjemDjamil-DaIsi.pdf

Download (510kB)
[img]
Preview
PDF
R9-04-DjemdjemDjamil-Bab1.pdf

Download (592kB)
[img] PDF
R9-05-DjemdjemDjamil-Bab2DST.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id/

Abstract

lndonesia merupakan negara agraris yang mempunyai potensi besar untuk rnenjadi salah satu produsen hasil perkebunan di dunia. Komoditi ekspor lndonesia dibidang perkebunan yang termasuk cukup besar dalam menghasilkan devisa negara adalah karet dan teh. Luas lahan perkebunan teh dan karet serta kondisi iklim tropis di lndonesia sangat mendukung perkembangan produksi teh dan karet. Perkembangan harga ekspor karet dan teh sangat berpengaruh terhadap maju mundurnya perkebunan karet dan teh di lndonesia. Akhir-akhir ini perkembangan harga karet menunjukkan prospek yang cukup baik namun dilain pihak harga teh menunjukkan prospek yang tidak menguntungkan. Beberapa tahun yang lampau komoditi karet merupakan primadona bagi lndonesia, namun kondisi tersebut tidak dapat berlangsung terus karena harga karet pernah mengalami perkembangan yang kurang menguntungkan. PT. Gunung Lingkung merupakan salah satu perusahaan swasta menengah yang bergerak dalam bidang perkebunan karet dan teh di daerah Kabupaten Sukabumi. Perkembangan harga karet dan teh yang berfluktuasi merupakan suatu kendala eksternal perusahaan dalam mengembangkan aktivitas perkebunan teh dan karet. Harga karet dan teh diluar jangkauan pengendalian perusahaan. Disamping adanya kendala eksternal perusahaan, PT. Gunung Lingkung juga mempunyai kendala internal. Kendala internal yang dihadapi perusahaan antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia, umur tanaman karet dan teh pada umumnya telah tua, umur peralatan perkebunan dan pabrik telah tua, dan biaya untuk melakukan investasi peremajaan tanaman karet dan teh serta peralatan perkebunan dan pabrik semakin terbatas. Berdasar hal-ha1 tersebut diatas maka Geladikarya dititik beratkan pada kajian pengaruh perubahan penjualan dan biaya terhadap laba dengan menggunakan analisis biaya, kapasitas dan laba perusahaan. Pada laporan Geladikarya ini dilakukan analisis perilaku biaya untuk memisahkan biaya perusahaan ke dalam biaya tetap dan biaya variabel, yang dilakukan dengan metode kuadrat terkecil, yaitu melakukan pemilahan terhadap biaya campuran dengan menggunakan rumus regresi : Y = a + bx. Atas pemisahan biaya tetap dan biaya variabel ini dilakukan analisis titik impas perusahaan dengan menggunakan metode multiple product analysis, karena jumlah produk yang dihasilkan oleh PT. Gunung Lingkung lebih dari satu. - Jumlah biaya perusahaan pada tahun 1994 adalah Rp.551.404.469,61 dan tahun 1995 sebesar Rp.668.370.322,61. Hasil penjualan tahun 1994 dari karet sebesar Rp.114.872.000,- dan teh sebesar Rp.468.275.000,-. Dari hasil penjualan tersebut perusahaan dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp.54.537.128,43. Untuk tahun 1995 hasil penjualan karet adalah Rp.317.470.000,- dan teh sebesar Rp.420.556.000,- dengan keuntungan yang dicapai sebesar Rp.66.122.202,54. Dari hasil analisis struktur dan perilaku biaya dapat diketahui biaya tetap perusahaan periode pembukuan tahun 1995 sebesar Rp.264.645.230,61. Besarnya biaya variabel tiap kg masing-masing jenis produk adalah sbb : - Karet Crepe 1 = Rp.1.218,77 - Karet Crepe l a = Rp.1.078,45 - Karet Crepe 1 b = Rp.1.018,30 - Karet Compo = Rp. 998,80 - Teh Peko = Rp.1.299,32, - Teh Kasar = Rp. 706,22, - Teh Bubuk = Rp. 687,83, - Tulang Teh = Rp. 152,86. Dengan memperhatikan harga jual masing-masing jenis produk, hasil produk karet mempunyai laba kontribusi per kg yang lebih besar jika dibandingkan dengan hasil produksi teh kering. Dengan demikian hasil produk karet per kg memberikan sumbangan yang besar di dalam menutup biaya tetap perusahaan. Peningkatan penjualan 1 kg produk karet akan meningkatkan laba perusahaan lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatan penjualan 1 kg teh kering. Dari hasil analisis titik impas terhadap periode pembukuan tahun 1995, titik impas perusahaan tercapai pada tingkat penjualan sebesar Rp.632.398.987,- atau sebanyak 856,79 paket produk yang terdiri dari 81.019 kg karet dan 239.247 kg teh kering. Apabila terjadi peningkatan jumlah penjualan karet sebesar 12,lO %, titik impas tercapai pada tingkat penjualan sebesar Rp.573.639.603,- atau sebanyak 639,63 paket produk dan tingkat penjualan teh turun sebesar 25,34 %. Dilain pihak apabila terjadi peningkatan jumlah penjualan teh kering sebesar 29,25 %, titik impas dapat tercapai pada tingkat penjualan sebesar Rp.700.221.398,- atau sebanyak 738,30 paket produk dan jumlah penjualan karet turun 13,83 %. Dengan demikian tingkat kapasitas penjualan karet lebih besar pengaruhnya pada tingkat titik impas perusahaan atau laba kontribusi per kg karet lebih besar dari pada tingkat laba kontribusi teh per kg. Pada tingkat harga jual per Oktober 1996 dimana harga jual karet jauh lebih rendah dan harga jual teh peko lebih tinggi dari rata-rata harga jual tahun 1995, tingkat titik impas perusahaan tercapai pada tingkat penjualan sebesar Rp.630.686.650,- atau sebanyak 852,79 paket dengan kornposisi 80.642 kg karet dan 238.134 kg teh kering. Dengan demikian tingkat penjualan pada titik impas lebih rendah dari pada tahun 1995 atau adanya pengaruh perubahan harga jual terhadap titik impas, jumlah unit yang dijual dan laba perusahaan. Hal ini lebih jelas lagi pada saat harga jual teh peko diturunkan dari Rp.1.800,- per kg rnenjadi Rp.1.500,- per kg. Tingkat penjualan yang harus dicapai pada saat titik impas besarnya Rp.723.769.350,- atau 1.069,66 paket dengan komposisi jumlah penjualan karet 101.149 kg dan teh 298.693 kg. Pada harga jual sesuai dengan bulan Oktober 1996, apabila jumlah penjualan karet meningkat 13,95 % dari tahun 1995. Tingkat penjualan pada saat titik impas tercapai adalah sebesar Rp.579.076.000,- atau sebanyak 650,88 paket produk yaitu 92.322 kg karet dan 181.754 kg teh kering. Apabila jumlah penjualan teh yang berubah sebesar 25,48 % dari tahun 1995, titik impas dapat tercapai pada saat jumlah penjualan sebesar Rp.687.507.950,- atau 716,75 paket produk yaitu 67.777 kg karet dan 300.219 kg untuk teh kering. Luas lahan kebun karet yang rnenghasilkan 113 hektar atau 68,75 % dari luas lahan kebun karet 164,36 hektar dengan kapasitas 1.100 kg per hektar per tahun atau 124.300 kg pertahun. Sedangkan luas lahan kebun teh yang menghasilkan 288 hektar atau 88,41 % dari luas lahan kebun teh 325,75 hektar dengan kapsitas 1.300 kg teh kering per hektar per tahun atau kapasitas kebun teh 374.400 kg per tahun. Pada tingkat biaya tetap yang tidak berubah sedangkan kapasitas produksi/penjualan meningkat maka jumlah biaya tetap yang dibebankan terhadap unit produk akan lebih kecil. Hal ini akan berpengaruh terhadap biaya per unit produk yaitu akan menjadi lebih rendah atau turun. Dengan demikian antara biaya, kapasitas dan laba perusahaan mempunyai keterkaitan yang erat sekali. Apabila salah satu komponen mengalami perubahan maka akan mempengaruhi perubahan komponen lainnya serta tingkat penjualan yang harus dicapai pada saat titik impas terjadi. Dengan bertitik tolak pada keadaan tersebut diatas maka disarankan kepada PT. Gunung Lingkung untuk tetap merawat perkebunan teh dan karet, agar kontinuitas usaha perusahaan dapat berjalan terus apabila harga jual salah satu produknya mengalami penurunan atau kenaikan. Terhadap tanaman teh dan karet perlu terus dilakukan peremajaan dan juga melakukan peremajaan peralatan perkebunan dan pabrik serta pembelian mesin Ball Tea segera direalisir, agar dapat meningkatkan jumlah produksi serta gairah kerja karyawan. Perusahaan harus berusaha untuk meningkatkan kapasitas produksi dan penjualan, karena dengan meningkatnya produksi dan penjualan dapat menekan biaya.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Analisis Biaya, Kapasitas Dan Laba, PT. Gunung Lingkung Sukabumi
Subjects: Manajemen Keuangan
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-6 Perpustakaan
Date Deposited: 18 Jan 2012 03:42
Last Modified: 18 Jan 2012 03:42
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/650

Actions (login required)

View Item View Item