Kajian Manajemen Teknologi Agribisnis pada Koperasi Agribisnis Tarutama Nusantara, Jember

Zuhriati, Jetty Sri (1997) Kajian Manajemen Teknologi Agribisnis pada Koperasi Agribisnis Tarutama Nusantara, Jember. Masters thesis, IPB University.

[img] Text
R09-01-Jetty-Cover.pdf - Published Version

Download (398kB)
[img] Text
R09-02-Jetty-Ringkasan.pdf - Published Version

Download (343kB)
[img] Text
R09-03-Jetty-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (340kB)
[img] Text
R09-04-Jetty-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (382kB)
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
Official URL: https://library.sb.ipb.ac.id/

Abstract

Sektor agribisnis merupakan sektor yang sedang digalakkan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan pendapatan devisa dari sektor non migas. Dilain pihak pemerintah mengharapkan dapat menghasilkan komoditi-komoditi unggulan di sektor agribisnis sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor komoditi-komoditi dimaksud, khususnya komoditi tanaman pangan dan hortikultura. Salah satu kebijakan pemerintah adalah program penganekaragaman tanaman pangan dan hortikultura. Koperasi Agribisnis Tarutama Nusantara, Jember atau lebih dikenal dengan nama Kopa TTN adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang agribisnis dengan bentuk Koperasi mandiri. Pada awal perusahaan ini berdiri yaitu tahun 1990, perusahaan hanya bergerak dalam bidang usaha budidaya dan pengolahan tembakau Na Oogst yaitu tembakau khusus untuk industri cerutu dan dibudidayakan secara tradisional. Pada tahun 1991 perusahaan mulai menggunakan teknologi budidaya tembakau secara lebih canggih yaitu dengan sistem yang dikenal dengan TBN (Tembakau Bawah Naungan) yakni tanaman tembakau yang diberi kelambu untuk menciptakan kondisi alam yang diinginkan. Untuk mengantisipasi pasar tembakau (Na Oogst) yang terbatas dan cenderung menurun karena adanya gerakan anti rokok, maka perusahaan mengadakan diversifikasi usaha ke budidaya dan pengolahan pisang dan wijen. Komoditi diversifikasi tersebut dipilih karena pertimbangan pasar yang masih cukup luas dan kebutuhan yang terus meningkat. Secara umum permasalahan dalam bidang agribisnis adalah bagaimana menyiasati alam sehingga sifat-sifat komoditi agribisnis yang cepat rusak dan musiman dapat diatasi. Secara khusus permasalahan yang dihadapi perusahaana dalah belum dapat memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat karena tidak sinambungnya mutu dan jumlah produksi khususnya komoditi diversifikasi (pisang dan wijen) dan bagaimana pelaksanaan manajemen teknologi yang harus diterapkan sehingga permasalahan tersebut dapat diatasi. Tujuan geladikarya ini adalah untuk mengkaji sistem pelaksanaan manajemen teknologi agribisnis di Kopa TTN, mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi tidak sinambungnya jumlah produksi dan mutu serta memberikan altematif pengembangan teknologi yang paling mungkin dilaksanakan sesuai dengan kondisi perusahaan saat ini. Penelitian dalam geladikarya ini menggunakan metode studi kasus dengan analisis deskriptif. Informasi dan data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan metode "Science and Technological Management Information Systems" yang mengacu pada indikator-indikator teknologi, khususnya yang digunakan dalam geladikarya ini adalah indikator kemampuan teknologi dan indikator transformasi teknologi. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan statistika non parametrik untuk menguji hubungan antar indikator yang ditelaah. Berdasarkan pengkajian dengan metode nilai (bobot) untuk indikator transformasi teknologi, maka dapat disimpulkan bahwa Koperasi Agribisnis Tarutama Nusantara ditinjau dari perangkat teknologi, perangkat manusia, perangkat informasi dan perangkat organisasinya mampu melaksanakan diversifikasi usaha ke komoditi non tembakau, khususnya pisang dan wijen, sehingga dapat menghasilkan jumlah dan mutu produksi yang berkesinambungan . Ini dapat dijelaskan sebagai berikut : (1) Dari segi perangkat teknologi, masing-masing komoditi telah mendukung operasional perusahaan saat ini. Tembakau Na Oogst bawah naungan ( TBN ) mempunyai rata-rata nilai 2 yang berarti masih menggunakan mesin-mesin manual dan sebagian bermotor, untuk komoditi pisang dan wijen mempunyai rata-rata nilai 2 (dua) yang berarti masih menggunakan mesin manual. (2) Dari segi perangkat manusia, ditinjau dari level bawah (pekerja teknis) sampai ke level manajer mempunyai rata-rata nilai 5 yang berarti mampu mengoperasikan, mengadaptasi dan mereproduksi teknologi canggih yang diperlukan dibidangnya. Khusus dalam hal ini, tingkat penyelia dan manajer mempunyai nilai rata-rata 8 yaitu mampu mengadaptasi, menyempumakan dan melakukan inovasi. (3) Dari segi perangkat informasi, maka Kopa TTN telah sampai pada menghayati fakta, khususnya untuk tembakau TBN, sedangkan untuk pisang dan wijen bam sampai menggunakan fakta. Dalam ha1 ini berarti jaringan informasi untuk komoditi tembakau telah dikuasai, sehingga dapat dipergunakan untuk acuan dalam berproduksi, sedangkan untuk komoditi pisang dan wijen belum dikuasai. Rata-rata nilai yang dicapai untuk perangkat informasi (tembakau) adalah 5 yang berarti sudah mengarah kedalam katagori menghayati fakta, sedangkan untuk komoditi non tembakau mencapai nilai 3, berarti dalam katagori menspesifikasi fakta. (4) Dari segi perangkat organisasi, nilai rata-rata yang dicapai adalah 6 (enam) yang berarti Kopa TTN secara umum memapankan pola kerja sekaligus menguasai pola kerja unggul. Dilain pihak, untuk komoditi pisang dan wijen masih mempunyai nilai 3 (tiga) yang berarti masih dalam taraf mencari bentuk pola kerja. Berdasarkan pengkajian indikator kemampuan teknologi, yaitu kemampuan operatif, kemampuan akuisitif, kemampuan suportif dan kemampuan inovatif diperoleh hal-hal sebagai berikut : (1) Dari pengkajian kemampuan operatif, perusahaan ini mencapai peringkat 4 (empat) untuk tembakau, yang berarti terbaik di Jawa Timur, dan peringkat 2 (dua) untuk komoditi non tembakau yaitu kategori mampu. (2) Dari pengkajian kemampuan akuisitif perusahaan mempunyai kemampuan akuisitif yang sangat baik, yaitu mencapai rata-rata peringkat 4 (empat), yakni terbaik di Jawa Timur untuk komoditi tembakau dan rata-rata peringkat 2 (dua) untuk komoditi non tembakau. (3) Dan pengkajian kemampuan suportif (penunjang), perusahaan mencapai rata-rata peringkat 4 (empat) yakni terbaik di Jawa Timur untuk komoditi tembakau dan peringkat 2 (dua) yakni masih dalam kategori mampu untuk komoditi non tembakau. (4) Dari pengkajian kemampuan inovatif, perusahaan mencapai rata-rata peringkat 3 (tiga) yakni sebanding dengan pesaing di Jawa Timur untuk komoditi tembakau dan untuk komoditi non tembakau mencapai rata-rata peringkat 2 (dua) yang berarti dalam kategori mampu. Sesuai dengan pengujian yang dilakukan dengan analisis statistika non parametrik diperoleh hasil : (1) indikator teknologi berbeda nyata dengan harapan, (2) indikator sumberdaya manusia tidak berbeda nyata dengan harapan, (3) indikator informasi berbeda nyata untuk komoditi non tembakau, tidak berbeda nyata untuk komoditi tembakau dan (4) indikator organisasi tidak berbeda nyata dengan harapan. Pengujian antara indikator transformasi teknologi dan indikator kemampuan teknologi, terbukti hubungan kedua indikator tersebut adalah independen, artinya tidak saling mempengaruhi. Memperhatikan hal-ha1 di atas maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan telah melaksanakan manajemen teknologi secara konsekwen, dalam arti peran antar indikator cukup menunjang. Meskipun demikian masih terdapat beberapa kendala antara lain : (1) Belum dibakukannya pola kerja, khususnya pada komoditi non tembakau. (2) Perangkat informasi untuk komoditi non tembakau belum memadai. (3) Belum adanya pola kemitraan yang sesuai untuk komoditi non tembakau. (4) Organisasi pengelolaan komoditi non tembakau masih belum dibakukan. (5) Terbatasnya lahan dan modal. Untuk mendukung strategi diversifikasi produk yang diterapkan perusahaan untuk mengantisipasi turunnya permintaan tembakau, maka hal yang perlu mendapatkan perhatian perusahaan adalah penggunaan teknologi yang sesuai dengan kemampuan perusahaan, sehingga efisiensi tenaga kerja dapat dilaksanakan. Dilain pihak perusahaan tidak mungkin menambah tenaga kerja lagi mengingat komponen biaya tenaga kerja telah mencapai 67 % dari seluruh biaya produksi. Dalam ha1 ini perusahaan dapat menggunakan teknologi unggulan untuk agribisnis, khususnya untuk komoditi non tembakau, yang sesuai dengan kondisi perusahaan, yaitu (1) mikroelektronika dan teknologi informatika untuk menghadapi pasar global, (2) bioteknologi untuk menciptakan komoditi unggulan di bidang non tembakau, (3) teknologi industri khususnya penanganan pasca panen dan nilai tambah hasil pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian, meningkatkan mutu, menekan kehilangan serta meminimisasi jumlah limbah yang dihasilkan, (4) kemitraan, khususnya untuk komoditi non tembakau.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Manajemen Teknologi Agribisnis, Koperasi Agribisnis Tarutama Nusantara-Jember
Subjects: Manajemen Teknologi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-6 Perpustakaan
Date Deposited: 18 Jan 2012 03:43
Last Modified: 23 May 2023 03:36
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/717

Actions (login required)

View Item View Item