Analisis tingkat efisiensi faktor-faktor operasional bri dan btn

Herlambang, Sigit (2008) Analisis tingkat efisiensi faktor-faktor operasional bri dan btn. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
E27-01-Sigit-Cover.pdf - Published Version

Download (367kB)
[img]
Preview
PDF
E27-02-Sigit-Abstract.pdf - Published Version

Download (356kB)
[img]
Preview
PDF
E27-03-Sigit-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (387kB)
[img]
Preview
PDF
E27-04-Sigit-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (365kB)
[img]
Preview
PDF
E27-05-Sigit-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (699kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Kinerja perbankan nasional selama kurun waktu tahun 2005-2007 telah menunjukan perkembangan ke arah perbaikan, meskipun dalam prakteknya telah melalui tahapan yang sulit dalam melakukan konsolidasi. Seiring dengan hal tersebut perbankan nasional ditantang untuk melakukan praktek intermediasi perbankan secara lebih optimal, dibandingkan hanya menempatkan kelebihan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Selama kurun waktu 2005-2007 tingkat suku bunga SBI menunjukan penurunan yang cukup signifikan. Berkaitan dengan hal tersebut diharapkan pihak perbankan dapat lebih memaksimalkan fungsi intermediasinya sehingga dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi pada sektor riil, meskipun pada prakteknya hal tersebut sangat tergantung pada kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter. Berdasarkan fungsinya sebagai lembaga intermediasi, maka lembaga perbankan dihadapkan pada kemampuan dalam berkompetisi dipasar guna menjaga kelangsungan hidupnya. Rendahnya kemampuan dalam menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) maupun rendahnya kemampuan dalam mengelola penyaluran kredit, dapat mengakibatkan suatu entitas menjadi tidak efisien dalam prakteknya. Namun dilain pihak, suatu bank yang efisien menunjukan kemampuan yang lebih dalam melakukan pengelolaan keuangan secara optimal dan mengeruk keuntungan secara maksimal. Penelitian yang dilakukan oleh Ragan et al. (1988) menyimpulkan bahwa ukuran suatu bank berpengaruh positif terhadap efisiensi. Artinya semakin besar suatu bank, maka akan semakin efisien karena dapat memaksimalkan economic of scale. Berdasarkan kepemilikannya maka dapat diketahui bahwa peta perbankan di Indonesia dikuasai oleh enam kelompok bank, yaitu Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bank Swasta Devisa, Bank Swasta Non Devisa, Bank Pembangunan Daerah, Bank Asing, dan Bank Campuran. Kepemilikan saham pihak asing diperbankan nasional telah mencapai 48,51%, sedangkan kepemilikan saham pemerintah diperbankan tinggal 37,45%, sementara sisanya sebesar 14,04% dimiliki oleh pihak swasta nasional. Meningkatnya kepemilikan saham pihak asing tersebut lebih banyak akibat langkah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang menjual kepemilikan pemerintah dibeberapa bank swasta yang direkap. Perubahan orientasi pada lembaga keuangan tersebut telah mengarah pada penciptaan liberalisasi perbankan yang pada akhirnya meningkatkan persaingan antar bank dan menuju kepada persaingan yang tidak sehat. Perkembangan liberalisasi keuangan global itu pula yang mengakibatkan perlunya tindakan dari pemerintah guna menata bank BUMN yang dimilikinya. Khususnya pada mekanisme operasional bank BUMN maupun mereposisi fokus bisnisnya. Pada masa kepemimpinan Sugiarto maupun Sofyan Djalil sebagai Menteri BUMN telah mengemukakan beberapa rencana untuk mengkonsolidasikan bank pelat merah terutama bagi BRI dan BTN. Hal tersebut berkaitan dengan program API dan dimaksudkan untuk meningkatkan economic of scale maupun perluasan akses pasar. Sebagaimana diketahui bahwa bank merupakan lembaga keuangan yang memiliki peranan penting untuk mempengaruhi perekonomian, baik secara mikro maupun secara makro. Di Indonesia, perbankan mempunyai pangsa pasar sebesar ± 80% dari keseluruhan sistem keuangan yang ada. Ditinjau dari peran perbankan yang begitu dominan, maka dalam setiap pengambilan keputusan haruslah melakukan kajian/evaluasi atas efisiensi kinerjanya, sehingga setiap keputusan yang diambil akan memiliki asumsi yang kuat untuk dijadikan alasan. Atas dasar rencana pemerintah tersebut, maka diperlukan suatu analisa untuk mengupas kinerja BRI dan BTN dari sisi efisiensi dan mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan inefisiensi secara komparatif. Kajian tersebut dilakukan sebagai identifikasi awal dalam menyusun cetak biru terhadap kedua perusahaan sehingga dapat mengungkap tingkat efisiensi, kelemahan ataupun kekuatan dari entitas yang diteliti. Walaupun terdapat beberapa pendekatan dalam melakukan pengukuran kinerja yang dapat digunakan, baik secara statistik maupun rasio keuangan. Namun dalam penulisan tesis ini, pendekatan yang akan dipergunakan untuk melakukan pengukuran kinerja ialah dengan menggunakan metode statistik Non-Parametrik yaitu Data Envelopment Analysis (DEA) yang mengacu pada pendekatan intermediasi (intermediation approach). Melalui penggunaan metode tersebut, maka fokus penulisan dalam tesis ini ialah untuk melakukan pengukuran kinerja keuangan pada tingkat efisiensi faktor-faktor operasional BRI dan BTN diantara 15 bank umum nasional dengan kriteria aset terbesar pada kurun waktu tahun 2005-2007 melalui pendekatan intermediasi perbankan. Penggunaan data pada tahun tersebut diambil dengan pertimbangan bahwa pada tahun 2005-2007 tingkat suku bunga SBI menunjukan penurunan yang cukup signifikan, sehingga hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan fungsi intermediasi perbankan. Dari hasil identifikasi masalah, maka hal penting yang harus diketahui dan dikaji dalam pengukuran efisiensi faktor-faktor operasional antara BRI dan BTN adalah bagaimana tingkat efisiensi dari BRI dan BTN selama tahun 2005, 2006 dan 2007 dibandingkan bank umum nasional lainnya, berapa nilai yang disyaratkan bagi BRI dan BTN untuk berperilaku efisien pada tataran variabel penelitian yang dipergunakan. Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka ditetapkan tujuan penelitian yaitu mengetahui tingkat efisiensi BRI dan BTN dalam cakupannya diantara bank umum nasional lainnya, merumuskan nilai yang harus dicapai guna mendapatkan nilai efisien pada tataran variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. Penelitian ini difokuskan pada pengukuran efisiensi pada variabel-variabel yang telah ditentukan. Pada penelitian ini akan dilakukan pengukuran efisiensi terhadap 15 bank umum nasional yang memiliki aset terbesar pada tahun 2005, 2006 dan 2007 dengan metode DEA, untuk kemudian fokus akhir yang akan diamati hanyalah tingkat efisiensi BRI dan BTN saja. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan yaitu dari bulan Maret sampai dengan April 2008. Sementara itu data yang dikumpulkan berupa data sekunder. Data sekunder yang didapat berupa laporan keuangan dari publikasi laporan keuangan yang melalui website Bank Indonesia (http://www.bi.go.id) maupun publikasi laporan keuangan yang dipublikasikan di media massa dan website masing-masing bank. Sementara untuk jumlah tenaga kerja didapat dari Laporan Bank Umum (LBU). Penentuan sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah dengan maksud untuk mendapatkan kondisi yang homogen diantara sampel yang diteliti, dimana sampel bank yang dipergunakan kurang lebih memiliki core business yang hampir sama. Penentuan jumlah sampel DMU yang akan dipergunakan pada penelitian ini telah sesuai dengan rules of thumb yang dikemukakan oleh Boussofiane et al. (1991) ataupun Dyson et al (2001). Pada penelitian ini akan dipergunakan sebanyak 15 buah sampel laporan keuangan Bank Umum Nasional dengan kriteria aset terbesar selama tahun 2005-2007. Pada tahap awal penelitian ialah melakukan penentuan Variabel Sharing, Variabel Input dan Variabel Output yang akan digunakan sebagai acuan dalam pengukuran efisiensi. Variabel sharing yang akan dipergunakan, yaitu terdiri dari Jumlah Tenaga Kerja (Labour) (X1), Dana yang dapat dipinjamkan (Loanable Fund) (X2) dan Aktiva Tetap (X3). Variabel input, yang digunakan ialah Price of Labour (P1), Price of Lonable Fund (P2), Price of Physical Capital (P3). Untuk variabel output yang akan digunakan ialah Kredit yang diberikan (Loans) (Y1) dan Surat berharga yang dimiliki (Securities) (Y2). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa nilai efisiensi dari BRI pada tahun 2005-2007 menunjukan nilai 100%, artinya perusahaan tersebut telah beroperasi dalam keadaan relatif efisien. Ternyata tingkat efisiensi relatif tersebut sejalan dengan kinerja keuangan BRI, dimana laba pada 2005 (Rp. 3,8 Triliun), tahun 2006 (Rp. 4,2 Triliun) dan tahun 2007 (Rp. 4,8 Triliun) secara terus menerus menujukan pertumbuhan yang positif. Dilain pihak nilai efisiensi untuk BTN menunjukan nilai yang tidak efisien, dimana untuk tahun 2005 bernilai 22,04%, untuk tahun 2006 bernilai 18,89% dan untuk tahun 2007 bernilai 21,20%. Hasil perhitungan efisiensi tersebut sejalan dengan laba yang dihasilkan, dimana laba yang dihasilkan pada tahun 2005 ialah sebesar Rp. 418,9 Milyar pada tahun 2006 sebesar Rp. 354,5 Milyar dan pada tahun 2007 sebesar Rp. 402 Milyar. Untuk tahun 2005 terlihat bahwa nilai λ untuk BRI adalah 1, artinya perusahaan tersebut telah memiliki nilai yang efisien sehingga tidak perlu melakukan benchmark terhadap perusahaan lain. Sementara itu karena nilai BTN tidak efisien maka diketahui bahwa perusahaan tersebut perlu melakukan benchmark terhadap BRI sebesar 0,9034 dan terhadap Bank Panin sebesar 0,0966 untuk mendapatkan nilai yang efisien. Untuk tahun 2006 terlihat bahwa nilai λ untuk BRI adalah 1, artinya perusahaan tersebut telah memiliki nilai yang efisien sehingga tidak perlu melakukan benchmark terhadap perusahaan lain. Sementara itu karena nilai BTN tidak efisien maka diketahui bahwa perusahaan tersebut perlu melakukan benchmark terhadap Mandiri sebesar 0,2874 dan terhadap BRI sebesar 0,7126 untuk mendapatkan nilai yang efisien. Untuk tahun 2007 terlihat bahwa nilai λ untuk BRI adalah 1, artinya perusahaan tersebut telah memiliki nilai yang efisien sehingga tidak perlu melakukan benchmark terhadap perusahaan lain. Sementara itu karena nilai BTN tidak efisien maka diketahui bahwa perusahaan tersebut perlu melakukan benchmark terhadap BNI sebesar 0,3137 dan terhadap BRI sebesar 0,6863 untuk mendapatkan nilai yang efisien. Kemudian berdasarkan perhitungan DEA diketahui bahwa untuk tahun 2005-2007 BRI tidak perlu melakukan perubahan pada nilai input maupun output yang dipergunakan. Berbeda dengan BTN yang perlu melakukan perubahan pada nilai input maupun output yang dipergunakan untuk mencapai titik efisien

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Efisiensi, Data Envelopment Analysis (DEA), BRI, BTN
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: Library
Date Deposited: 04 Aug 2011 01:24
Last Modified: 06 Nov 2014 08:39
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/77

Actions (login required)

View Item View Item