Strategi Pengembangan Agribisnis Markisa di Propinsi Sulawesi Selatan.

Najamuddin, Mudatsir (2001) Strategi Pengembangan Agribisnis Markisa di Propinsi Sulawesi Selatan. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
r15-01-mudatsir_najamuddin-cover.pdf

Download (354kB)
[img]
Preview
PDF
r15-02-mudatsir_najamuddin-ringkasan_eksekutif.pdf

Download (365kB)
[img]
Preview
PDF
r15-03-mudatsir_najamuddin-daftar_isi.pdf

Download (387kB)
[img]
Preview
PDF
r15-04-mudatsir_najamuddin-pendahuluan.pdf

Download (451kB)
[img] PDF
img-117150519.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-117150659.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-117150838.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-117151031.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

MUDATSIR NAJAMUDDIN, 2001. Strategi Pengembangan Agribisnis Markisa di Propinsi Sulawesi Selatan. Di bawah bimbingan SETIADI DJOHAR dan WABYUDI. Markisa ungu atau siuh (Passrflora edulis Sims.) yang lebih dikenal dengan nama markisa Malino merupakan tanaman spesifik Sulawesi Selatan dan telah dilepas sebagai varietas unggul berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.583/Kpts.240/7/94, tanggal 23 Juli 1994. Pelepasan tersebut antara lain didasarkan pada (1) potensi produksi yang tinggi dan stabil, (2) tahan terhadap penggerek buah dan toleran terhadap penyakit layu cendawan. Markisa telah lama ditanam dan diolah menjadi minuman sari buah oleh masyarakat setempat, bahkan telah diekspor sejak tahun 1970-an, namun baru pada tahun anggaran 1992/1993, Pemerintah mengembangkannya melalui beberapa proyeMprogram pengembangan clan rehabilitasi tanainan serta proyek/program pembinaan dan pengembangan industri pengolahan markisa. Data statistik menunjukkan bahwa jumlah tanaman (luas tanam) clan produksi markisa pada sentra-sentra produksi (Kabupaten Gowa, Sinjai, Tator, dan Polmas) dalam lima tahun temkhir cenderung meningkat. Jika pada tahun 1995, jumlah tanaman sebanyak 2.850.242 pohon atau lebih kurang 2.850 ha dengan produksi 31.287 ton buah, pada tahun 1998, jumlah tersebut meningkat masing-masing menjadi 5.036.117 pohon (lebih kurang 5.036 hektar) dan 38.177 ton buah. Sedangkan jumlah industri pengolahan markisa sampai dengan tahun 1998 tercatat 37 buah dengan kapasitas produksi terpasang 2.878.024 liter sari buah markisa. Dari kapasitas produksi tersebut, produksi nil (kapasitas terpakai) yang dicapai baru sebesar 1.308.304 liter sari atau 45,46% dari kapasitas terpakai dengan jumlah pemakaian bahan baku sebanyak 104.664.320 biji atau setara dengan 4.187 ton buah markisa. Walaupun pengembangan usahatani markisa (subsistem usahatani) telah dilakukan oleh Pemerintah dalam 10 tahun terakhir, namun perkembangannya belum menunjukkan hasil yang optimal. Hal ini terlihat dari masih sulitnya industri pengolahan terutama yang berkapasitas besar memperoleh bahan baku buah markisa sesuai dengan kebutuhan baik dalam jumlah, mutu, maupun kontinyuitasnya. Pada subsistem industri pengolahan, kualitas produk olahan juga masih rendah serta penggunaan bahan additif sintetis seperti pengawet, pemanis, dan pewama yang tidak sesuai dengan syarat mutu yang ditetapkan oleh Standar Industri Indonesia Nomor 0232-77 (SII 0232-77) Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia. Selain itu, pemasaran produk olahan juga masih terbatas (lokal dan domestik). Walaupun terdapat perusahaan yang mengekspor produknya, namun dalam volume yang kecil clan tidak kontinyu. Mencermati permasalahan tersebut di atas, dianggap perlu untuk melakukan penelitian tentang strategi pengembangan agribisnis markisa di Sulawesi Selatan dengan rumusan masalah (1) bagaimana upaya pengembangan agribisnis markisa di Sulawesi Selatan, (2) faktor-faktor strategik apa yang berpengaruh dan menentukan keberhasilan pengembangan agribisnis markisa tersebut, (3) Sejauh mana faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap pengembangan agribisnis markisa, dan (4) Bagaimana strategi yang efektif dalam mengembangkan agribisnis markisa di Sulawesi Selatan. Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji strategi pengembangan agribisnis markisa selama ini, (2) mengidentifikasikan faktor-faktor strategik yang berpengaruh, (3) menganaiisis sejauh mana pengaruh faktor-faktor tersebut dan (4) merekomendasikan strategi yang tepat yang dapat diterapkan dalam pengembangan agribisnis markisa di Sulawesi Selatan. Penelitian ini dibatasi pada perencanaan strategi pengembangan agribisnis markisa di Sulawesi Selatan khususnya di Wilayah Karaeng Lompo (Kabupaten Gowa dan Sinjai) dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Ruang lingkup penelitian ini mencakup aspek-aspek strategis dan menentukan keberhasilan pengembangan agribinsis markisa di Propinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang bersifat deskriptif dengan memakai teknik perbandingan berpasangan (paired comparison) dan analisis SWOT. Penentuan faktor-faktor intemal dan ekstemal didasarkan pada hasil penilaian lima orang pakar yang menjadi responden, serta hasil pengamatan dan studi pustaka yang dilakukan. Faktor-faktor strategis (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) diperoleh berdasarkan hasil identifikasi dan kajian terbadap faktor intemal dan ekstemal. Faktor-faktor tersebut yaitu (1) kekuatan: merupakan tanaman spesifik daerah, sumberdaya lahan dan petani tersedia, jumlah industri pengolahan relatif banyak, jar& sentra usahatani dengan industri relatif dekat, komoditas (produk) sudah dikenal luas di dalam clan di luar negeri (2) kelemahan: daya saing dengan komoditas lain rendah, modal keja terbatas, kemitraan antara industri pengolahan dengan petani tidak bejalan baik, pembinaan dan pengembangan usaha belum optimal, posisi tawar dan informasi pasar petani lemah; (3) peluang: meningkatnya harga jual buah markisa, dukungan kebijakan dan komitmen pemerintah, terbukanya pasar ekspor, perkembangan teknologi dan informasi, stabilitas kurs; (4) Ancaman: pertumbuhan ekonomi yang rendah, tingkat suku bunga yang tinggi, biaya hansportasi semakin mahal, kondisi politik dan keamanan, kondisi pasar global, serangan hama dan penyakit tanaman. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa nilai faktor kelemahan lebih besar daripada faktor kekuatan, sedangkan faktor peluang lebih besar daripada faktor ancaman. Berdasarkan diagram analisis SWOT menunjukkan bahwa posisi usaha agribisnis markisa di Sulawesi Selatan berada pada kuadran Ill. Dengan demikian strategi yang dapat diterapkan adalah strategi yang mendukung putar balik (tum around). Berdasarkan posisi usaha tersebut di atas, dilakukan penentuan alternatif strategi dengan menggunakan matriks SWOT sebingga hperoleh 4 formulasi strategi utama, yaitu (1) Strategi S-0 : peningkatan produksi melalui intensifikasi, rehabilitasi dan ekstensifikasi, pengembangan kualitas dan hygienitas produk olahan, pengembangan pasar (domestik dan ekspor) produk olahan, danpengembangan usaha promosi produk olahan. (2) Strategi S-T : peningkatan efisiensi proses produksi, proteksi tanaman secara terpadu, dan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya. (3) Strategi W-0 : perbaikan sistem produksi dan manajemen usaha, peningkatan teknologi pengolahan dan kemasan produk, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, pemberdayaan petani dan kelompok tani, pengembangan pola kemitraan petani dan pengusaha industri pengolahan, dan peningkatan peran dan kerjasama lembaga terkait. (4) Strategi W-T : Optimalisasi dukungan sarana dan prasana, dan diversifikasi usaha. Berdasarkan alternatif strategi tersebut di atas, diperoleh pilihan strategi pengembangan agribisnis markisa di Sulawesi Selatan sebagai berikut : (1) perbaikan sistem produksi dan manajemen usaha, (2) pemberdayaan petani dan kelompok tani, (3) pengembangan pola kemitraan petani clan pengusaha industri pengolahan, (4) peningkatan teknologi pengolahan dan kemasan produk, (5) optimalisasi dukungan sarana dan prasarana, dan (6) peningkatan peran dan ke rjasama lembaga terkait. Strategi terpilih tersebut kemudian diimplementasikan dalam benttk program pengembangan yang secara garis besar dibagi dalam tiga tahap yaitu program jangka pendek (2001) : (1) pemberdayaan kelembagaan petani, (2) perbaikan sistem pemasaran buah markisa; program jangka menengah (2002 - 2004) : (1) pembenahan sistem produksi usahatani dan industri pengolahan, (2) penciptaan pola pembiayaan (permodalan) usaha, (3) pengembangan sumberdaya manusia, sarana dan prasarana, (4) pelaksanaan penelitian dan pengembangan teknologi budidaya, teknologi produksi tepat guna dan kemasan produk olahan, dan (5) pembentukan forum informal petani-pengusaha industn' pengolahan; dan program jangka panjang (2005 ke atas) : (1) pemantapan sistem pemasaran buah markisa dan produk olahan antaranya, (2) pemantapan sistem produksi usahatani, (3) pemantapan sistem produksi produk olahan, (4) melanjutkan penelitian dan pengembangan teknolog budidaya tanaman markisa, (5) melaksanakan penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan dan kemasan produk olahan, (6) memantapkan ke rjasama kemitraan (pra dan pasca produksi) petani dengan industri pengolahan dan antar industri pengolahan hulu dengan hilir. Pelaksanaan seluruh program tersebut di atas dapat terlaksana dengan baik apabila terjadi koordinasi yang baik antar intansi atau lembaga yang terlibat. Dalam hal ini, diperlukan komitmen yang kuat dengan visi dan persepsi yang sama dari Pemerintah Daerah dan instansi teknis terkait (serta pengusaha industri pengolahan) dalam membenahi kelemahan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang yang besar bagi pengembangan agribinis markisa di Sulawesi Selatan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Strategi Pengembangan Agribisnis, Markisa ,Propinsi Sulawesi Selatan.
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-7 Perpustakaan
Date Deposited: 12 Jan 2012 09:18
Last Modified: 26 Jan 2012 04:48
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/849

Actions (login required)

View Item View Item