Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham agribisnis di bej menggunakan model arbitrange princing theory

Rika, Azmi (2001) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham agribisnis di bej menggunakan model arbitrange princing theory. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
17B-01-Rika-cover.pdf

Download (335kB)
[img]
Preview
PDF
17B-02-Rika-RingkasanEksekutif.pdf

Download (368kB)
[img]
Preview
PDF
17B-03-Rika-daftarIsi.pdf

Download (333kB)
[img]
Preview
PDF
17B-04-Rika-pendahuluan.pdf

Download (388kB)

Abstract

Kondisi Makro ekonomi Indonesia pada tahun 2000 relatif lebih baik dibandingkan dari tahun 1999. Kondisi ini seharusnya tercermin pada pasar modal Indonesia khususnya di BEJ karena pergerakan saham di BEJ merupakan dampak simultan dan kompleks dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: faktor makro ekonomi, faktor politiklkeamanan, dan kondisi pasar global. Ketiga faktor ini merupakan resiko sistematis yang dihadapi semua perusahaan termasuk perusahaan agribisnis. Data menunjukkan nilai kapitalisasi saham agribisnis pada bulan Januari 2001 hanya 6.78% dari total kapitalisasi pasar sehingga sulit untuk mengatakan bahwa pergerakan MSG di BEJ merupakan garnbaran pergerakan harga saham agribisnis. Penelitian empiris menunjukkan bahwa semakin banyak saham yang diamati semakin banyak faktor yang berpengaruh. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham secara sektoral khususnya saham agribisnis. Model keseimbangan yang mengakomodasi banyak faktor untuk menganalisis arah pergerakan harga saham adalah model Arbitrage Pricing Theory (APT). Model ini memiliki kelebihan dari model keseimbangan lainnya, yaitu model Capital Asset Pricing niodel (CAPM) karena model ini selain dapat menganalisis banyak faktor, model ini juga tidak didasarkan pada marketportfolio sehingga dapat menganalisis saham tertentu tanpa melakukan identifikasi terlebih dahulu terhadap market portfolionya. Berdasarkan hal-ha1 di atas maka masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut: (1) Faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham agribisnis di Bursa Efek Jakarta, (2) Apakah pergerakan MSG dalam bentuk model satu faktor dapat digunakan secara lebih tepat dalam menganalisis pergerakan harga saham emiten agribisnis, (3) Bagaimana model keseimbangan APT saham agribisnis agar pemodal mendapatkan keuntungan yang optimal dari investasi yang dilakukan, dan (4) Bagaimana kecenderungan faktor-faktor ke depan dan pengaruhnya terhadap tingkat pengembalian saham agribisnis. Bertitik tolak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Menganalisis faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap harga saham agribisnis, (2) Menganalisis apakah MSG sebagai model satu faktor dapat digunakan secara tepat dalam melihat pergerakan harga saham agribisnis, (3) Merumuskan model keseimbangan APT saham agribisnis, dan (4) Menganalisis kecenderungan faktor ke depan serta pengaruhnya terhadap return saham agibisnis. Ruang lingkup penelitian mencakup tiga hal, yaitu: Pertama, variabel pengamatan mencakup sebelas variabel yang mewakili tiga kelompok faktor, yaitu : faktor makro ekonomi meliputi: tingkat inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, dan suku bunga SBI berjangka tiga bulan, faktor pasar global meliputi: suku bunga AS dan indeks bursa regional (Nikkei Stock Average 225 (Jepang), All Shares (Singapura), Kuala Lumpur Composite Index, dan Tailand Composite Index), dan faktor politik/kebijakan pemerintah meliputi: pergantian pemerintah (dalam ha1 ini dari pemerintahan Habiebie ke Abdurrachman Wahid), isyu dan kebijakan resuffle kabinet dan kebijakan Bank Indonesia tentang pembatasan transaksi rupiah terhadap warga non residen. Kedua, Emiten pengamatan adalah perusahaan-perusahaan yang telah listing di BEJ sejak Oktober 1998. Ketiga, data pengamatan diambil setahun sebelum pergantian presiden dari Habiebie ke Abdurrachman Wahid, yaitu mulai Oktober 1998 hingga januari 2001. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dan statistik. Faktor-faktor pengamatan dideskripsikan secara teoritis dengan harga atau return saham dan selanjutnya dilakukan analisis statistik. Untuk mengidentifikasi faktor dominan menggunakan matriks korelasi dan analisis faktor. selanjutnya dilakukan analisis regresi untuk melihat ketepatan IHSG dalam menganalisis pergerakan harga saham agribisnis. Model APT yang dibentuk menggunakan perhitungan secara matematis dalam menetapkan premi resiko setiap faktor. Analisis kecenderungan faktor ke depan menggunakan analisis deskripsi melalui grafik. Hasil analisis korelasi menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara indeks Nikkei dan nilai tukar rupiah (-0.606), indeks Singapura dan indeks Malaysia (0.836), indeks Nikkei dan indeks Singapura (0.793), indeks Nikkei dan indeks Malaysia (0.761), suku bunga AS dan indeks komposit Thailand (0.574), nilai tukar dan suku bunga AS (-0.635), suku bunga SBI dan suku bunga AS (0.544), pergantian pemerintah dan suku bunga SBI (-0.589) serta pergantian pemerintah dan insyu/kebijakan resuffle kabinet (0.548). Sedangkan hasil analisis faktor menunjukkan terdapat lima faktor yang dominan dari sebelas faktor pengamatan, yaitu: indeks Nikkei, indeks Thailand, suku bunga SBI, pergantian pemerintah dan tingkat inflasi. Walaupun ada korelasi yang cukup h a t antara suku bunga SBI dengan pergantian pemerintah tetapi overlap varians yang terjadi kurang dari 35% sehingga dapat diabaikan untuk multiple linem reflession analysis. Hasil analisis regresi linear antara IHSG sebagai variabel independen dengan harga saham individual agribisnis menunjukkan saham-saham yang dapat dijelaskan oleh IHSG secara signifikan adalah: JPFA, SPD, BRPT, SULI, FASW, INRU, SPMA dan SAP. Sedangkan saham-saham yang variasi harganya dapat dijelaskan secara signifikan oleh model multifaktor adalah: AALI, BASP, LISP, CPDW, MBAI, DGSA, CPIN, CPPR, SHSA, DSUC, SUDI, INKP dan TKIM. Selain itu jika dilihat dari nilai R-Square ( i ) atau koefesien determinan maka untuk model satu faktor IHSG, 38.1% saham pengamatan memiliki nilai R-Square (adj) lebih dari 50%, sedangkan untuk model multifaktor dengan lima faktor dominan sebagai variabel independennya menunjukkan 80.9% saham pengamatan memiliki nilai R-Square (adj) lebih dari 50%. Artinya kemampuan menjelaskan IHSG sebagai faktor tunggal dalam variasi harga saham agribisnis lebih rendah dibandingkan dengan model multifaktor. Hasil perhitungan secara matematis terhadap premi resiko lima faktor dominan menghasilkan nilai premi resiko sebagai berikut: premi resiko faktor indeks Nikkei 929.5169, indeks Thailand 7.126297, suku bunga SBI -7.87975, pergantian pemerintah 0.26794 dan tingkat inflasi 0.325303. Berdasarkan nilai premi resiko ini maka model keseimbangan APT yang dapat dirumuskan adalah : Hasil analisis terhadap pengujian model APT dengan menggunakan analisis cross sectional antara eskpektasi return saham dengan nilai sensitivitas saham terhadap suatu faktor menunjukkan kemampuan menjelaskan model APT hanya 27.8%, artinya hanya 27.8% variasi return saham agribisnis dapat dijelaskan oleh lima faktor dominan, yaitu indeks Nikkei, indeks Thailand, suku bunga SBI, faktor pergantian pemerintahan, dan tingkat inflasi. Sedangkan 72.2% dijelaskan oleh faktor lainnya. Demikian pula dari analisis terhadap pembentukan portofolio berhasil diidentifikasi kombinasi portofolio CPDW, SIPD dan SPMA sebagai berikut: membeli saham CPDW dan SIPD masing-masing dengan proporsi portofolio 0.1 d m 0.341 serta pada saat yang sama menjualnya dengan proporsi yang sama yaitu 0.441. Tetapi dari analisis pergerakan saham menunjukkan bahwa arah pergerakan saham SIPD dan CPDW yang diperkirakan akan turun sesuai dengan hasil ekspektasi return dalam model APT tetapi arah pergerakan saham SPMA justru berlawanan dengan hasil ekspektasi return dalam model APT. Hasil analisis kecenderungan ke depan terhadap suku bunga SBI menunjukkan pergerakan suku bunga SBI selama 1998 hingga pertengahan tahun 2000 cenderung menurun tetapi dari pertengahan tahun 2000 sampai Januari 2001, suku bunga SBI kembali mengalami kenaikan dan pada awal bulan Mei 2001 pemerintah meng'ajukan kenaikan asumsi suku bunga SBI dalam APBN 2001 dari 11% menjadi 15% sebagai antisipasi terhadap kecenderungan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan meningkatnya inflasi karena kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik dan berbagai pajak atas barang dan pendapatan. Demikian pula hasil analisis terhadap inflasi menunjukkan kecenderungan meningkat pada awal tahun 2001. Hal ini juga diantisipasi pemerintah dengan menaikkan asumsi inflasi kumulatif tahun 2001 dari 6.0%- 6.5% menjadi 9.3%. Dari hasil analisis dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwaarah pergerakan return saham agribisnis sulit untuk diperkirakan mengingat dari analisis sensitivitas return saham agribisnis terhadap kedua faktor yaitu SBI dan tingkat inflasi menunjukkan pengaruh yang berlawanan, karena kenaikan SBI akan memberikan sentimen positif terhadap return saham agribisnis sementara tingkat inflasi justru memberikan sentimen negatif Selain itu juga dapat disimpulkan walaupun model APT yang dibentuk hanya mampu mejelaskan 27.8% dari variasi return saham agribisnis, namun dari analisis regresi menunjukkan return saham agribisnis dipengaruhi oleh: faktor indeks Nikkei berpengaruh positif, indeks komposit Thailand berpengaruh positif, suku bunga SBI berpengaruh positif, faktor pergantian pemerintah berpengaruh positif dan tingkat inflasi berpengaruh negatif.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: IHSG, return saham, model Arbitrage Pricing Theory, koefesien determinan, premi resiko, nilai sensitivitas faktor, cross sectional, dan portofolio arbitrase
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 04 Jan 2012 06:29
Last Modified: 04 Jan 2012 06:29
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/871

Actions (login required)

View Item View Item