Analisa penetapan harga transfer getah pinus pada perum perhutani unit iii jawa barat

SUGENG, HARlYADl (2001) Analisa penetapan harga transfer getah pinus pada perum perhutani unit iii jawa barat. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
17B-01-sugeng-over.pdf

Download (300kB)
[img]
Preview
PDF
17B-02-sugeng-ringkasanEksekutif.pdf

Download (366kB)
[img]
Preview
PDF
17B-03-sugeng-daftarIsi.pdf

Download (319kB)
[img]
Preview
PDF
17B-04-sugeng-pendahuluan.pdf

Download (393kB)

Abstract

Salah satu tolok ukur penilaian prestasi kerja Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH)/Administratur di Perum Perhutani adalah tingkat perolehan laba, dimana laba suatu KPH ditentukan oleh hasil penjualan dan pendapatan transfer. Oleh karena itu untuk memberi rasa keadilan bagi KPH-KPH yang terkait dengan proses transfer tersebut perlu adanya penetapan harga transfer yang dapat diterima oleh semua KPH dan tidak merugikan salah satu KPH. Harga transfer getah pinus yang ditetapkan oleh Direksi Perum Perhutani selama ini cenderung merugikan KPH penghasil getah pinus. Metode atau cara perhitungan harga transfer akan menentukan tingkat keadilan harga transfer yang ditetapkan oleh manajer puncak, selanjutnya akan berpengaruh terhadap transparansi dan tingkat keadilan dalam menilai kinerja manajer Divisi atau pusat laba. Penilaian kinerja yang adil akan mampu mendorong atau memotivasi manajer divisi atau KPH untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya, karena penghargaan (reward) atau hukuman (punishment) yang diperoleh telah mencerminkan prestasi yang telah dicapai. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka rumusan masalah dalam gladikarya ini adalah (1) berapa besar harga getah pinus yang tepat dan adil, (2) bagaimana pengaruhnya terhadap tingkat perolehan laba (profitabilitas) KPH yang bersangkutan, (3) strategi atau langkah-langkah apa yang perlu dilakukan oleh KPH bersangkutan, dan (4) apakah perubahan harga transfer akan mempengaruhi harga jual gondorukem dan terpentin. Tujuan geladikarya adalah (1) mengevaluasi penetapan harga transfer yang berlaku di Perum Perhutani Unit Ill Jawa Barat, (2) merekomendasikan penetapan harga transfer yang berkeadilan bagi semua KPH, (3) memberi informasi manajemen Perum Pehutani dalam rangka pengambilan keputusn untuk membeli atau menjula getah pinus dari dan ke luar perusahaan, dan (4) merekomendasikan penilaian kinerja Kesatuan Pemangkuan Hutan di Unit Ill Jawa Barat. Adapun ruang lingkup geladikarya ini adalah studi kasus transfer getah pinus dari KPH penghasil getah ke pabrik pengolahan Gondorukem dan Terpentin di Wilayah perum perhutani Unit Ill Jawa Barat. Lokasi Geladikarya adalah kantor Unit Ill Jawa Barat. Kesatuan Pemangkuan Hutan Bogor, Cianjur dan Sukabumi, yang dilaksanakan pada bulan September sampai pertengahan Nopember 2000. Jenis data yang dikumpulkan adalah data sekunder dan data primer. Perhitungan penetapan harga transfer digunakan pendekatan (1) biaya. (2) harga pasar gondorukem dan terpenting, dan (3) pembagian laba (profit sharing), sedangakan untuk penilaian kinerja atau prestasi keja Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) digunakan pendekatan pesentase pengurangan biaya pembinaan hutan. Sesuai dengan kebijakan akuntansi yang ditetapkan direksi Perum Perhutani maka sistem akuntansi manajemen yang diterapkan masih berada dilevel tradisional, dicirikan oleh produk informasi yang dihasilkan masih terfokus pada peristiwa-peristiwa dalam organisasi dan data dan informasi yang disajikan dikuantitatifkan berdasarkan ukuran moneter serta laporan pertanggungjawaban keuangannya disusun berdasarkan prinsip biaya historis. Meskipun secara mekanistis setiap Kesatuan pemangkuan Hutan (KPH) telah terlibat langsung dalam penyusunan anggaran, namun tingkat ketergantungan KPH kepada Direksi dalam menentukan target-target masih sangat tinggi, ha1 ini menunjukkan bahwa Perum Perhutani masih bersifat sentralistik. Harga transfer getah pinus yang berlaku sejak tahun 1997 hingga 2000 secara berurutan adalah sebagai berikut Rp. 455.600,-/ton, Rp 455.600,-/ton, Rp. 1.117.885,-/ton, dan Rp. 1.314.800,-/ton, sedangkan biaya produksi variabel untuk menghasilkan setiap ton getah pinus berurutan dari tahun 1997 hingga 2000 adalah sebagai berikut Rp 481.783,-, Rp. 819.093,-, Rp. 1.000.103,-, dan Rp. 1.162.71 1, sehingga setiap ton getah pinus yang diproduksi KPH penghasil (pengirim) getah akan menanggung beban kerugian, semakin banyak getah pinus yang dihasilkan oleh suatu KPH maka semakin besar beban kerugian yang akan ditanggung atau dengan pengertian lain tingkat perolehan laba KPH tersebut akan semakin turun, keadaan demikian dapat mengakibatkan KPH penghasil getah pinus enggan meningkatkan produksi maupun memperluas areal sadapanya, sehingga produksi getah pinus di Unit Ill Jawa Barat masih sangat rendah dibandingkan luas kelas hutsn pinus yang dimiliki. Hasil perhitungan harga transfer atas dasar biaya dari tahun 1997 hingga 2000 secara berurutan adalah sebagai berikut ; Rp. 683.693,-/ton, Rp. 1.159.981;-/ton, Rp. 1.412.87,-/ton dan Rp. 1.659.193,-/ton, dengan demikian setiap KPH penghasil getah berkesempatan untuk memperoleh laba kontribusi sebesar kurang lebih 40 % dari biaya produksi langsung yang dikeluarkan. namun pendekatan ini belum memberi rasa adil dan tidak menguntungkan perusahaan secara keseluruhan, karena bagi KPH penghasil (pengirim) getah pinus akan cenderung memperbesar anggaran (budget) penyadapan getah dan enggan memproduksi getah lebih banyak. Sedangkan bagi PGT Sindangwangi terjadi peningkatan anggaran pada KPH pengirim/penghasil getah pinus akan sangat merugikan. Kenaikan harga jual dan volume produksi hanya akan dinikmati PGT Sindangwangi. Sebaliknya penetapan harga transfer atas dasar harga pasar gondorukem dan terpentin akan secara otomatis memberi laba kontribusi sebesar 40,54 % dari biaya pengolahan gondorukem dan terpentin, meskipun harga jual dan volume produksi gondorukem dan terpentin terus meningkat. Karena dasar penentuan laba kontribusinya adalah biaya yang dikeluarkan maka PGT Sindangwangi cenderung berupaya meningkatkan anggaran (budget) produksi gondorukem dan terpentin dan mereka tidak termotivsi untuk meningkatkan efisiensi maupun produksinya. Hasil perhitungan harga transfer atas dasar harga pasar gondorukem dan terpentin dari tahun 1997 sampai 2000 adalah sebagai berikut ; Rp. 1.087.535,-/ton, Rp. 2,434.148,-lton, Rp. 2.024089.-/ton dan Rp. 1.572.975,-Iton, sedangkan biaya rata-rata yang dibutuhkan untuk memproduksi satu ton gondorukem atau terpentin adalah Rp. 127.572,-, Rp. 213.539,-, Rp. 446.243,- dan Rp. 375.683,-. Selanjutnya untuk memberi rasa keadilan bagi KPH penghasil (pengirim) maupun penerima transfer getah pinus maka dalam penetapan harga transfer sebaiknya ditetapkan atas dasar kompromi dengan pendekatan pembagian laba (profit sharing). Harga transfer yang ditetapkan atas dasar pembagian laba memberi laba kontribusi yang relatif sama bagi KPH pengirim getah pinus maupun penerima transfer getah pinus sesuai dengan kontribusi biaya yang dikeluarkan. Hasil perhitungan harga transfer atas dasar pembagian laba tahun 1997 sampai dengan tahun 2000 secara beurutan adalah sebagai berikut ; Rp 954.349,-lton, Rp. 1.984.894,-/ton, Rp. 1.819.778.-/ton, dan Rp 1.592.591 ,-/ton. Selain adil bagi kedua pihak penetapan harga tersebut dapat mendorong terjadinya sinergi antara KPH pengirim getah pinus dengan KPH penerima transfer getah pinus, sehingga kepentingan perusahaan secara keseluruhan tetap menjadi pertimbangan utama setiap KPH. Untuk mengukur kinerja KPH penghasil getah pinus digunakan ukuran persentase pengurangan biaya pembinaan hutan akibat pendapatan transfer getah pinus. Berdasarkan ukuran tersebut. KPH Sukabumi dinyatakan sebagai KPH penghasil getah pinus yang paling baik, selanjutnya diikuti oleh KPH Cianjur dan KPH Bogor. Perubahan penetapan harga transfer berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan KPH penghasil getah pinus, Adanya laba kontribusi dari proses transfer getah tersebut akan memotivasi atau mendorong setiap KPH penghasil getah pinus meningkatkan produksinya baik melalui peningkatan produktivitas sadapan maupun memperluas areal sadapan baru, karena semakin tinggi produksi getah pinus yang dihasilkan akan semakin besar laba kontribusi yang akan diperoleh KPH yang bersangkutan. Peningkatan produksi getah pinus berarti ketersediaan bahan baku menjadi baik dan pabrik gondorukem dan terpentin dapat bekerja pada kapasitas penuh. Selama ini PGT Sindangwangi belum beroperasi secara penuh atau baru sekitar 70 % dari kapasitasnya. Meskipun perubahan harga transfer tersebut akan berpengaruh terhadap peningkatan biaya bahan baku produksi gondorukem dan terpentin, namun peningkatan biaya produksi gondorukem dan terpentin tidak sama dengan besarnya kenaikan biaya bahan baku, karena dengan ketersediaan bahan baku yang cukup, memungkinkan pabrik dapat bekerja pada kapasitas penuh sehingga biaya overhead pabrik (BOP) dan biaya tenaga kerja menjadi turun. Disamping itu dengan meningkatnya volume produksi gondorukem dan terpentin berarti pendapatan dan perlehan laba PGT Sindangwangi akan naik. Oleh karena itu untuk rnempertahankan perolehan laba pada PGT Sindangwangi akibat perubahan harga transfer, maka manajemen pabrik perlu mengupayakan peningkatan efisiensi melalui pengendalian biaya dan mengupayakan peningkatan volume produksi dengan menambah kapasitas pabrik atau meningkatkan kapasitas pabrik dengan menambah jam kerja mesin yaitu melalui kerja lembur Kenaikan harga transfer tersebut tidak berpengaruh terhadap laba perusahaan, karena secara keseluruhan perusahaan biaya-biaya yang berkaitan dengan proses produksi getah pinus maupun gondorukem dan terpenting tidak berubah. Perubahan harga transfer hanya akan berpengaruh terhadap perhitungan laba kontribusi pada KPH penghasil getah pinus dan perhitungan harga pokok produksi pada KPH Penerima transfer getah pinus (PGT) Sindangwangi. Dengan demikian laba perusahaan secara keseluruhan tidak mengalami penurunan, bahkan akan mengalami kenaikan bila PGT Sindangwangi mampu bekerja pada kapasitas penuh, karena terjadi peningkatan produksi yang dibarengi dengan penurunan biaya pokok produksi gondorukem dan terpentin. Harga transfer yang ditetapkan atas dasar pembagian laba sangat tepat dan cocok diterapkan di wilayah kerja Perum Perhutani Unit Ill Jawa Barat serta telah memenuhi rasa keadilan bagi KPH Penghasil getah pinus maupun PGT Sindangwangi, sehingga perolehan laba setiap KPH dapat digunakan sebagai dasar pengukuran kinerja AdministraturIKepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KKPH). Pengukuran kinerja KPH dengan pendekatan persentase pengurangan realisasi anggaran pembinaan hutan pinus belum dapat memberi gambaran kinerja KPH secara keseluruhan, karena perolehan laba KPH juga ditentukan oleh unit-unit usaha lain. Namun demikian pendekatan tersebut perlu dipertimbangkan karena 42,06 % luas hutan produksi Unit Ill Jawa Barat diperuntukan bagi kelas perusahaan Pinus , sedangkan luas areal produksi getah baru 9 % dari luas kelas perusahaan pinus dengan kontribusi pendapatan menurut data tahun 1996 hingga 1998 sebesar 13.64 %, 15,88 % dan 29,49%. Kenyataan tersebut membuktikan bahwa pengusahaan getah pinus merupakan2 "unit bisnis yang sangat potensial dan perlu segera dikernbangkan di Unit Ill Jawa Barat. Oleh kasena itu perlu adanya perubahan cara pandang atau reorientasi pengusahaan kelas perusahaan pinus dari kayu ke getah.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Analisa penetapan harga transfer getah pinus pada perum perhutani unit iii jawa barat
Subjects: Manajemen Keuangan
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 04 Jan 2012 06:43
Last Modified: 04 Jan 2012 06:43
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/877

Actions (login required)

View Item View Item