Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/USD Terhadap Usaha Penggemukan dan Perdagangan Sapi Potong di Indonesia

Kusumawati, Rini (1999) Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/USD Terhadap Usaha Penggemukan dan Perdagangan Sapi Potong di Indonesia. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
r15-01-riny_kusumawati-cover.pdf

Download (354kB)
[img]
Preview
PDF
r15-02-riny_kusumawati-ringkasan_eksekutif.pdf

Download (387kB)
[img]
Preview
PDF
r15-03-riny_kusumawati-daftar_isi.pdf

Download (338kB)
[img]
Preview
PDF
r15-04-riny_kusumawati-pendahuluan.pdf

Download (406kB)
[img] PDF
img-117165035.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-117165231.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-117165354.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Riny Kusumawati, 1999. Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/USD Terhadap Usaha Penggemukan dan Perdagangan Sapi Potong di Indonesia. Dibawah bimbingan Hamdani, M.Syah dan Djoni Tanopruwito. Dalam menghadapi era globalisasi, Indonesia memerlukan sumber daya manusiayang berkualitas dan untuk itu peran pendidikan dan gizi sejak dini sangat penting. Gizi yang baik diperoleh antara lain dari protein hewani (seperti daging, susu dan telur) dan protein nabati (sayuran dan buah-buahan). Menurut Saragih (1998) terdapat korelasiyang tinggi antara konsumsi protein hewani dengan tingkat kemajuan suatu bangsa seperti pada tahun 1987 Singapura (22.68 kg/kap/hari) , Jepang (53.50 gram), Amerika (73 gram) sementara Indonesia tahun 1993 baru sekitar 3.74 gram kapita hari. Konsumsi daging sapi dari tahun 1996-1998 menurun dari 12 g/kap/minggu menjadi 8 g/kap/minggu, sedangkan konsumsi daging ayam yang merupakan konsumsi daging ayam tertinggi masyarakat Indonesia juga menurun dari 78 g/kap/minggu menjadi 70 g/kap/minggu karena krisis moneter. Kondisi peternakan sapi potong di Indonesia terdiri dari dua kelompok yaitupetemakan rakyat (90-95 persen) dan feedloter (5 persen). Peternakan rakyat memilikiciri-ciri : skala usaha kecil dan tersebar, bersifat sambilan dan subsisten serta tidak intensif sehingga kualitas sapi potongnya tidak seragam dan kurang terawat baik sertabelum tangguhlmandin dibandingkan dengan feedloler. Pemerintah dan swasta selama ini terlalu mengandalkan pada impor sapi siap potong dan tidak melaksanakan budidaya yang berkelanjutan sehingga ketika rupiah melemah menyebabkan harga daging sapi meningkat tajam dan tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Disisi lain pihak pedagang "gulung tikar" karena tidak mampu menanggung biaya produksi yang tinggi dan akibatnya apabila terjadi kekurangan protein hewani dikhawatirkan dalam 10-20 tahun mendatang akan terjadi lost getzeration. Perumusan masalah dalam penelitian ini ada tiga, yaitu : (1) Bagaimana hasil yang diperoleh dari berbagai pola usaha penggemukan sapi potong di Indonesia ?, (2) Bagaimana hasil yang diperoleh dari berbagai pola usaha perdagagan sapi potong yang terjadi di Kotamadya Bogor ?, (3) Bagaimana mengatasi kesenjangan antara permintaan daging sapi dengan supply sapi potong di Indonesia ?. Sedangkan tujuan penelitian juga ada tiga, yaitu : (1) Membuat analisis sensitivitas pola usaha penggemukan sapi potong di Indonesia yang mencakup hubungan antara harga beli sapi impor, lama penggemukan,nilai tukar mpiah/USD dan persentase laba kotor usaha yang dihasilkan, (2) Membuat analisis sensitivitas pola usaha perdagangan sapi potong baik di tingkat pedagang perantara, pemotong maupun pengecer dan kecendemngan laba kotor usaha perdagangan sapi potong di Kotamadya Bogor dan (3) Mengkaji cara pemecahan masalah tejadinya kelangkaan daging sapi/populasi sapi potong dan membuat rekomendasi strategi bisnis di bidang perdagangan sapi potong. Manfaat penelitian yang dapat diambil dari pxelitian ini bagi pengusaha adalah dengan mengetahui hubungan antara nilai lukar mpiah/USD dengan HPP sapi hidup, karkas dan daging sapi serta persentase laba kotor usaha dapat dijadikan rekomendasi strategi bisnis baik di tingkat importir, pedagang perantara, pemotong dan pengecer. Bagi perguruan tinggi sebagai bahan pustaka dan bahan studi khususnya di bidang agribisnis sapi potong. Bagi pemerintah, dengan mengetahui kondisi agribisnis penggemukan dan perdagangan sapi potong di Indonesia dapat dijadikan sumber devisa, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan gizi masyarakat. Sedangkan bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta mencari altematif pemecahan masalah khususnya di bidang agribisnis sapi potong. Ruang lingkup penelitian dibatasi pada sapi potong impor yang biasa digemukkan di Indonesia (sapi jantan jenis BXIBralzman Cross) dan nilai tukar antara Rp 6,000-Rp 10,000/USD yang berlaku dalam enam bulan terakhir dengan dua alternatif harga beli serta dua pola~lama penggemukan yang biasa dilakukan oleh feedloier. Kajian dibatasi pada rekomendasi strategi bisnis, sedangkan implementasi diserahkan kepada pedagang yang bersangkutan. Lokasi penelitian untuk penggemukan sapi potong dibatasi pada tiga feedloters terbesar di Indonesia yaitu PT. Tipperary Indonesia, PT. Great Giant Livestock dan PT. Radyana Wilasana Perkasa. Sedangkan untuk pola perdagangan di tiga pasar tradisional terbesar di Kotamadya Bogor yaitu Pasar Anyar, Pasar Ramayana dan Pasar Bogor. Waktu penelitian selama tiga bulan yaitu dari tanggal 19 April - 26 Juli 1999. Metode penelitian adalah survei pasar yang bersifat deskriptif Metode ini dipilih karena pola penggemukan diasumsikan oligopoli dan pola perdagangan bersifat pasar persaingan sempurna, sehingga karakteristik pedagang, biaya dan harga beli maupun harga jual relatif homogen sehingga sample yang diambil dapat mewakili populasi yang ada di lapangan (sebab survei pasar adalah penelitian dengan mengambil data terbatas dari kasus yang luas). Teknik pengambilan contoh ketiga pasar tradisional dan ketiga perusahaan penggemukan sapi secara sengaja (purposive random sampling) karena ketiga lokasi itu merupakan pasar terbesar di Kodya Bogor dan perusahaan importir sapi potong yang terbesar di Indonesia. Data primer bempa wawancara langsung dengan pedagang perantara sapi hidup (5 orang), perantara karkas (5 orang), pedagang pemotong (5 orang) dan pedagang pengecer (10 orang) dan pihak terkait dari ketiga perusahaan penggemukan sapi potong. Sedangkan data sekunder berasal dari penelitian terdahulu, literatur dan studi pustaka Setelah dikurnpulkan, data diolah melalui tabulasi sederhana dengan dibuat tren, grafik dan diinterpretasikan secara deskriptif. Analisis pola usaha penggemukan dan perdagangan sapi potong didekati dengan rumus laba yaitu penjualan dikurangi pembelian dan biaya. Setelah diperoleh persentase laba kotor usaha, kemudian sebagai contoh dibandmgkan dengan suku bunga deposit0 1 bulan BNI Tahun 1999 sebesar 23 persen ditambah dengan spread 7 persen guna menutupi biaya overllead , keuangan dan pemasaran. Apabila persentase laba kotor usaha melebihi 30 persen, maka usaha penggemukan layak dilakukan, demikian pula sebaliknya. Hasil yang diperoleh ternyata pada harga beli USD 1.04 lama penggemukan 60 hari, usaha penggemukanfeasible dilaksanakan pada nilai tukar dibawah Rp 6,900/USD. Pada harga beli USD 1.02 lama penggemukan 60 hari, usaha penggemukan feasible dilaksanakan pada nilai tukar dibawah Rp 7,100NSD. Pada harga beli USD 1.04 lama penggemukan 90 hari, usaha penggemukan feasible dilaksanakan pada nilai tukar dibawah Rp 7,300NSD. Pada harga beli USD 1.02 lama penggemukan 90 hari, usaha penggemukan feasible dilaksanakan pada nilai tukar dibawah Rp 7,400/USD. Pada usaha perdagangan sapi potong pola jual beli sapi hidup tnaupun jual beli karkas, laba yang diperoleh sesuai dengan laba yang diharapkan, sedangkan pada pola membeli sapi hdup dan menjual karkas, laba bersih yang diperoleh sekitar 13.5 persen. Laba bersih yang diperoleh pada pola membeli sapi hidup dan menjual eceran sebesar 3 1 persen (tertinggi) dan pada pola membeli karkas dan menjual sapi hidup laba yang diperoleh sekitar 13.9 atau 17.3 persen. Dari perbandingan tingkatan pertama perdagangan sapi potong, temyata leblh menguntungkan apabila menjual dalam bentuk eceran, namun apabila membandingkan dengan menjual sapi hidup atau karkas diperoleh gambaran bahwa bila berat hidup sapi di bawah 380 kg atau di atas 450 kg, lebih baik menjual sapi hidup karena tidak beresiko. Hal ini disebabkan sapi terlalu kurus dan banyakherat tulangnya atau sapi terlampau gemuk atau banyak lemaknya. Sedangkan bila berat hidup sapi antara 380-450 kg lebih baik menjual &lam bentuk karkas, karena dagingnya padat clan proporsi tulang, lemak dan perutan tidak terlalu banyak. Hasil analisis sensitivitas pola perdagangan sapi potong juga menunjukkan, misalnya pada kurs Rp 6,00O/USD harga pokok produk sapi hidup sebesar Rp 5,983 dan dengan apabila laba importir ditetapkan sebesar 25 persen akan diperoleh harga jual sapi hidup sebesar Rp 7,788. Setelah ditambah biaya pemotong dan laba pemotong senilai 25 persen maka dapat ditetapkan harga jual karkas sebesar Rp 18,711/kg. Dan apabila ditambah biaya-biaya pada pengecer dan laba pengecer sebesar 25 persen, maka akan diperoleh harga jual daging sapi sebesar Rp 24,451kg. Analisis sensitivitas ini dapat digunakan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut : harga beli sapi impor sebesar CIF USD 1.04, lama penggemukan 60 hari, biaya tetap penggemukan Rp 417,000, berat awal sapi 350 kg, berat akhir sapi 458 kg, biaya tetap pemotong Rp 50,000, biaya tetap pengecer Rp 95,000 dan ratio karkas sebesar 50 persen. Apabila asumsi tersebut diubah maka akan diperoleh hail yang berbeda namun tetap dalam rumusan yang sama. Rekomendasi strategi pengembangan sapi potong di Indonesia antara lain adalah perlu adanya upaya diversifikasi dalam produksi petemakan, dalam pengembangan lahan pertanian perlu bekejasama dengan instansi lain, pendekatan usahatani terpadu perlu lebih intensif dilakukan dan disusun perencanaan investasi yang utuh dan sistematis. Perlu dikaji keunggulan komparaiif dan kompetitif untuk substitusi impor dan perlu dilakukan kegiatan pengembangan kemampuan petemak. Dalam jangka pendek impor terpaksa dilakukan tetapi terhadap sapi yang hamil sehingga dapat dihasilkan dua manfaat sekaligus dalam pengembangan produksilbakalan sapi potong di Indonesia, sedangkan untuk jangka panjang perlu dibangun industri petemakan yang tangguh dan mandiri dan terintegrasi dari hulu ke hilir. Saran lain yang diusulkan peneliti adalah perlu digiatkan usaha inseminasi buatan guna menunjang reproduksi sapi potong agar siklus hidup dapat dipercepat dan kualitas daging sapi dapat meningkat. Selain itu pemerintah hams tegas melarang pemotongan sapi betina usia produktif dengan memberikan sanksi yang berat dan melakukan upaya kawin silang antara sapi lokal dengan sapi impor yang dapat menghasilkan sapi berkualitas tinggi.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah/USD, Usaha Penggemukan dan Perdagangan Sapi Potong, manajemen keuangan
Subjects: Manajemen Keuangan
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-7 Perpustakaan
Date Deposited: 12 Jan 2012 09:20
Last Modified: 26 Jan 2012 04:55
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/883

Actions (login required)

View Item View Item