Analisis Karakteristik Konsumen dan Potensi Pasar Kosmetika Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia

Hanafiah, Zailina Marisya (2000) Analisis Karakteristik Konsumen dan Potensi Pasar Kosmetika Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
r15-01-zailina_marisya_hanafiah-cover.pdf

Download (335kB)
[img]
Preview
PDF
r15-01-zailina_marisya_hanafiah-ringkasan_eksekutif.pdf

Download (331kB)
[img]
Preview
PDF
r15-03-zailina_marisya_hanafiah-daftar_isi.pdf

Download (371kB)
[img]
Preview
PDF
r15-04-zailina_marisya_hanafiah-pendahuluan.pdf

Download (352kB)
[img] PDF
img-117163948.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-117164245.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-117164437.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-117164722.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (479kB)
[img] PDF
img-117164823.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-117164929.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (266kB)

Abstract

Zailina Marisya Hanafiah. 2000. Analisis Karakteristik Konsumen dan Potensi Pasar Kosmetika Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Dibawah bimbingan E. Gumbira Sa'id dan Agus Maulana. Produk kosmetika lndonesia merupakan salah Satu produk yang memiliki potensi ekspor yang cukup besar di masa yang akan datang. Hal tersebut dapat dilihat dari angka pertumbuhan ekspor rata-rata yaitu sebesar 9.55 % per tahun. Peningkatan ekspor yang cukup pesat merupakan dampak dari diversifikasi produk yang diekspor dan perkembangan negara tujuan ekspor. Saat ini lndonesia telah mengekspor 24 jenis kosmetika ke 96 negara. Negara-negara tujuan tersebut antara lain adalah Singapura. Malaysia, Hongkong. Jepang, Saudi Arabia, UAE, Amerika Serikat. Inggris. Belanda dan Jerman. Malaysia mempakan salah satu dari empat negara tujuan ekspor kosmetika utama Indonesia. Kuala Lumpur sebagai ibu kota negara Malaysia yang terkenal dengan pusat kegiatan bisnis dan perdagangan, merupakan pasar yang potensial untuk dikembangkan. Hal tersebut juga mengingat struktur kultural Kuala Lumpur yang tidak jauh berbeda dengan lndonesia dan banyaknya masyarakat lndonesia yang menetap di sana. Penerimaan produk (product acceptance) di Kuala Lumpur dapat dilihat dengan semakin banyaknya produk kosmetika lndonesia yang beredar serta maraknya penayangan iklan di berbagai media promosi. Perumusan masalah yang dihadapi oleh pemsahaan-pewsahaan kosmetika yang ingin memasarkan produknya ke Kuala Lumpur adalah (1) bagaimana citra kosmetika Indonesia di mata konsumen Kuala Lumpur ?, (2) bagaimana peluang pasar kosmetika di Kuala Lumpur ?. (3) bagaimana karakteristik konsumen kosmetika lndonesia di Kuala Lumpur ?. (4) bagaimana intensitas persaingan dan daya tarik industri kosmetika di Kuala Lumpur , dan (5) bagaimana analisis STP dan bauran pemasaran kosmetika lndonesia di Kuala Lumpur di masa yang akan datang ?. Penelitian yang dilaksanakan di Kuala Lumpur ini bertujuan untuk (1) menganalisa peluang pasar kosmetika lndonesia di Kuala Lumpur, (2) mengidentifikasi karakteristik konsumen kosmetika lndonesia di Kuala Lumpur, (3) mengkaji faktor-faktor penting yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian kosmetika di Kuala Lumpur, (4) menganalisa lingkungan persaingan industri kosmetika di Kuala Lumpur dan (5) merumuskan alternatif strategi STP dan bauran pemasaran, khususnya untuk wilayah Kuala Lumpur bagi pihak-pihak yang terkait. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif, dimana dilakukan pengumpulan data dan studi kasus untuk menjawab permasalahan yang ada. Data dikumpulkan melalui wawancara, penyebaran kuesioner dan studi literatur. Proses analisis dan pengolahan data meliputi (1) analisis citra, (2) analisis karakteristik konsumen dan potensi pasar, (3) analisis lingkungan industri, dan (4) analisis STP dan bauran pemasaran. Hasil survey responden menunjukkan bahwa di Kuala Lumpur, konsumen utama kosmetika lndonesia adalah kelompok usia 20 - 29 tahun (44.0 YO), etnis Melayu (75.0 %), berpenghasilan di atas RM 2000 (24.0 %) , berprofesi sebagai tenaga administratif ( 32.0 %). memiliki anggaran pengeluaran untuk kosmetika sebesar RM 100 perbulan (73.0 Oh) dan berpendidikan universitas (58.0 %). Hasil analisis karakteristik konsumen terhadap pengenalan kosmetika lndonesia dan penlaku pembelian konsumen menunjukkan bahwa kosmetika merek Mustika Ratu (95.3 %) dan Sari Ayu ( 87.2 %) memiliki brand awareness yang cukup tinggi di antara responden. Sebagian besar responden memperoleh informasi akan keberadaan produk kosmetika lndonesia dari media massa (27.8 %), promosi langsung (22.2 %) dan media elektronik (19.0 %). Tempat pembelian kosmetika yang disukai oleh responden adalah supermarket (39.8 %), counter khusus (26.0 %) dan farmasi (24.9 %). Kriteria awal dalam pembelian kosmetika oleh responden adalah kualitas (27.1 %), harga (23.9 %) dan kemudahan memperoleh produk di pasar (21.6 96). Produk kosmetika yang banyak disukai oleh wanita Kuala Lumpur adalah Avon (18.8 %), Revlon (1 1.9 %), Estee Lauder (11.9 %), Clinique (10.0 %), L'oreal (9.4 %) dan The Body Shop (7.5 %). Hasil penilaian konsumen terhadap pmduk kosmetika lndonesia menunjukkan bahwa merek yang banyak digunakan oleh konsumen di Kuala Lumpur adalah Mustika Ratu (73.0 Oh) dan Sari Ayu (59.0 96). Berdasarkan jenis kosmetika, preparat perawatan muka merupakan jenis kosmetika yang banyak digunakan, yalu sebanyak 62.0 % dari konsumen menggunakan produk perawatan wajah, diikuti dengan tata rias dasar yaitu sebesar 49.0 %. Alasan utama konsumen menggunakan kosmetika lndonesia adalah karena harga yang tejangkau (29.0 %), kemudahan memperoleh produk (26.8 Oh) dan kualias (18.6 Oh). Loyalitas konsumen kosmetika lndonesia terhadap merek yang digunakan termasuk tinggi, yaitu sebesar 77.0 %, sedangkan loyalitas terhadap kosmetika lndonesia sebesar 83.0 %. Media yang paling mempengaruhi konsumen dalam pembelian adalah teman (57.0 %), media elektronik (49.0 %), media massa (41.0 %) dan saudara (40.0 %). Secara umum iklan kosmetika lndonesia di televisi dan majalah di nilai menarik oleh konsumen. Hal-ha1 yang dianggap menarik dalam rklan tersebut adalah komposisi wama, model dan cara penyampaian. Dan hasil pembahasan tersebut, diperoleh karakteristik konsumen kosmetika lndonesia di Kuala Lumpur adalah sebagai berikut : 1. Konsumen kosmetika lndonesia sebagian besar terdiri dari tenaga administrasi yang berusia antara 20 - 29 tahun. 2. Tempat pembelian yang disukai adalah di supermarket, farmasi dan counter khusus. 3. Konsumen menghendaki produk kosmetika yang berkualitas bagus, mudah diperoleh dan harga yang terjangkau. 4. Berdasarkan status pemakar, konsumen kosmetika lndonesia termasuk pemakai berat dan telah menggunakannya lebih dari dua tahun. 5. Loyalitas konsumen kosmetika lndonesia termasuk tinggi. Hasil analisis lingkungan industri menunjukkan bahwa intensitas persaingan dalam industri kosmetika di Kuala Lumpur termasuk dalam kategori sedang. Ancaman barang substitusi merupakan variabel kekuatan dengan intensitas tertinggi dengan total nilai 3.67, sementara variabel intensitas persaingan antar kompetitor menduduki peringkat kedua dengan total nilai 2.98. Variabel-variabel kekuatan tawar-menawar pembeli, ancaman pendatang baru dan kekuatan tawar-menawar pemasok berturut-turut memiliki total nilai sebesar 2.80, 2.57, dan 2.52. Hasil analisis potensi pasar, menunjukkan bahwa potensi pasar total untuk produk kosmetika di Kuala Lumpur untuk tahun 2000 adalah sebesar RM 532.683.696 atau setara dengan Rp 1.065.367.392.000. Segmentasi pasar dilakukan dengan memperhatikan rasio persentase konsumen dalam masing-masing kelompok demografi. Penentuan target pasar dari analisis STP menunjukkan bahwa, pasar sasaran yang sebaiknya dituju adalah pada kelompok usia 20 - 29 dan 30 - 39 tahun, kelompok etnis Melayu, Indonesia, Cina dan etnis Asia lainnya, tingkat pendapatan kurang dari RM 1500, berprofesi sebagai pelajar, ibu rumah tangga dan tenaga administrasi dan dengan anggaran untuk kosmetika kurang dari RM 100 per bulan. Rekomendasi strategi bauran pemasaran bagi perusahaan kosmetika Indonesia menghasilkan : 1. Perbaikan kualitas produk, penggunaan bahasa lnggris pada label, perbaikan kemasan produk, penyesuaian merek dengan bahasa setempat, dan pemberian keterangan "ISO14000", 'No Animal Testing" dan "Halal". 2. Memperbanyak persediaan produk di tempat-tempat pembelian utama, memperbanyak counter-counter baru, menjalin kerjasama dengan farrnasi, serta menambah armada beauty advisor dan beauty consultant. 3. Penyesuaian harga produk dengan memperhatikan daya beli masyarakat dan harga pesaing terdekat. 4. Meningkatkan kegiatan promosi di berbagai media, memanfaatkan hubungan pertemanan melalui program direct selling dan personal selling, pemberian sampel kepada calon konsumen.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Analisis Karakteristik Konsumen, Potensi Pasar, Kosmetika Indonesia, Malaysia
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-7 Perpustakaan
Date Deposited: 12 Jan 2012 09:20
Last Modified: 26 Jan 2012 05:05
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/892

Actions (login required)

View Item View Item