Strategi pengembangan pola kemitraan ayam ras pedaging pt. cipendawa agroindustri terbaik

Mohammad Ali, Said, (2001) Strategi pengembangan pola kemitraan ayam ras pedaging pt. cipendawa agroindustri terbaik. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
17A-01-ali-cover.pdf

Download (334kB)
[img]
Preview
PDF
17A-02-ali-RingkasanEksekutif.pdf

Download (394kB)
[img]
Preview
PDF
17A-03-ali-daftarIsi.pdf

Download (372kB)
[img]
Preview
PDF
17A-04-ali-pendahuluan.pdf

Download (438kB)

Abstract

PT. Cipendawa Agroindustri Tbk mengelola petemakan yang, menghasilkan anak ayam umur sehari yang diperdagangkan (Day Old Chicken/DOC Final Stock) dan ayam pembibit induk (Parent Stock), pabrik pakan, usaha pemotongan ayam atau rumah potong ayam PT. CA Tbk, diakui sebagai perusaham terbesar dan terbaik dalam usaha pembibitan. Perusahaan ini merupakan pelopor yang didirikan pada tahun 1970 dan mulai beroperasi dalam usaha pembibitan di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Namun saat ini usaha yang telah di rintis tidak semuanya dapat berjalan dengan baik. Akibat kondisi perekonomian yang tidak menguntungkan sejak pertengahan tahun 1997, maka manajemen perusahaan memutuskan untuk memperkecil skala usahanya dan hanya berfokus pada satu unit usaha saja yaitu usaha pembibitan. Selain itu usaha kemitraan dengan para petemak yang telah diiaksanakan juga tidak berjalan dengan efektif. Melalui kurun waktu yang tidak menggembirakan tersebut, maka sejak tahun 1999 iklim usaha pada dunia perunggasan di Indonesia mulai bangkit. Maka dengan membaiknya kondisi perekonomian dan cerahnya prospek bisnis yang bergerak dalam bidang petemakan, serta te rjadinya pergeseran konsumsi masyarakat terhadap daging olahan ayam, maka PT. CA Tbk berencana mewujudkan usaha yang dimilikinya dalam suatu tatanan sistem agribisnis yang dikelola secara terintegrasi. Dalam rangka menciptakan dan mengembangkan kembali setiap unit bisnisnya, perusahaan memerlukan sebuah pemikiran yang dalam dan bersifat komprehensif serta didukung oleh sumberdaya yang dimiliki, maka salah satu altematif yang diambil oleh PT. CA Tbk, adalah melakukan strategi kemitraan dengan usaha kecil dan menengah yang tergabung dalam koperasi, serta tidak menutup kemungkiian bekeijasama dengan perusahaan besar yang sejenis. Kemitraan antara PT. CA Tbk dengan peternak rakyat sebelumnya pemah te rjalin, namun saat ini dapat dikatakan bahwa kemitraan tersebut terhenti karena adanya krisis moneter. Kemitraan tersebut menurut PT. CA Tbk mempunyai nilai tambah dalam rangka menciptakan sebuah rantai sistem agribisnis ayam ras yang utuh, maka sehubungan dengan pembahan kondisi saat ini yang semakin kondusif dirasakan dapat mendorong PT. CA Tbk untuk mengkaji kembali kegiatan kemitraan yang telah berlangsung pada saat sebelurn krisis, sebagai tolok ukur kinerja kemitraan yang akan datang serta perkembangannya. Tujuan dari pelaksanaan geladikarya ini adalah untuk mengetahui secara deskriptif (studi kasus) pelaksanaan kemitraan yang telah dijalankan antara PT. CA Tbk dengan petemak rakyat, menganalisis faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam menentukan pola kemitraan yang akan dijalankan oleh perusahaan, menganalisis bentuk atau pola kemitraan yang paling tepat antara PT CA Tbk dengan Mitra usahanya, menganalisis manfaat implementmi kemitraan yang terjadi antara PT CA Tbk dengan Mitra usahanya, dan merekomendasikan strategi dan pola kemitraan yang diperlukan dalam melaksanakan kemitraan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif serta pengambilan sampel secara disengaja (purposive sampling). Responden dalam penelitian ini terdiii dari para pakar yang berkaitan dengan industri pemnggasan ayam ras, pihak internal, dan para peternak dari skala kecil, menengah, dan besar. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner dan wawancara langsung dengan responden yang selanjutnya diolah dengan metode analisis Proses Hierarki Analitik (PHA). Metode ini mencakup ancangan deduktif dan ancangan induktif (sistem), sehingga memungkinkan untuk menstruktur suatu sistem serta lingkungannya dalam bagian-bagian yang saling berinteraksi. Manfaat metode PHA dalam penelitian ini adalah untuk memodellcan sistem kerjasama antara PT. CA Tbk dengan peternak rakyat, dengan menggunakan penilaian komparasi berpasangan atau analisa pendapat (judgment) terhadap semua pihak yang terlibat sehubungan dengan kerjasama tersebut, serta dapat menjelaskan interaksi fungsional antar setiap elemen atau alternatif keputusan yang telah teridentifikasi dan dikelompokkan sesuai dengan fungsinya. Goal atau sasaran utama dari hirarki ini adalah menentukan pola kemitraan usaha antara PT CA dengan Mitra usahanya yang menghasilkan empat tingkatan. Hirarki dalam menentukan pola kemitraan usaha antara PT CA dan Mitra usahanya, disusun sesuai fungsinya yang kemudian memberikan bobot terhadap beberapa alternatif pola kemitraan yang dikenal dalam dunia agribisnis ayam ras pedaging, yaitu (1) Inti-Plasma yaitu sesuai dengan konsep dasar dari pola ini maka usaha menengah atau usaha besar bertindak sebagai inti yang berkewajiban melaksanakan pembinaan mulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis sampai dengan pernasaran hasil produksi, sedangkan pemsahaan kecil (peternak rakyat) dalam kemitraan ini adalah selaku plasma Artinya peternak rakyat bertugas untuk meningkatkan produksi baik dari mutu maupun jumlah sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati, (2) Joint venture adalah kemitraan usaha antara badan usaha yang masing-masing pihak menyetorkan modal dan membentuk badan usaha baru dengan manajemen yang disusun secara bersama-sama, dimana inti dapat ikut serta dalam usaha plasma, begitu pula sebaliknya sehingga resiko usaha dapat ditanggung bersama, dan hasil usaha dibagi berdasarkan kontribusi modal yang diberikan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati, (3) Poulm estate adalah gagasan pola kemitraan usaha dari PT. CA Tbk, dimana dalam rencana pelaksanaannya dapat diiungkinkan menggunakan model yang dilaksanakan pada pola-pola kemitraan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Hasil kajian untuk mengetahui secara deskriptif pelaksanaan kemitraan yang telah dijalankan antara PT. CA Tbk dengan peternak rakyat melalui pola inti-plasma, menunjukkan bahwa pelaksanaan kemitraan tersebut belum mencapai hasil yang diharapkan. Faktor-faktor tersebut antara lain, pada penyediaan modal kerja perusahaan menyediakan DOC dan pakan kecuali obat-obatan dan vaksin, pada saat panen perusahaan menjamin pembelian seluruh hasil panen Plasma dan melaksanakan pembayaran dengan harga yang telah disepakati, namun dalam ha1 ini pengambilan hasil panen, pemsahaan tidak memberikan fasilitas pengangkutan hasil panen. Sehubungan dengan itu, penjualan hasil panen mengalami penurunan pada harga pasar ayam besar, yang mengakibatkan penjualan mengalami kerugian, sehingga berdampak pada rendahnya pendapatan petemak. Bila diakumulasikan biaya yang harus ditanggung petemak dalam usaha budidaya ayam ras pedaging berdasarkan model pelaksanaan dan ketentuan kontrak kerjasama, petemak rakyat mengalami kerugian. PT. CA Tbk tetap bermaksud untuk terus melaksanakan usaha kemitraan dengan petemak rakyat pada siklus-siklus selanjutnya, agar diharapkan dapat menemukan model pelaksanaan kemitraan yang paling tepat untuk menciptakan iklim kemitraan yang kondusif, guna menghadapi perubahan dalam pasar yang demikian cepat. Seiring dengan usaha tersebut, kondisi perekonomian Indonesia dihadapi oleh iklim usaha yang tidak mendukung dengan datangnya krisis moneter, sehingga manajemen perusahaan memutuskan kebijakan untuk melakukan efisiensi besar-besaran, diantaranya adalah menghentikan usaha kemitraan. Harga pakan temak dan obat-obatan yang bahan bakunya masih di import, telah memberatkan perusahaan untuk mernilikinya akibat dari nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat terus melemah. Analisis kuantitatif dengan menggunakan Proses Hierarki Analitik terhadap aspek yang membentuk kemitraan PT. CA Tbk adalah aksisbilitas pasar, penguasaan teknologi, manajemen badan usaha, kebijakan pemerintah, dan permodalan badan usaha. Hasil pengolahan analisis vertikal menunjukkan prioritas masing-masing faktor yang mempengaruhi terbentuknya kemitraan, ialah manajemen badan usaha (0,361), kebijakan pemerintah (0,257), aksisbilitas pasar (0,166), penguasaan teknologi (0,127), dan permodalan badan usaha (0.089). Total konsistensi rasio untuk analisis ini sebesar 0,04. Hasil pengolahan analisis vertikal memperlihatkan, faktor yang paling berpengaruh menurut PT. CA Tbk adalah manajemen badan usaha, diiana dengan bermitra PT. CA Tbk bersama-sama Mitranya dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan dan pengawasan usahanya, sehingga dapat menjadi suatu kesatuan badan usaha dengan manajemen profesionalisme. Bersama Mitranya, PT. CA Tbk diharapkan pula dapat melakukan efisiensi disemua bagian, perbaikkan sistem dan prosedur kerja serta meningkatkan mutu sumberdaya manusia. Bentuk atau pola kemitraan yang paling tepat digunakan oleh PT. CA Tbk dengan Mitranya, diberikan beberapa altematif yaitu pola inti-plasma, usaha patungan (Joint venture), dan poulhy estate. Hasil pengolahan analisis vertical menunjukkan prioritas masing-masing altematif bentuk kemitraan adalah pola inti-plasma (0,297), pola Joint venture (0,401), dan pola poultiy estate (0,302). Total konsistensi rasio untuk analisis ini sebesar 0,06. Melalui usaha kemitraan dengan pola Joint venture dapat mewujudkan sistem agribisnis ayam ras yang terintegrasi secara vertikal yang tidak harus berarti kepemilikan secara terintegrasi vertikal, artinya seluruh subsistem mulai dari hulu hingga hilir dimiliki oleh satu perusahaan (single ownership), namun dapat disebar ke beberapa pemegang saham (stakeholders), sehingga yang paling penting adalah agribisnis dikelola secara terintegrasi. Dengan demikian masalah permodalan tidak sepenuhnya tergantung pada pembiayaan dari modal sendiri atau modal pinjaman bank, tetapi berusaha menggabungkan peluang yang ada dengan peluang pembiayaan lain. ,Analisis manfaat implementasi kemitraan antara PT. CA Tbk dengan Mitranya, menunjukkan beberapa manfaat yang menurut prioritasnya berturutturut adalah manfaat jasa pelayanan (0,410), pemasok (0,189), manajemen (0,091), karyawan (0,072), dan pembeli (0,238), sedangkan jangka waktu manfaat dirasakan yaitu jangka pendek (0,449) dan jangka panjang (0,551). Total konsistensi rasio untuk analisis ini adalah 0,06. Jasa pelayanan memperoleh prioritas tertinggi, yang artinya dengan ditingkatkannya jasa pelayanan adalah selain mempunyai pengertian pelayanan PT. CA Tbk terhadap Mitranya, juga mempunyai pengertian pelayanan Mitranya terhadap anggota-anggotanya yang juga ikut meningkat, sehingga dengan adanya kemitraan ini ,membuat Mitranya mempunyai kondisi dan kemampuan usaha yang lebih baik sehingga dapat berkecimpung dalam unit usaha yang lebih besar. Bentuk atau pola yang direkomendasikan pada pemsahaan adalah pola usaha patungan (Joint venture), dimana dalam melaksanakan pola tersebut tidak terlepas dari esensi kemitraan yang sebenarnya yaitu saling menguntungkan, saling memperhatikan, saling mendukung, saling bekerjasama dengan penuh rasa tanggungjawab, kejujuran, keterbukaan dan keadilan. Pola Joint venture melalui jaringan usaha diharapkan tidak hanya dapat mewujudkan kerjasama dalam membangun usaha ternak ayam pedaging, namun bila kerjasama ini berhasil maka sistem agribisnis ayam ras yang terintegrasi secara vertikal dapat terwujudkan. Pelaksanaan pola ini adalah berusaha menggabungkan peluang-peluang yang ada dengan peluang pembiayaan lain sehingga masalah permodalan tidak sepenuhnya tergantung pada pembiayaan dari modal sendiri atau modal pinjaman bank.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Strategi pengembangan pola kemitraan ayam ras pedaging pt. cipendawa agroindustri terbaik
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 05 Jan 2012 07:02
Last Modified: 05 Jan 2012 07:02
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/971

Actions (login required)

View Item View Item