Stategi pengembangan agroindustri pada kawasan sentra produksi di kabupaten tebo, jambi

Ammar , Sholahuddin (2001) Stategi pengembangan agroindustri pada kawasan sentra produksi di kabupaten tebo, jambi. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
17A-01-Ammar-cover.pdf

Download (319kB)
[img]
Preview
PDF
17A-02-Ammar-Ringkasaneksekutif.pdf

Download (378kB)
[img]
Preview
PDF
17A-03-Ammar-daftarIsi.pdf

Download (347kB)
[img]
Preview
PDF
17A-04-Ammar-pendahuluan.pdf

Download (347kB)

Abstract

Kabupaten Tebo merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jambi yang kegiatan ekonominya masih bertumpu pada lapangan usaha pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan. Berdasarkan angka produk domestik regional bruto (PDRB) atas harga berlaku lapangan usaha tersebut memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB sebesar 58,92 %. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peran dari lapangan usaha tersebut masih merupakan lapangan usaha yang dominan bagi pembangunan ekonomi daerah. Bertitik tolak dari kondisi tersebut, perlu kiranya untuk menata struktur ekonomi yang seimbang antara sektor pertanian dengan sektor industri. Dalam rangka menciptakan keseimbangan tersebut, maka pengembangan agroindustri merupakan upaya untuk menciptakan keterkaitan antara sektor pertanian dan sektor industri yang diarahkan dalam suatu bentuk keterkaitan yang meliputi : (1) antara industri pengolahan dengan sumberdaya alam dan pemasarannya, (2) antara industri pengolahan yaitu industri hululdasar, industri hilir dan industri kecil, (3) antara industri pengolahan dengan industri pendukungnya, antara lain industri mesin, industri agroindustri dan industri pengemasan dan (4) antara sektor industri dengan sektor ekonomi dan sektor-sektor lainnya, seperfi sektor perhubungan, jasa dan perbankan. Dalam rangka mencapai hasilguna dan dayaguna tujuan tersebut, maka perlu dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan sektor agribisnis dengan memperhatikan hal-ha1 sebagai berikut : (1) identifikasi jenis-jenis komoditi dan industri yang layak dikembangkan disuatu wilayah yang potensial, (2) koordinasi antar sektor industri dan sektor-sektor lainnya sebagai upaya untuk menjamin keterpaduan sistem penyediaan bahan baku, pelaksanaan produksi dan sistem pemasaran, (3) promosi dan penyediaan informasi peluang usaha kepada dunia usaha dan (4) pengembangan sistem pendukung, yang meliputi sumberdaya manusia, teknologi, prasarana fisik, sistem insentif, kelembagaan maupun jasa-jasa penunjang lainnya. Sehubungan dengan uraian tersebut, maka penelian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antar kelembagaan yang terlibat dalam pengembangan agroindustri pada kawasan sentra produksi, mengidentiikasi faktor-faktor strategis dalam rangka pengembangan agroindustri pada kawasan sentra produksi, menyusun strategi pengembangan agroindustri pada kawasan sentra produksi dan mengkaji kelayakan pendirian agroindustri unggulan yang berbasis pada komoditi unggulan di Kabupaten Tebo. Kegiatan penelitian dilakukan di Kabupaten Tebo yang pelaksanaannya dilakukan pada bulan Agustus - November 2000 dengan menggunakan pendekatan komprehensif melalui metode deskriptif dan kuantitatif. Dari hasil analisis pengembangan agroindustri yang telah dilakukan diketahui bahwa ada 4 (empat) jenis komoditi yang merupakan komoditi khas daerah Kabupaten Tebo yang meliputi komoditi duku, durian, karet dan kelapa sawit. Dengan menggunakan Metoda Perbandingan Eksponensial diperoleh skor yang menjadi dasar penentuan komoditi prioritas di Kabupaten Tebo yaitu : (1) karet (73.380), (2) kelapa sawit (29.234), (3) durian (7.568) dan (4) duku (2.864). Sementara untuk kawasan strategis bagi pengembangan agroindustri yang berbasis pada komoditi karet adalah : (1) wilayah pengembangan I yang meliputi Kecamatan Tebo llir dan Tebo Tengah (325.639), (2) wilayah pengembangan Ill meliputi Kecamatan Rimbo Bujang dan VII Koto (291.347) dan (3) wilayah pengembangan II meliputi Kecamatan Sumay dan Tebo Ulu (186.673). Prioritas agroindustri unggulan yang akan dikembangkan adalah : (1) agroindustri karet sheet (184.253), (2) agroindustri crepe (85.020) dan (3) agroindustri lateks dadih (76.922). Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa pengembangan agroindustri unggulan yang berbasis komoditi karet layak untuk dikembangkan, dengan NPV Rp. 110.404.881, -, IRR 29,20 %, PBP 3 tahun 3 bulan dan Net BIC 1, I1 . Umur ekonomis proyek adalah 10 tahun. BEP dicapai pada saat penjualan Rp. 453.926.534,- pertahun. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metoda ISM (interpretative structural modeling) diketahui bahwa kelembagaan yang terlibat dalam pengembangan agroindustri di Kabupaten Tebo berada dalam satu level dan memiliki kekuatan pengaruh dan tingkat ketergantungan antara satu sama lainnya relatif cukup tinggi. Formulasi strategi pengembangan agroindustri di Kabupaten Tebo ditetapkan berdasarkan visi pembangunan khususnya pada bidang ekonomi yaitu sektor pertanian yang kuat dengan dukungan sektor industri yang tangguh untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan misi untuk meningkatkan peran sektor pertanian melalui peningkatan kualitas, kuantitas, nilai tambah produk yang dihasilkan dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan asli daerah. Faktor-faktor strategis untuk mengembangkan agroindustri karet sheet di Kabupaten Tebo sebagai berikut : (a) faktor kekuatan yang meliputi ketersediaan lahan, ketersediaan tenaga kerja, budaya masyarakat, kontribusi terhadap perekonomian daerah, kelancaran transportasi, akses kebahan baku dan lokasi yang strategis, (b) faktor kelemahan yang meliputi aspek kelembagaan, lemahnya SDM petani, teknologi sederhana, produktivitas rendah dan lemahnya koordinasi, (c) faktor peluang yang meliputi perkembangan industri hilir, kebijakan pemerintah, globalisasi, perkembangan teknologi dan terbukanya jalur ekspor, (d) faktor ancaman yang meliputi perkembangan produk subtitusi, tingkat suku bunga, alih fungsi lahan, serangan hama dan fluktuasi harga. Untuk menganalisis lingkungan yang mempengaruhi suatu kegiatan organisasi, maka secara umum lingkungan tersebut dibagi dalam dua kategori yaitu lingkungan ekstemal dan lingkungan intemal. Lingkungan ekstemal terdiri dari : (1) lingkungan umum yang meliputi faktor ekonomi, sosial budaya, politik dan hukum, dan faktor teknologi. (2) lingkungan industri yang meliputi ancaman pendatang baru, ancaman barang pengganti, kekuatan tawar menawar pemasok, kekuatan tawar menawar pembeli dan persaingan dari perusahaan sejenis. Lingkungan intemal terdiri dari sumberdaya, posisi pasar dan kegiatan produksi dan operasi. Dari analisis faktor ekstelnal menggunakan matrik evaluasi diketahui bahwa peluang yang harus dicermati dalam rangka pengembangan agroindustri karet sheet di Kabupaten Tebo adalah perkembangan industri hilir, ha1 ini dipresentasikan dengan besaran bobot yang diperoleh yaitu 0,44. Sementara untuk ancaman yang harus dicermati adalah perkembangan produk subtitusi yang dipresentasikan dengan bobot sebesar 0,12. Secara keseluruhan, faktor ekstemal tersebut telah direspon relatif cukup baik dimana total skor yang diperoleh adalah sebesar 2,64. Ini berarti pemerintah daerah dalam menghadapi dinamika lingkungan ekstemal memiliki posisi relatif yang cukup kuat, oleh karenanya dapat dinyatakan bahwa pemerintah daerah relatif mampu memanfaatkan peluang yang secara bersamaan mampu untuk menghindari ancaman yang ada. Hasil analisis faktor intemal berdasarkan matrik evaluasi menyatakan bahwa ketersediaan tenaga kerja dan budaya masyarakat merupakan faktor kekuatan yang harus dicermati, hal ini didasari oleh bobot untuk masing-masing faktor tersebut sebesar 0,12. Sementara aspek kelemahan yang harus diperhatikan adalah lemahnya koordinasi yang dipresentasikan dengan bobot sebesar 0,09. Secara umum, kondisi intemal yang berdampak terhadap pengembangan agroindustri di Kabupaten Tebo telah direspon cukup baik yang ditandai dengan skor 3,14. Kondisi ini berimplikasi bahwa secara intemal posisi Kabupaten Tebo relatif cukup kuat dalam memanfaatkan kekuatan yang ada dan secara bersamaan mampu meminimalkan kelemahan yang dimiliki. Bertitik tolak dari faktor-faktor strategis seperti yang telah diuraikan tersebut, maka dengan menggunakan metoda SWOT dihasilkan 8 (delapan) strategi yang merupakan kombinasi dari kekuatan-peluang, kekuatan-ancaman, kelemahan peluang dan kelemahan-ancaman, yaitu: (1) pembangunan industri pengolahan, (2) pengembangan sentra produksi, (3) bantuan modal, (4) pengembangan pusat informasi pertanian, (5) pengembangan lembaga agribisnis, (6) pengembangan riset and development, (7) bimbingan dan penyuluhan dan (8) penanganan pasca panen. Dari hasil pembahasan yang telah dilaksanakan, maka dapat disarankan halhal sebagai berikut: (1) kelayakan pengembangan agroindustri di Kabupaten Tebo, perlu dikaji lebih lanjut secara menyeluruh yang menyangkut aspek sosial ekonomi, sosial budaya dan aspek teknologinya, (2) perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menilai peluang pengembangan komoditi unggulan lainnya seperti komoditi kelapa sawit dan (3) perlu diformulasikan sistem pengambilan keputusan yang obyektif dan efektif untuk meminimalkan terjadinya konflik antar kepentingan masing-masing instansi yang terkait terhadap pengembangan komoditi unggulan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Agribisnis, Agroindustri, Manajemen Strategi, Pengembangan Wilayah, Kawasan Sentra Produksi, Analisis SWOT, Analytical Hierarchy Process, Metode Perbandingan Eksponensial, Interpretative Structural Modelling, Kelayakan Proyek, Komoditi Unggulan, Agroindustri Unggulan, Karet
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 06 Jan 2012 00:09
Last Modified: 06 Jan 2012 00:09
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/981

Actions (login required)

View Item View Item